SERASI

“Kalau mau siap siap pergi prosus, bilang ya fik” kata ku pada fikri sambil melemparkan padangan keluar jendela. Aku memilih tiduran sebentar setelah makan siang selesai. Asik saja menikmati siang melalui jendela kamar asrama ini. Langit putih biru yang cerah ditemani sepoi sepoi angin masuk melalui celah jendela. Prosus itu mirip les sore. Jika ingin tau lengkapnya baca saja cerita di tentang kegiatan lain.

“Aku juga lah tia”, kata fikri. Dia juga mengambil ancang ancang untuk tiduran. Masih lengkap dengan seragam sekolah.

“yaudah. May, Bilang bilang ya”, kata ku pada maya yang sedang membereskan tasnya di meja belajar. Hanya dia harapan terkahir.

“iyes. Tapi ini aku mau siap siap”. Katanya sambil terus berlalu keluar kamar. Padahal masih 30 menit lagi. Tapi selalu begitu. Dia yang pertama bergegas, lalu uja, fikri dan terakhir aku. Namun, mulai saat aku masuk kamar mandi hingga aku selesai, si mata ramah masih tetap di depan lemarinya. Dia sedang memilah milih baju untuk dikenakan.

Hasilnya memang tidak pernah mengecewakan. Selalu memawan. Sederhana yang elegan. Sore itu dia memakai jelbab kuning pudar, baju kuning dengan bordir dilengan dan lehernya lalu rok coklat kekuningan lengkap dengan kaos kaki putih bermotif kuning. Serasi.

Jika ingin pakai baju hijau, ada saja. Jelab hijau pudar di padu dengan rok hijau lumut. Cantik saja melihatnya. Dengan badan yang ramping, tubuh setinggi telinga ku, dia terlihat tidak hanya cantik tapi juga imut imut. apapun. Apapun yang dikenakan selalu tampak cantik dan seleranya soal fashion tidak usah diragukan lagi.

Perbendaharaan bajunya juga banyak. Jadi tidak heran jika ada keluar hari minggu, foto foto kelas, foto untuk buku tahunan, ada saja yang datang ke kamar untuk meminjam baju. “may, pinjam baju boleh?”. Dan si mata ramah selalu menjawab “boleh, mau yang mana?”. Ah, selalu

Kalau aku santai saja. Selalu mirip setengah gembel. Cukup dengan rok hitam dan jelbab hitam lalu baju di deretan teratas lemari di tambah kaos kaki bersih yang entah apa warnanya, aku sudah siap berangkat prosus. Makanya walau paling terakhir bersiap siap, aku tetap bisa berangkat bersama mereka.

Sampai aku tumbuh menjadi dewasa. Maya lah penasehat ku dalam berpakaian. “ini bagus may? Gemana biar ngak nampak gendut? Kalau gini aneh ngak? Pakek jelbab ini lucu ngak?”. Dan dia selalu punya jawaban. “menurut aku bagus mut”, “kalau menurut aku biasa aja”, “Biar ngak gendut jangan cari baju motifnya ke samping cari yang ke atas”, “mana ada aneh mut”, “jangan lah qe pakek celana tu sama baju tu, ngak nyambung mut”. Iyes, dia penasehat ku dan aku belajar banyak dari nya.

Kalau bagi ku dia penasehat, maka bagi adik adiknya dia adalah pusat fashion. Apapun yang dikenakan, esok lusa pasti akan di tiru adik adiknya. Bahkan jika pergi ke acara acara, maya lah penimbang baju adik adiknya, “pakek baju ini aja”, sarannya.

Suatu hari aku pernah bilang “may, qe jadi fashion blogger aja”.

“Apa itu mut?” tanya nya.

“Itu yang koment koment baju orang lain misalnya artis. Bagus ngak, dimana bagusnya. Atau jelek dan dimana jeleknya, qe kan pintar may masalah itu”, kata ku

“hahaha, entah apa apa qe bilang mut, mana bisa aku”, katanya.

Ah, Selalu merendah. Bahkan saat aku katakan “ih, cantik kali qe may”, saat dia memakai baju bercorak putih, kuning dan biru elektrik ditutupi kardigan putih di tambah jelbab kuningnya. Auranya keluar.

Dan untuk entah ke berapa kalinya dia selalu menjawab “jangan gombalin aku mut”. Padahal sejujurnya itu tulus dari dalam hati. Kamu selalu serasi.

“nanti jika aku menikah, temani aku ya saat membeli barang barang”, kataku bercanda.

” beres mut”, jawabnya dan kami tertawa.

Begitulah dia yang imut imut. Si mata ramah ku. Penasehat terbaik dalam urusan tata kelola busana yang aku punya. Enak saja memandang mu. Serasi dan selalu hangat. Terus indah ya sobat. Dan sekali lagi “kau cantik dan aku tidak pernah gombal dengan itu”.

Advertisements

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Satu kereta gantung di San Francisco mengangkut 60 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 400 kali di 2014. Jika itu adalah kereta gantung, dibutuhkan sekitar 7 perjalanan untuk mengangkut orang sebanyak itu.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

selalu “on the right side”

Jumat adalah hari yang paling aku rindukan disetiap minggu. Entahlah, nyaman saja dengan hari itu. Kesekolah dengan baju pramuka yang bawahannya celana, sekolah yang cepat usai, ada waktu berleha leha saat laki laki solat jumat, sesekali ada kajian di musalla. Dan jumat tetap saja begitu syahdu bagiku walau hari itu ada pelajaran buk icha. Jika ingin tau tentang buk icha baca saja cerita yang judulnya run! run! Run!

Biasanya sepulang sekolah di hari jumat, karena waktu makan masih lama kami sering berhenti di kantin bang amir. Aku dan fikri. Kadang kadang ada maya dan uja juga.. Penuh disesaki dengan siswa siswa lain. Dan yang kami tuju cuma satu, mie bang amir.

“Bang, tambahin daginglah”, kata ku.

“Iya mutia”, jawab bang amir. Kadang kadang mienya malah sudah selesai di masak ketika kami pulang. Jadi tidak perlu berebutan. Bang amir memang the best.

Sampai di barak. Semua terlena dengan aktivitas masing masing. Iyes. Ini jam leha leha di sela sela salat jumat seperti kata ku tadi. Ada yang baca novel, ada yang berkumpul di satu kamar untuk lucu lucuan, ada yang tidur, dan aktivitas lain. Aku dan fikri seringnya memilih makan. Menghabiskan mie yang sebungkus berdua atau dua bungkus bertiga dengan maya atau kadang kadang uja. Setelahnya aktivitas favorit kami “tidur”.

“may, bangunin ya kalau ada kajian”, kata ku. Dan maya selalu menjawab “iya”. Ah mata ramahku. Kalau kami memilih tidur dan anak barak memilih melakukan hobinya, maka si mata ramah alias maya memilih menyuci. Menyuci apa yang tidak bisa di cuci kakak cuci kami berdua.

Selalu, setiap siang jumat dia mencuci. Tidak pernah alpa walau satu minggu dan tidak pernah tergoda walau melihat kami sedang asik asiknya tidur di tengah siang jumat yang syahdu. Sesekali saat ingin tidur juga seperti kami, dia absen dari acara makan makan mie bang amir. Pulang sekolah dia bergegas ke asrama dengan tas hijaunya tanpa banyak bicara. Karena dia memang begitu. Cool girls, bicara yang baik dan penting saja. Lalu ganti pakaian dan langsung berjibaku dengan cuciannya. Setelah itu dia tidur tenang sama seperti kami.

Aku sangat kagum padanya. Kagum sekali. Godaan badai seperti aku dan fikri tidak pernah menyulutkan sikap disiplinnya. 3 tahun dia bertahan dan jarang sekali tergoda. Ah, katanya “aku ngak suka nunda nunda mut”. Iyes may. You are the best.

Pernah sesekali aku usil. “May, aku mau juga lah nyuci jumat siang “, kata ku.

“Yaudah, nyuci terus mut”, katanya. “nti aku nyuci habis qe nyuci”. Katanya lagi sambil tersenyum. Wowww. Orang ini, baik sekali.

Tapi, aku tetap aku. Terlena di saat jumat siang. Selesai makan aku ingin tidur. “jadi nyuci mut? “, Tanya maya.

“hehehehehe, udah malas may. Qe aja”, kata ku. Tidak banyak bicara, diambil ember birunya dan dia pergi mencuci. Disiplin sekali.

Tidak hanya soal cuci mencuci, si mata ramah ini juga disiplin dalam semua hal. Jika pergi jam 8 maka satu jam sebelumnya dia sudah bersiap siap “aku malas buru buru mut”, urusan mandi? Jangan ditanya, tubuhnya punya alarm sendiri. Apapun cerita pukul 5 sore teng, dia harus mandi. Belum lagi kalau urusan PR selalu selesai jauh jauh hari. Makan? Selalu. Tidak pernah absen. Walau makannya tidak banyak, tapi dia selalu makan diruang makan. Baju? Tidak pernah berserakan. Buku? Tidak pernah ditumpuk tumpuk. Kaos kaki? Tidak pernah berceran. Hidupnya on the right side every day.

Bertahun tahun setelahnya aku tetap hidup dengan si mata ramah itu. Seperti yang pernah ku bilang, bersamanya hingga kami tumbuh menjadi wanita dewasa yang sedang mekar. Dan selama itu pula sifat disiplin ini tidak pernah lekang. Jika minum gelasnya satu. Selalu mengomel saat aku dan adik adik bertukar tukar gelas seharian. “ini semua gelas qe kan mut?”, katanya sambil menunjuk 3 gelas berbeda di atas meja, “hehehe, iya may”. Kalau minggu jatah kepasar, ya ke pasar. Kalau aku menyuci seminggu sekali dia menyuci seminggu 3 kali. “ngak sanggup aku sekaligus mut, jadi kapan sempat walau dikit aku cuci terus”. Huft. Kamarnya selalu bersih dan badannya selalu wangi. Semua barang ditempatkan di tempat yang sama. “jangan serakin lagi mut”. Selesai masak kompor selalu tidak pernah absen di lap. “goreng tempe kalau bisa jangan tumpah tumpah”. Jika dia mencuci piring? Tempat cuci belakang bersih. Darinya aku banyak belajar. Walau sesekali aku melawan, saat jauh kata katanya lah yang tergiang ngiang.

Misalnya saat pulang kerumah dan aku memasak sendiri. Akhirnya aku sadar mengapa tepung goreng tempe seharusnya tidak berceceran di kompor. “karena susah dibersihkan”. Oleh karena itu hati hati sekali aku memasak tempe itu. Atau saat mencuci piring, sisa makanan yang berserakan di lantai selalu aku bersihkan. Iyes, mamak sering linglung dulu saat aku cuci piring, tapi sekarang tidak lagi. Anak gadisnya sudah tau diri. Ah, wanita itu.

“kapan aku bisa seperti qe may?”

“apa dulu,aku ngak ada apa apa nya e”, katanya. Ah selalu. Selalu merendah gadis itu.

Dia si mata ramah panutan ku. Dia yang selalu in the right side. Dan selalu disiplin. Sedikit bicaranya banyak kerjanya. Loup u may. “sini cium sekali”canda ku. “is, gak mau aku. Bau jigong nanti”, katanya. Dan akhirnya kami tertawa bersama.

penjahat lugu

Dari sederetan teman laki laki yang kami punya, menurut aku yusralah yang paling lucu dan paling ngak jelas. Namun, aku sempat juga di tipu oleh nya. Jadi yusra mirip penjahat berhati lugu.

Suatu malam. Setelah makan malam, ketika aku belajar matematika untuk ulangan besok. Tiba tiba sebuah sms masuk ke hp ku tercinta.

“mut, aku dirumah sakit umum. Kepala aku bocor dipukul org yang naek rx king, honda aq dirampok, aq pergi sama imam , dy belom sadar. Kami masih dirumah sakit ne”. Tertulis pengirimnya adalah yusra.

Aku panik sesaat. Dia teman sekelas ku. Segera aku ke kamar 9, base camp kami. Lalu menceritakan semua pada teman teman. Sibuk. Kami sibuk menelpon balik yusra tapi no respon, menelpon imam tidak ada jawaban, menelpon anak kelas yang lain tidak ada tanggapan.

15 menit kemudian masuk sms lanjutan. “aku berbohong”. Pengirim yusra. Ahk, aku kesal, kesal hinggal ke tulang di permainkan begini. Awas yusra akan aku balas kau. Tunggu saja.

Tidak lama setelahnya. Waktu pembalasan tiba.

Aku balas dendam. Tepatnya hari itu bukan hanya aku yang menaruh dendam pada yusra tapi juga putri phouna alias pp. Siang, pak suriadi guru fisika tidak masuk. Kelas kosong. Kami bebas berexpresi kali ini. Karena moment ini jarang, kami sengaja berdiri di depan pintu kelas. Menghadang semua yang datang. Dan target utama kami datang. Yusra. Kami menghadangnya di depan pintu.

“Eh, dikit lu. Aku mau lewat”,kata yusra.

“Enak aja lewat lewat”, kata ku.

“Nyayi lu sro”, kata pepe.

“buat ketawa pepe sro”, sambung fikri yang tiba tiba datang. Sesaat semua bersemangat ngerjain yusra.

Setelah lelah berdebat dan 1 lawan 3 akhirnya yusra menyerah. “yaudah, aku nyanyi. Tapi abis tu aku masuk ya”, kata nya.

“OKE”, jawab kami serentak.

Dan yusra pun bernyayi.

“CELANA JUMBRAI LAMBAI LAMBAI KATA ORANG UDAH KAYAK SEPRAI,,,,,, PAKEK SEPATU 10 CM KATA ORANG AWAS JATUH NANTI…TAPI AKU SEPATU TINGGU PD KU JUGA TINGGI…..”

Hahahahahaha.

“Gak asik, joget lah yus”, kata pepe.

Yusra mengambil ancang ancang dan mulai bergerak seiring dengan lirik lagu aneh yang di nyanyikannya. Mungkin dia lelah berdebat dan gamang melihat ksmi yang gagah gagah ini. Geli. Kami sangat geli siang itu. Melihat dia yang selama ini selalu sangat cepat ketika berbicara, tak punya hati saat bercanda harus bernyanyi sambil berjoget bodoh di depan kelas.

“Ulang sekali lagi lah yus”,kata ku.

Dan sekali lagi yusra bernyanyi.

Hahahahahahaha. Akhirnya yusra masuk. Bel ganti pelajaran berbunyi. Siang ini, aku, pepe dan fikri puas tertawa. Sekali lagi kau menjahati kami yusra. Tunggu saja. Hahahahaha.

run! run! run!

Siapa yang tidak kenal buk icha? Guru olah raga tunggal setelah pak najemi pindah. Tidak ada pengganti setelahnya. Maka telak beliaulah pemegak tambuk olah raga selanjutnya di mosa. Dan beliau wanita. Tinggi, berbadan tegap bak atlet tanpa neko neko. Beliau memegang tidak 3 kelas tapi 9 kelas sekaligus. Jumlah yang sangat fantastis. Tapi tidak pernah mengeluh. Hanya kami yang akhirnya menggerutu.

Moment yang paling menakutkan dari serangkaian kegiatan olah raga di mosa adalah lari buk icha. Lari keliling mosa 4 kali putaran. Hahahaha. Biasanya setiap semester kegiatan ini wajib ada, wajib bahkan bisa 2 x. Jalurnya mulai dari x ipa 1, melewati persawahan, menanjak di depan musalla, lanjut ke lapangan, berbelok di mawar, lanjut melintasi anggrek, kantin, kantor kepala sekolah hingga sampai ke titik semula. Tidak tanggung tanggung ada waktunya, yang melewati batas waktu yang beliau tetapkan biasanya 15 menit, langsung remedial. Alamat mengulang derita yang sama.

Ah,,,,. Seperti siang ini, setelah sebulan beliau cuti karena sakit, akhirnya beliau masuk lagi. Pembukaannya bukan latihan basket, rolling, kayang, jalan cepat, lempar takrau dll, tapi langsung lari keliling mosa 4x. Hahahahaha. Semua berusaha sekuat tenaga. Siang hari, 30 orang siswa dengan baju olah raga kuning bercampur hijau berlarian seperti hilang kendali. Semua yang melihat juga sudah paham mengenai ini.

Aku lari selalu tidak jauh jauh dari fikri. Dia penyemangatku. Katanya “lari itu yang penting kontinue walau dikit dikit, jangan diawal kencang terus ditengah banyak jalannya. Bagusnya pelan pelan tapi terus menerus”. Itu katanya. Dan aku menerapkannya disetiap lari ini. Apalagi dia selalu didepan ku, itu motivasi besar. Yang pertama sudah tertebak, laki laki pasti rahmat fitra mukti dan wanita nita, kedua dan seterusnya uja, irma, fikri dan aku. Siapa yang terakhir? Yang pria aku lupa kalau wanita maya salah satunya. Bagi maya olah raga adalah neraka dunia.

Kegiatan ini sama untuk semua kelas, tinggal tunggu waktu saja. Sehari setelah berlari lari itu. Bisa dibayangkan, sebulan tanpa olah raga tiba tiba kami berlari ria 4x putaran mosa. Yap, pegal linu. Terutama di bagian perut, keram sekali. Hahahaha, tertawa pun sakit.

“HAHAHAH, jangan buat ketawa, sakit kali perut ne”

“oh ya, baru siap lari kalian, kami besok lah”

. Inilah komentar familiar diantara kami. Dan karena daerah yang paling sakit adalah bagian perut maka muncul istilah baru di antara kami “new born baby sindrome”. Hahahahaha. Alahai, tapi karena olah raga inilah anak anak mosa kuat dan sehat. Makasih buk icha. Lari ini akan kami banggakan, walau esok lusa kami gendut tak terkira, gini gini ketika SMA kami sanggup lari keliling mosa 4 x, tidak pernah pingsan. Dan aku yakin setiap kita akan punya cerita masing masing mengenai Run! Run! Run! Ini Dan kami bangga itu.

kita punya gaya!

Seperti cerita sebelumnya. Bahwa begitu masuk SMA kegiatan kami makan, belajar dan tidur. Dengan sedikit bumbu disela selanya. Kami belajar dengan gaya kami sendiri.

Kalau aku suka sistem kebut semalam. Lebih afdol. Kalau belum deadline, PR belum aku selesaikan. Dan pukul 23.00 aku sudah harus tidur.

Kalau fikri dia tidak jauh berbeda seperti ku. Kebut semalam juga. Kadang kadang sangking asiknya dia belajar, dia bisa terlelap dengan buku menutup muka atau di atas perutnya sampai pagi.

Kalau uja dia belajar dengan kontinue, sambil mendengar musik, jalan jalan, atau bersama dengan anak barak lain. Jika buat PR kami sering kebut kebutan, biasanya uja meyelesaikan PR disela sela. Sela sela makan, sela sela pergi prosus. Yang pasti dengan cara demikian PR uja lebih cepat selesai dari pada kami.

jika aku dan fikri suka belajar di kamar maka uja sering diluar. Katanya lebih santai dan pukul 23.00 biasanya dia kembali keperaduan alias ke kamar. Untuk akhirnya kami sama sama tidur.

Nah, kalau si mata ramah alias maya, dia punya gaya yang lain lagi. Mirip uja. Belajarnya kontinue. Selalu dan selalu. Tulisanya? Masyaallah seperti dicetak. Cantik sekali. Walau pun mengantuk tulisannya tetap bisa dibaca. Gayanya belajar seperti tulisan pada gambar paling atas dari cerita ini.   Dia sangat tekun, ketekunan yang dibangun berlahan dan tidak kacang kacang. Tekun dalam mengerjakan apapun dan tekun dalam belajar. Kalau tidak rapi tidak sah. Dan Ditengah hingar bingar orang tertawa dia bisa belajar. “Kok rajin kali may?”, “ah, mana ada”, jawabnya. Selalu dan selalu merendah.

Yap, begitulah kami. Seperti apapun gayanya kami tetap punya 1 hal yang sama, tidur pukul 23.00 teng. Dan bangun pukul setengah 04.30 untuk maya dan uja dan pukul 05.00 untuk aku dan fikri. Maya dan uja selalu mandi sebelum subuh sehingga mereka bangun lebih awal sedangkan aku dan fikri bangun untuk salat subuh dan mandi setelahnya. Begitu terus siklus hidup kami. Mereka tidak pernah alpa. “sudah biasa”, katanya. dan entah bagaimana sifat disiplin mereka yaitu uja dan maya tidak turun sedikit saja kepadaku. Padahal nyaris 24 jam aku hidup dengan keterbiasaan itu. Ah biasa itu sungguh melalaikan

when i meet her

Masuk SMA adalah momok paling menakutkan bagiku. Terasa ngilu sekali mengingatnya. Namun saat pertama masuk sekolah, Itulah pertama kali aku mengenalnya. Si mata ramah. Maya. Jika tidak salah tanggal 17 juni 2005. Dia teman pertama ku. Seperti yang pernah aku ceritakan di “masuk asrama”.

Waktu terus berlalu hingga akhirnya Ternyata, tidak hanya matanya yang ramah namun juga sikap, isi bicaranya, tindakannya bahkan hatinya juga sangat ramah. Hangat. Sama seperti matahari yang terus di cari karena kehangatannya. Bagi ku dia adalah matahari yang terus menghangatkan hari hari yang gelap. Dia Sedikit demi sedikit mengikis ngilu.

Aku yang jahil, suka mengusiknya belajar, mengganggu saat tidur, membuatnya tertekan saat harus segera bersiap siap jika kita pergi, menirunya bicara saat itu salah dan semua keusilanku. Tidak pernah membuat nya marah. Hanya sekali jika tidak tahan lagi dia akan bilang “mut, jangan ganggu aku”. Selesai. Dan mata itu tetap saja hangat. Sehingga aku hanya sebentar berhenti lalu mulai usil lagi.

Dan sekali lagi, karena mata ramah itu pulalah aku akhinya terus mengikutinya kemana pun dia pergi. Ke ruang makan, ke musalla, bahkan kelas satu kami duduk berdua, menjemur pakaian, ketempat kakak kelas, keluar hari minggu. Iyes. Kemana pun. Kemana ada maya disitu ada mutia. Dia seperti magnet dan aku pakunya.

Sekalipun tidak pernah dia katakan “mengapa ikut ikut aku terus?”. Tidak pernah. Hanya sesekali ketika kami tumbuh dewasa dia meledekku “dulu, siapa yang ikut ikut aku?” candanya. Aku harus menerima kenyataan dan harus rela menjawab “aku”. Dan akhirnya kami tertawa bersama.

Ah, mata ramah itu. Ternyata dari awal aku mengekornya hingga aku jadi wanita cantik nan anggun diusia yang sedang mekar mekarnya, aku masih mengekor dibelakangnya. Kamu hangat sih may, makanya aku betah. Yes, terima kasih untuk semua kehangatnnya sahabatku. Orang sigli yang mandra guna. Dari perkenalan singkat inilah cerita ini dimulaiPicsArt_1422432479383

PicsArt_1422435605563

Merajut dan sabar

Selama memiliki banyak waktu senggang, aku menghabiskannya untuk merajut. Merajut hal sederhana seperti bros dan gelang. Eh, ternyata laku dijual. Untungnya tidak banyak, tapi lumayanlah. Lumayan bisa mengisi waktu kosong dari pada bengong, lumayan bisa mengenal adik adik imut yang setia membeli hasil rajutan ku, lumayan bisa tau toko yang menjual alat jahit menjahit, lumayan mengasah ide , lumayan dapat pengalaman bahwa berdagang itu tidak semudah yang dibayangkan, dan lumayan 1 resolusi sederhana ku selesai dari hasil penjualannya. Alhamdulillah.

Sesekali, ada teman yang datang kerumah. Ingin belajar katanya. Aku sih ” oke “. Sayangnya baru sebentar mencoba mereka langsung “ah, susah mut”, ” mut, kok ngak rapi ya?”, dan akhirnya mereka menyerah. Susah katanya. Padahal mereka baru sekali mencoba. Dulu ketika aku pertama kali belajar merajut, entah berapa kali aku membuat dan membuka lagi benang yang ku rajut. Hingga akhirnya benang benang itu kusut, keriting, dan terburai rusak. Tidak menyerah. Aku ambil benang lagi, merajut lagi, buka lagi hingga aku akhirnya bisa walau hanya bentuk papan dan rantai. Pulang sekolah, aku merajut lagi, pulang mengaji itu lagi, akhinya aku bisa membuat sebuah bando rajut warna hijau, walau tidak rapi. Saat ujian keterampilan aku merajut taplak meja kecil dan benda terakhir yang aku rajut jika tidak salah ingat adalah tas mengaji. Tidak menyerah.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. “yang sabar aja”. Menurutku “tidak ada kesempurnaan pada percobaan pertama, jika ingin terampil kita harus mencobanya berkali kali”. Itulah merajut.

Selain sabar, merajut juga butuh kerapian dan ketelitian. Kalau tidak rapi, hasilnya tidak enak di pandang mata dan kalau tidak teliti, susah memperbaikinya. Misalnya saat ingin membuat bros kita tidak teliti hingga letak penitinya tidak ditengah. Proses memperbaiknya tidak kacang kacang. Salah potong bisa rusak semua karena satu bagian dengan bagian lain terhubung kuat. mungkin karena alasan itu juga mengapa orang menyebut merajut cinta. Karena seperti rajutan, cinta harus dibuat berlahan, dikaitkan satu bagian dengan bagian lain, tidak boleh asal asal di lepaskan dan jika sudah siap sulit dipisahkan. Jadi rajutlah benang dan cinta dengan sabar, teliti dan rapi. Loh?

Bosan terus membuat bros dan gelang yang peminatnya juga mulai sedikit, aku memutuskan mencoba membuat tas. Woila, setelah 4 hari tas rajut ku baru selesai. Dan ternyata peminatnya banyak. Namun sayang, aku tidak sabar menjalani prosesnya. Inginnya selesai terus.

Ini masalahnya. Aku hanya kuat membuat 2 tas, selebihnya? Entahlah, tidak sabar. semoga bisa ya.

Sekarang sedang proses membuat Tas yang ukurannya 20×17 cm dan itu tantangan besar. Membuatnya seperti mendaki gunung, bersusah payah dulu, tapi saat sampai ke puncak, senangnya luar biasa. Nah Merajut tas ini juga tak jauh beda bagi ku. Sedikit demi sedikit, berjam jam di buat tinggi tasnya hanya mencapai 3 cm, harus ekstra sabar. Kalau tidak rapi atau tidak sama ukuran dengan di atasnya harus buka rajutannya dan di rajut kembali. Benar benar melatih kesabaran. Tapi begitu selesai, rasanya seperti melihat matahari setelah sebulan mendung. SEMANGAT MUT! PASTI BISA MENYELESAIKAN 3 TAS LAGI.

Nah, bagi siapa saja yang ingin melatih kesabaran, menurut ku merajut tas atau baju bisa menjadi media baru. Amat sangat melatih kesabaran. Selain melatih kesabaran, merajut juga mendatangkan uang tambahan yang menjanjikan. Jadi Jangan menyerah dan terus bersabar dengan merajut lalu rasakan manfaatnya.

inspirasi dalam diam “nek mu”

Orang biasa memanggilnya MU karena anak dari Mu memanggil beliau begitu. Aku juga ikut ikutan, hanya menambah kata nek sebelum mu. Menjadi nek mu karena dia adalah salah satu nenekku. Orangnya sederhana dan pintar memasak. aku rasa tangannya adalah anugerah terindah karena apapun yang beliau masak akan terasa anak. Apalagi masakan aceh. sie teupeh (daging dipukul-pukul), sie reboh (daging rebus), keumamah (tumis ikan kayu), masak itek (bebek), kuah pliek (kuah pliek), dll bahkan memasak nasi goreng saja enak. Kalau ke rumahnya “pantang pulang sebelum makan enak.” Hahahahaha.

Pernah pada saat lebaran, aku dan keluarga mengunjungi beliau dengan bunda dan paman iparku. Paman selalu semangat saat makan. Kesan pertama saat dia makan adalah “masakan nek mu enak”. Selain masakan berat, beliau juga pintar membuat kue. Kalau lebaran, biasanya mamak sering dapat kiriman kue supet kuet,kembang loyang, atau kue bawang. Tamu yang datang sering tanya “dimana pesan kue supet kuet ini? Renyah sekali”.

Suatu hari aku pernah kesana, sekedar berkunjung saja. Saat itu nek mu sedang memilah m ilih kelapa.”keupeu u nek mu?” (untuk apa kelapa nek mu?”), “Keu peuget pliek (untuk buat pliek).” Pliek adalah makanan khas aceh. terbuat dari kelapa yang dibusukkan lalu diambil minyaknya dan ampasnya di jemur. Pliek bisa digunakan sebagian bumbu utama membuat kuah pliek atau menjadi teman makan rujak. “so ek bak u memang?”(siapa yang naik pohon kelapanya?). “ureung, han ek le dek nong mu ek, wate muda muda keun chit ku ek keudroe”, (orang, tidak sanggup lagi mu ambil, waktu muda dulu mu ambil sendiri). Wow! Aku hanya bisa berdecak kagum. Masalah ini bukan karangan beliau karena ayah dan ibu sering menceritakan hal ini kepada ku sebelumnya. Kata ayah, jangankan pohon kelapa, pohon muelinjo saja bisa di panjat nek mu. Weleh-weleh. Malah dari tetangga aku tau mu juga pintar manjahit. “bek salah, nyan wate muda tem terimong ijai gob lom (ketika muda nek mu malah menjahit baju orang juga)”, itu kata tetangga.

“ini ada ikan dikit”, kata kak lu (anak mu) suatu hari. “acara apa kak?”. “mu pergi sulok, jadi kenduri sikit”. Sulok adalah sejenis pergi ibadah disuatu tempat dengan khusyuk. Selama ini nek mu sering melakukannya. Biasa beliau pergi ketika puasa atau ketika hendak hari raya idul adha. Masalah ibadah, Mu sangat rajin. Puasa senin kamis, tahajud tidak pernah tinggal, dhuha juga. Jika ada pengajian beliau selalu pergi dengan caranya sendiri.

Selain itu semua, beliau juga pemelihara ayam dan bebek. Jika sesekali ayah datang, biasanya kami dihidangkan bebek segar beliau. Setiap pagi dan sore hal yang pertama dan terakhir dilakukan adalah memberi makan ternaknya dan mengeluarkan serta memasukkan kembali ayam dan bebek itu ke kandang.

Yah, begitulah nek mu. Nenek super dengan seribu keahlian. Pintar masak, membuat kue, bisa membuat pliek, menjahit, pemelihara binatang, dan rajin ibadah. Yap, terkadang aku takjud dan terkadang aku malu lada diri sendiri. Karena semua aktifitas itu bisa beliau lakukan tanpa hambatan, padahal beliau tidak sempurna. Allah memberikan seribu kelebihan ditengah kekurangannya. Nek mu hanya memiliki sebuah kaki utuh dan sebuah lagi hanya setengah. Jemari tangannya beberapa menyatu. Tapi, semua kekurangan itu tidak pernah menghalanginya untuk berakrifitas. Untuk berguna bagi dirinya sendiri. Malah menurutku dan menurut banyak orang, beliau amat sangat berguna bagi banyak orang. Jika ada kenduri, beliau selalu datang. “Gerakannya lebih lincah dan cepat dari gerakan orang sehat lain”. Itu kata tetangganya. Sangat ringan tulangnya. Selain itu, beliau juga membesarkan kak lu dan adiknya sendirian sejak kak lu kelas 3 SMP. Sungguh luar biasa. Beliau berjalan dengan kaki yang satu lalu kaki yang sebelah ikut saja, beriringan, sesekali tertatih tapi beliau tidak pernah menyerah. apa yang tidak bisa dilakukan? Memanjat saja beliau lihai. Sungguh keterbatasan tidak pernah membuat beliau diam. lincah sekali. Sedikit kita terlena, piring sudah tercuci, sebentar kita pergi baju sudah tercuci, luar biasa.

Dulu pernah beliau berobat dan di beri kaki palsu. Hanya sebentar digunakan. Katanya lebih nyaman dengan kaki pemberian Allah dari pada buatan manusia, berat. Pernah juga diberikan tongkat tapi biasanya beliau pakai saat berpergian saja agar bajunya tidak kotor oleh tanah. Selebihnya beliau mengandalkan diri sendiri. Sungguh luar biasa. Beliau tidak pernah mengeluh dan tidak pernah minder dengan kakinya.

Namun, tanggal 19 oktober kemarin Allah memanggil beliau dari dunia ini. Setelah sakit selama 8 hari. Membawa sesosok yang luar biasa pergi dari kami. Seorang yang amat sangat menginspirasi. Yang tetap menjadi luar biasa ditengah semua kekurangannya. Kekurangan yang tidak pernah menyulutkan hatinya untuk terus menjadi orang biasa yang menurutku luar biasa. Ah, aku menyesal. Tidak sempat melihat sosok baik itu di akhir hayatnya karena sedang di kampung. Padahal sesaat sebelum sakit beliau sudah berpesan pada kak lu “ simpan sie reboh keu si nong, enteuk pasti di jak keunoe” ( simpan daging rebus untuk dek nong, nanti dia pasti datang kesini).

Selamat jalan nek mu, semoga amal ibadah selalu mengalir untuk mu. Jauh dari azab kubur dan jauh dari segala siksaan. Terima kasih telah menginspirasi dan terima kasih telah menjadi nenak baik yang pernah ada.

Yap,beberapa bulan berlalu dan kenangan tentangnya masih terus ada. “hana le yang peuget kemenyan (tidak ada lagi yang buat kemenyan)”, “biasa jih menyoe na beut mu sabe geu jak”, (biasanya kalau ada pengajian mu selalu pergi”, “hana le so mangun mangat bak kahuri tanyoe” (tidak ada lagi yang masak masakan enak di kenduri kita”. Dan kenangan lainnya.

Namun, beberapa orang pernah bermimpi. “alhamdulillah semalam lam lumpo lon meurumpuk nek mu, alhamdulillah ka lagak dan sempurna anggota badan. Geu pesan bak lon, peugah bak si lu bek sedih sedih le” (alhamdulillah semalam saya bermimpi jumpa nek mu. Alhamdulillah beliau sudah cantik, anggota badannya suda lengkap. Beliau berpesan, katakan pada si Lu jangan sedih lagi.

Alhamdulillah. Semoga terus bahagia disana nek mu sayang. Terima kasih untukminspirasi dan kasih sayangnya. Loksukon 17 januari 2015.

sirih, tak sesederhana namanya

Beberapa hari yang lalu saya menonton acara bolang di trans 7, Edisi rabu 7 januari 2015. Lokasinya di timur indonesia, kalau saya tidak salah ingat di sekitaran kalimantan. Nah, dari edisi ini yang membuat saya tertegun adalah ketika si bolang dan teman temannya mencari sejenis keong di sungai untuk di bakar menjadi abu. Abu inilah yang akhirnya di jadikan sebagai kapur, teman makan sirih. Dari tayangan ini pula di ceritakan bahwa memakan sirih adalah salah satu kebiasaan warga disana. Dari orang tua hingga anak-anak. Yang menarik bagi saya adalah makan sirih nya. Ya, saya pikir selama ini makan sirih itu hanya punya kami,orang aceh.

Saya ingat sekali. Ketika kecil saat tinggal bersama nenek, saya selalu melihat nenek makan ranub. Orang aceh menyebut sirih sebagai ranub. Biasanya beliau menaruh pinang, kapur, cengkeh, daun sirih dan gapet (alat berbentuk seperti gunting untuk memotong pinang) di sebuah mangkung dari bahan kuningan penuh ukiran. Biasanya beliau menyebut bate ranub untuk benda ini. Nah, seperti makan yang sehari 3 kali, maka biasanya nenek akan memakan ranub sebanyak itu dalam sehari. Beliau duduk di atas tumpukan padi yang di tutup tikar di salah satu sudut rumah. Lalu mengambil bate ranub dan meracik ranubnya lalu dimakan biasanya setelah makan nasi. Tidak lama kemudian bibirnya memerah. Karena kebanyakan rumah di pedesaan aceh masih merupakan rumah panggung dengan beberapa sudut lantainya masih dari bambu, mudah saja nenek membuang ludah yang memerah dari sela sela bambu tersebut hingga akhinya jatuh ketanah.

Teman nenek lebih parah lagi. Tiada saat dimana mulutnya tidak merah oleh ranub. Mirip orang yang mengunyah permen karet. Ranub di makan, aktivitas seperti bicara tetap jalan. Katanya kalau tidak makan ranub ada yang kurang.

Di tempat saya dulu juga banyak yang menjual ranub. Sedikit modern. Ranub dijual dalam plastik putih seharga Rp. 500 per buahnya di kios kios. Yang beli bisa siapa saja. Biasanya orang orang dewasa hingga orang tua.

Hingga saya sedikit besar. Ternyata ada tari ranub lampuan. Tari yang biasanya untuk memuliakan tamu. saga pernah jadi penarinya dulu, saat SD. Nah, ada beberapa orang penari yang memegang puan semacama mangkung. Salah satu dari kami akan memegang puan besar berisi ranub yang di akhir tarian akan di bagikan kepada tamu yang datang.

Sampai saya sedikit besar lagi, waktu itu bang saya ingin melamar gadis impiannya. Mamak sibuk mencari orang yang bisa menyusun ranub. Akhirnya ketemu. Iyap, ranub disusun sedemikian rupa untuk dijadikan seserahan pada waktu lamaran dan pada saat pesta. Bentuknya beragam.

Dan sampai saat ini, disaat saya sudah besar. Saya masih melihat ada seorang ibu ibu yang menjual ranub di persimpangan jalan di pasar. Pembelinya? Masih ada. Saya tumbuh dengan terus melihat sirih dalam banhak ragam di aceh.

Sirih bagi orang aceh bermakna perdamaian dan kehangatan sosial. Batee ranub melambangkan keindahan budi pekerti dan akhlak yang luhur, sirih berarti merendahkan diri dan memuliakan jamu, kapur melambangkan ketulusan, gambir menunjukkan keteguhan hati, dan pinang menunjukkan keturunan yang baik.

Nah, semua yang saya lihat, makanya saya berpikir, ranub adalah milik orang aceh. Yang menggunakannya sebagai cemilan, memuliakan tamu, hingga pada acara adat pernikahan. Ranub adalah sesuatu yang merakayat. Tapi, sejak menonton acara bolang saya sadar bahwa ranub tak sekedar itu.

Ternyata kebiasaan menyirih tersebar diseluruh pelosok negeri melewati batasan pulau. Dari berbagai sumberdan tulisan, kebiasaan menyirih di minang juga mirip dengan di aceh seperti pada acara pernikahan, meminang, pengobatan malah ada kepercayaan mistis disana. Orang orang batak menggunakannya sebagai pengobatan, bahkan disalah satu tulisan pernah ada seorang peneliti yang datang ke tanah batak baru diterima ketika beliau memakan sirih. Di flores sirih di gunakan ketika poses kematian, kalimantan menyirih dilakukan mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, bahkan di papua kebiasaan menyirih sudah ditularkan hingga kepada wisatawan asing. Wow! Sungguh menusantara yang namanya sirih ini. Menjelajah negeri melewati perbedaan adat, budaya dan bahasa.

Jika di lihat melalui sudut pandang sejarah, kedatangan sirih ini memiliki banyak versi. Ada yang menyebutkan sirih masuk ke indonesia abad ke 15 di bawa oleh orang india, cina dan eropa saat mereka mengelilingi nusantara mencari rempah rempah. Mereka mengunjungi daerah pelabuhan seperti sumatra, jawa, sulsel, hingga maluku. Dari versi lain menyebutkan sirih merupakan warisan budaya yang ada sejak 3000 tahun lalu. Budaya ini hidup di asia tenggara. Namun dari catatan marcopolo pada abad ke 13 yang menyebutkan orang india suka mengunyah segumpal tembakau maka kemungkinan sirih berasal dari indonesia.

Yah, seperti apapun sejarah awal mulanya, sirih tetap mengindonesia. Dia menjadi kebiasaan bagi seluruh masyarakat indonesia mulai dari barat hingga ke ujung timur. Sesuatu yang menusantara dan mempersatukan kita selain bahasa indonesia. Kita mungkin punya bahasa berbeda, acara adat berbeda, makanan berbeda bumbunya, tapi kita punya satu kebiasaan yang sama dengan filosifi yang tidak jauh berbeda yaitu menyirih. Sesuatu yang mulai hilang sedikit demi sedikit seiring perjalanan waktu. Padahal selain bahasa indonesia, menyirih adalah adat yang mempersatukan kita. Kita bisa duduk bersama walau berbeda suku dengan hidangan sirih.

Mari lestarikan dan mari kita jaga sama sama budaya kita, budaya menyirih yang tak sesederhana yang terlihat karena sirih mempersatukan nusantara kita yang berpulau pulau ini. Salam dari barat indonesia dan terima kasih bolang. Loksukon 16 januari 2015