saat laki laki norak

Pernah lihat kerumunan wanita di sebuah toko baju karena ada diskon? Atau wanita berebutan di depan toko kain saat ada diskon? Atau sebuah toko pecah belah yang sesak oleh wanita saat lebaran? Pasti sering dan sudah maklum. Karena wanita memang begitu. Sukanya belanja.

Atau pernah lihat wanita yang kalau kemana mana selalu on, make up tebal yang muka dan tangan warnanya beda, atau wanita yang bling bling? Kemana mana selalu pakai perhiasan yang kalau kena cahaya akan berkilau? Atau wanita yang selalu tampil modis, ngak peduli dimanapun yang penting tetap dengan high heels? Pasti pernah, yah namanya juga wanita, suka yang cantik cantik. Padahal terkadang mereka kelihatan norak. Norak disini adalah berlebihan sesuai dengan kamus besar bahasa indonesia. Tapi, tetap saja, entah karena terlalu sering terpapar, terkadang kita bilang “biasa wanita”.

Tapi, seberapa sering kita melihat seorang laki-laki mengerumi sebuah toko baju yang sedang diskon? Atau berlomba lomba ke toko gadget? Atau rela desak desakan di sebuah pusat perbelanjaan karena sedang ada sale? Jarang kan? Aku pribadi sih jadi melihatnya. Kalau pun ada sale baju pria di pusat perbelanjaan, yang biasa ngerumunin sih gak jauh jauh, ibu ibu juga. Karena memang biasanya laki laki seperti itu. Simple, ngak suka rebut rebutan. Kalau beli barang dengan harga mahal, sekali beli selesai.

Dalam berpakaian pun, lelaki simple. Tergantung acara. Bisa dengan kaos, kemeja, atau sesekali jas di padu celana. Sedikit aksesoris seperti jam tangan. Selesai. Seberapa sering kita lihat laki laki yang bling bling seperti wanita? Hobinya tindik sana, tindik sini? Rambut di cat warna warni? Sehingga terlihat norak alias berlebihan? Ada, tapi tidak sesering kita melihat wanita dalam kata norak versi berbeda kan? Iya, karena pada dasarnya laki laki itu simple saja.

Tapi, sejak laki laki demam giok saat ini, semua berubah. Mereka jadi suka mengerumi penjual giok, kios kios yang menjajakan giok, setiap pembicaraan ngak jauh jauh dari bio solar. Suatu hari aku pernah lewat warung kopi. Kenapa ya, rame sekali orang di satu sudut warung kopi itu. Akhirnya ketauan, ternyata ada yang jualan giok disana, beuh. Aku juga pernah ikut ayah dan temannya berburu giok, jauh ke dataran tinggi gayo, aceh tengah. Sangking tingginya, kalau lihat kiri kanan putih semua, alias awan, aku tidak tau pasti kami berada pada ketinggian berapa, tapi yang pasti perjalanan kami terus mendaki. Sepanjang perjalanan cerita teman ayah hanya giok, giok, dan batu giok. Beuh 12 jam perjalanan dan sepanjang itu giok jadi topik utama. Abang juga bergetar hatinya saat aku cerita “kemarin aku ke takengon, cari penjual giok”, “kok ngak beli satu untuk abang?”, itu abang ku. Ayah lain cerita “ayah ada dikasih batu sama kawan dari melaboh, ayah tarok di laci meja. Eh besoknya udah hilang. Palak x ayah”, itu ayah ku.

Selain perubahan sikap, laki laki juga mulai berubah gaya. Biasanya ada sih yang pakai cincin, tapi beberapa. Tapi sekarang, rata rata tangan udah ada cincinnya. Tidak hanya satu tangan tapi lima tangan, mulai dari jempol, telunjuk, jari tengah, manis hingga ke kelingking, penuh giok. Pakeknya sekalian. Belum lagi ukurannya yang segedek buah belimbing. Aku pernah melihat ini beberapa kali. Ada seorang bapak masuk toko gadget waktu itu, tangannya yang bergelimpangan giok bukannya membuat beliau makin gagah malah menurut terlihat norak. Norak sekali.

Kalau cerita ayah, alasan orang memakai giok beragam. Ada yang ikut ikutan, ada yang melihat giok itu perhiasan, malah ada yang bilang dengan memakai giok, tidak makan pun kenyang. Kalau versi kawan ayah, orang yang pakai giok, status sosialnya terangkat. Contohnya abang, dengan pakek giok bisa kenal banyak orang hebat yang tertarik lihat giok abang terus jadi teman. Itu katanya. Yah, seperti itulah, mulai dari alasan biasa, klasik hingga alasan paling norak. “merasa kenyang walau tidak makan”. Itu menurut ku.

Yap, apapun alasannya. Baru kali ini selama hidup, aku melihat kaum laki laki berlebihan dengan sesuatu. Yang bahasa kerennya aku sebut norak. Apapun itu, kembali ke masing masing orang. Setiap orang punya seleranya masing masing dan itu hak mereka. Tapi apapun itu, sebaiknya jangan berlebihan. berlebihan menganggap kasiatnya, berlebihan menggilainya, berlebihan menggunakannya dan berlebihan mengexploitasi alam hanya untuk mencarinya. Yang sedang sedang saja, jauh lebih elok dan lebih indah. Itu sih menurut ku saja.

Dan menurut ku ini demam giok. Layaknya demam yang muncuk tiba tiba, hilangnya juga tiba tiba. Jangan terlalu terlena dengannya. Mari sikapi dengan baik dan jangan jadi norak karenanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s