jangan malas jika di ajak ke DAPUR

Ketika kita kecil, semua hal dipersiapkan mamak atau ibu kita. mulai bangun pagi hingga tidur dan bangun lagi. Makanan sudah disiapkan, baju sudah dicuci, kamar sudah dibersihkan, dan di antar kesekolah. Hidup hanya sesulit PR B.inggris dulu. Pernah kah terpikir, bahwa semua akan berbalik pada suatu waktu. Bukan lagi disiapkan malah kita yang harus menyiapkannya.

Banyak hal yang bisa terjadi,entah itu ibu kita sakit, mereka pergi, harus merantau atau kita akan menikah dan menjadi ibu sungguhan. Maka mau tidak mau kita harus berganti tempat melakukan apa yang sering ibu lakukan untuk kita.

Mungkin bagi sebagian besar orang, pergantian tempat ini bisa terjadi sangat lama bahkan setelah mereka memiliki anak pun, mereka masih dibantu orang tua. Tapi bagi sebagian yang lain, kebalikan itu bisa datang jauh lebih cepat. Maka mempersiapkan diri sedini mungkin jauh lebih bijaksana.

Di antara banyak hal yang ibu lakukan, satu hal yang paling besar nilainya jika kita bisa melakukannya adalah memasak. Salah satu hal yang selalu ibu lakukan tujuh hari dalam seminggu.

Bisa kebayang suatu saat semua berbalik? Seperti yang sudah disebutkan. Ibu sakit, pergi, atau kita sendiri merantau dan menikah maka tidak ada yang memasak. Semua pasti kerepotan. Mau tidak mau kita berada pada persimpangan banyak jalan. Akankah kita masak, beli atau ambil rantang dengan semua resiko?

Tergantung masing-masing orang. Tapi, hal yang paling baik kita putuskan adalah tetap memasak sendiri. Ini lah yang aku rasakan. Hidupku cepat berbalik dan ketika dalam persimpangan aku akhirnya memilih memasak sendiri.

Waktu itu aku harus merantau, jauh dari orang tua. Menjadi anak kos, mulai dari di masak ibu kos, beli di warung, hingga ambil rantang sudah aku alami. Semua ribet. Hingga aku tidak punya pilihan dan memilih masak sendiri. Untungnya ada teman yang membantu. Teman satu kos. Kami memasak dengan ilmu turunan dari mamak teman kos ku. Namanya maya. Maya sangat telaten masak. Walau tidak semahir ibunya setidaknya dia lah chief ketika memasak.

“potong kentangnya gini, cabenya 7 aja, tunggu air mendidih, kalau goreng ikan lihat udah merah atau belom ekornya baru balek”. begitulah. Aku ikut saja. Dulu ketika di ajak mamak memasak aku sangat malas. Jadi, aku tidak punya banyak pengalaman dalam masak memasak. Berbeda dengan maya. Semua keahliannya diperoleh karena sering ikut mamaknya masak didapur. katanya mamaknya akan mengomel jika dia menolak.

“yang aku lihat, mamak aku gini…..” atau sesekali “mamak aku ngak gitu”, itu katanya saat melakukan sesuatu di dapur. tidak bisa aku bayangan kalau maya tidak ada. Pasti rencana masak memasak ini berantakan.

Disinilah aku merasakan betapa pentingnya anak perempuan di ajak mamaknya kedapur sedini mungkin. Tidak memasak pun tak apa, cukup lihat saja sudah menjadi ilmu yang amat berguna. Karena anak anak punya memori besar untuk itu. Diingat karena dilihat.

Enak masakan kami? Seperti roda yang naik turun, kadang di atas kadang di bawah begitulah. Kadang enak, kadang keasinan, keasaman, kemanisan, kepedasan. Tapi, karena masakan sendiri, mau tidak mau harus habis.

Tiga tahun berlalu. Yang hanya bisa masak ikan goreng dan sayur rebus akhinya kami bisa masak banyak variasi. Setidaknya “bisa untuk dimakan sendiri”.

Selain bisa untuk makan sendiri, memasak juga sangat banyak manfaat. Misalnya kalau kami menjumpai masakan orang lain enak kami tidak sungkan bertanya “bumbunya apa?”, “gemana cara buatnya”, setidaknya ada bahan pembicaraan. Kalau lagi lapar dan tidak ada uang, asal ada nasi, cabe dan telor, perut ngak jadi kelaparan. Bisa menghemat pengeluaran apalagi kalau sedang sibuk diluar, kami bawa bekal sendiri dari rumah.

Hidup terus berjalan dan untuk kedua kalinya. Hidup ku berbalik. Mamak sakit jadi semua aktifitas masak dihentikan. Ketika pulang ke rumah, mau tidak mau aku kembali kepersimpangan. Untuk kedua kalinya juga aku memilih memasak sendiri. Awalnya aneh, yang biasanya dimakan sendiri sekarang dimakan ayah dan mamak. Tapi, ketika mereka bilang “yes” untuk masakan aku yang tidak seberapa itu, bahagia luar biasa. Walau tidak membantu banyak, setidaknya dengan bisa memasak sedikit beban mamak terkurangi dan ayah bebas dari lapar. Ini manfaat lain bisa memasak.

Memasak juga sangat membantu saat bencana datang. Waktu itu kami kebanjiran. Air masuk ke rumah setinggi leher. Lampu dan air mati. Kami terjebak. Seandainya kompor berhasil diselamatkan maka sah kami tidak mengungsi dan bertahan di rumah dengan masakan ku. Untuk kesekian kalinya aku siap. Sayangnya kami tidak bisa menyelamatkan kompor. Jadi, dari pada mati kelaparan di tengah banjir, ayah memutuskan mengungsi.

Begitu banyak manfaat memasak lainnya.

Ayo, belajar memasak sedini mungkin. Jangan ogah saat diajak ke dapur oleh ibu. Memasak bukan soal bakat, ini hanya soal mau atau tidak, sering atau tidak. Karena kita tidak tau kapan hidup akan berbalik entah karena alasan apa. Dan saat itu datang kita siap. Menjadi penentu bagi perut kita sendiri dan mungkin bisa membantu banyak orang lain termasuk orang tua kita hanya dengan bisa memasak.sederhana. Lhok sukon 9/1/15

Ayo ke dapur
Ayo ke dapur
Advertisements

2 thoughts on “jangan malas jika di ajak ke DAPUR

  1. Jalan-jalan.. ketemu blog yang keren, tapi bacanya harus kayak baca koran, seret biji mata cepat2. Sebab tulisannya panjaaaaangg panjaaaaanggg. Hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s