selalu “on the right side”

Jumat adalah hari yang paling aku rindukan disetiap minggu. Entahlah, nyaman saja dengan hari itu. Kesekolah dengan baju pramuka yang bawahannya celana, sekolah yang cepat usai, ada waktu berleha leha saat laki laki solat jumat, sesekali ada kajian di musalla. Dan jumat tetap saja begitu syahdu bagiku walau hari itu ada pelajaran buk icha. Jika ingin tau tentang buk icha baca saja cerita yang judulnya run! run! Run!

Biasanya sepulang sekolah di hari jumat, karena waktu makan masih lama kami sering berhenti di kantin bang amir. Aku dan fikri. Kadang kadang ada maya dan uja juga.. Penuh disesaki dengan siswa siswa lain. Dan yang kami tuju cuma satu, mie bang amir.

“Bang, tambahin daginglah”, kata ku.

“Iya mutia”, jawab bang amir. Kadang kadang mienya malah sudah selesai di masak ketika kami pulang. Jadi tidak perlu berebutan. Bang amir memang the best.

Sampai di barak. Semua terlena dengan aktivitas masing masing. Iyes. Ini jam leha leha di sela sela salat jumat seperti kata ku tadi. Ada yang baca novel, ada yang berkumpul di satu kamar untuk lucu lucuan, ada yang tidur, dan aktivitas lain. Aku dan fikri seringnya memilih makan. Menghabiskan mie yang sebungkus berdua atau dua bungkus bertiga dengan maya atau kadang kadang uja. Setelahnya aktivitas favorit kami “tidur”.

“may, bangunin ya kalau ada kajian”, kata ku. Dan maya selalu menjawab “iya”. Ah mata ramahku. Kalau kami memilih tidur dan anak barak memilih melakukan hobinya, maka si mata ramah alias maya memilih menyuci. Menyuci apa yang tidak bisa di cuci kakak cuci kami berdua.

Selalu, setiap siang jumat dia mencuci. Tidak pernah alpa walau satu minggu dan tidak pernah tergoda walau melihat kami sedang asik asiknya tidur di tengah siang jumat yang syahdu. Sesekali saat ingin tidur juga seperti kami, dia absen dari acara makan makan mie bang amir. Pulang sekolah dia bergegas ke asrama dengan tas hijaunya tanpa banyak bicara. Karena dia memang begitu. Cool girls, bicara yang baik dan penting saja. Lalu ganti pakaian dan langsung berjibaku dengan cuciannya. Setelah itu dia tidur tenang sama seperti kami.

Aku sangat kagum padanya. Kagum sekali. Godaan badai seperti aku dan fikri tidak pernah menyulutkan sikap disiplinnya. 3 tahun dia bertahan dan jarang sekali tergoda. Ah, katanya “aku ngak suka nunda nunda mut”. Iyes may. You are the best.

Pernah sesekali aku usil. “May, aku mau juga lah nyuci jumat siang “, kata ku.

“Yaudah, nyuci terus mut”, katanya. “nti aku nyuci habis qe nyuci”. Katanya lagi sambil tersenyum. Wowww. Orang ini, baik sekali.

Tapi, aku tetap aku. Terlena di saat jumat siang. Selesai makan aku ingin tidur. “jadi nyuci mut? “, Tanya maya.

“hehehehehe, udah malas may. Qe aja”, kata ku. Tidak banyak bicara, diambil ember birunya dan dia pergi mencuci. Disiplin sekali.

Tidak hanya soal cuci mencuci, si mata ramah ini juga disiplin dalam semua hal. Jika pergi jam 8 maka satu jam sebelumnya dia sudah bersiap siap “aku malas buru buru mut”, urusan mandi? Jangan ditanya, tubuhnya punya alarm sendiri. Apapun cerita pukul 5 sore teng, dia harus mandi. Belum lagi kalau urusan PR selalu selesai jauh jauh hari. Makan? Selalu. Tidak pernah absen. Walau makannya tidak banyak, tapi dia selalu makan diruang makan. Baju? Tidak pernah berserakan. Buku? Tidak pernah ditumpuk tumpuk. Kaos kaki? Tidak pernah berceran. Hidupnya on the right side every day.

Bertahun tahun setelahnya aku tetap hidup dengan si mata ramah itu. Seperti yang pernah ku bilang, bersamanya hingga kami tumbuh menjadi wanita dewasa yang sedang mekar. Dan selama itu pula sifat disiplin ini tidak pernah lekang. Jika minum gelasnya satu. Selalu mengomel saat aku dan adik adik bertukar tukar gelas seharian. “ini semua gelas qe kan mut?”, katanya sambil menunjuk 3 gelas berbeda di atas meja, “hehehe, iya may”. Kalau minggu jatah kepasar, ya ke pasar. Kalau aku menyuci seminggu sekali dia menyuci seminggu 3 kali. “ngak sanggup aku sekaligus mut, jadi kapan sempat walau dikit aku cuci terus”. Huft. Kamarnya selalu bersih dan badannya selalu wangi. Semua barang ditempatkan di tempat yang sama. “jangan serakin lagi mut”. Selesai masak kompor selalu tidak pernah absen di lap. “goreng tempe kalau bisa jangan tumpah tumpah”. Jika dia mencuci piring? Tempat cuci belakang bersih. Darinya aku banyak belajar. Walau sesekali aku melawan, saat jauh kata katanya lah yang tergiang ngiang.

Misalnya saat pulang kerumah dan aku memasak sendiri. Akhirnya aku sadar mengapa tepung goreng tempe seharusnya tidak berceceran di kompor. “karena susah dibersihkan”. Oleh karena itu hati hati sekali aku memasak tempe itu. Atau saat mencuci piring, sisa makanan yang berserakan di lantai selalu aku bersihkan. Iyes, mamak sering linglung dulu saat aku cuci piring, tapi sekarang tidak lagi. Anak gadisnya sudah tau diri. Ah, wanita itu.

“kapan aku bisa seperti qe may?”

“apa dulu,aku ngak ada apa apa nya e”, katanya. Ah selalu. Selalu merendah gadis itu.

Dia si mata ramah panutan ku. Dia yang selalu in the right side. Dan selalu disiplin. Sedikit bicaranya banyak kerjanya. Loup u may. “sini cium sekali”canda ku. “is, gak mau aku. Bau jigong nanti”, katanya. Dan akhirnya kami tertawa bersama.

Advertisements

4 thoughts on “selalu “on the right side”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s