arti pagi bagi kami

IMG-20120816-00880Hari ini aku bangun cepat. Memang tidak secepat ketika aku masih koas atau sebagian orang yang buru buru ke mesjid untuk salat subuh. Tapi, bagi ku ini tetap termasuk cepat. Jam setengah 6 teng! Aku sudah salat dan tidak tidur lagi. Alasan utama yang menyebabkan aku bangun adalah bunyi alarm yang membahana dari luar kamar. Hahahahaha.

aku biasa menyetel alarm dari hp dengan volume kencang, nah semalam aku lupa memasukkannya ke kamar, maka berdering lah dia sepanjang subuh menggetarkan seluruh isi rumah. Jika tidak bangun untuk segera mematikannya, alamat satu rumah mengamuk. Oleh karenanya aku tak pikir 2 x, langsung bangun, mematikan alarm, ambil wudhu dan salat.

Selesai salat aku berencana tidur lagi. Kamar ku gelap. Karena lampu sudah aku matikan. Hanya suara kipas angin yang terdengar dengan sesekali suara genting yang bertum ria akibat kibasan angin pagi.

Ah, asik sekali pasti merasakan angin diluar sana saat ini, Dingin hingga ketulang dengan cahaya pekat dan sunyi. Sesekali akan terdengar suara kumpulan burung bercit cit entah dari mana dan kokokan ayam orang.

Dulu ketika aku kecil jam segini tidak termasuk cepat. Karena aku, ibu ku, abang, dan sekumpulan anak kampung lain memberikan makna berbeda tentang pagi kami. Pagi bagi kami adalah waktu paling pas untuk belajar apapun dan pagi adalah waktu paling pas untuk olah raga.

Belajar apapun! Ketika musim ujian, biasanya abang berpesan pada mamak untuk membangunkannya di pagi hari tepatnya sebelum subuh, jadi selama seminggu di musin ujian, abangku bangun di awal pagi dan tidak tidur lagi.

Ritme nya sama hingga kami selesai sekolah dasar. Dengan suasana sunyi dan ditemani lantunan azan, seolah baris baris huruf di buku masuk berlahan tanpan hambatan ke girus girus hingga akhirnya ke pusat belajar di lobus frontal. Dan ini sangat efektif. Terkadang hingga sekarang aku masih menggunakan teknik ini untuk belajar. Belajar di pagi hari.

Belajar lain yang kami lakukan adalah belajar sepeda. Hahahaha. Rumah ku dulu tak punya halaman. Hanya berbatas sedikit teras dan sedikit pagar dengan jalan besar beraspal. Oleh karenanya ruang bebas dan sepi untuk belajar sepeda bagi kami masih jarang.

Makanya waktu saat jalan masih sunyi tanpa kendaraan adalah pagi buta. Tepatnya setelah salat subuh tiba. Langit masih gelap dan hanya ditemani bintang atau lampu jalan, angin masih dingin dinginnya dan tidak ada satu pun yang berlalu lalang.

Hanya sesekali ada yang lewat, mungkin hendak kepasar atau orang yang baru pulang salat. Selebihnya sah, jalanan itu milik kami. Weng,,,,weng,,,weng,,,weng,,, belajar lah sepeda sesuka hati.

Dan well, di kampung kami ada begitu banyak anak anak alias teman ku. Dan entah bagaimana ternyata anak anak itu punya sifat cemburu. Satu punya sepeda, jika orang tuanya berada maka besok dia juga punya sepeda, atau jika tidak kan masih bisa pinjam punya teman, yang penting bermain. Maka subuh ketika musim sepeda datang, pagi bagi kami bukan sekedar pagi hitam dan dingin melainkan waktu paling pas untuk bermain sambil belajar sepeda. Riuh, tertawa, jatuh, main lagi, kejar kejaran lagi, hingga pagi sesungguhnya datang dengan mataharinya dan kami kabur kerumah masing masing untuk mandi dan kesekolah.

Well, pagi yang dingin bagi kami selain belajar adalah olah raga. Entah dari mana muncul istilah “sport” diantara anak kampung yang tidak canggih ini. Tapi untuk kegiatan jalan santai di pagi buta pada minggu pagi ini, kami menyebutknya dengan sport. Ketika aku beranjak besar aku tau bahwa kata yang sebaiknya kami ucapkan untuk menamai aktivitas asik kami itu adalah jogging.

Biasanya kegiatan ini kami lakukan di hari libur, minggu. Dengan perencanaan matang. Mulai pukul berapa, jumpa dimana, kita jalan hingga kemana, perlu bawa uang berapa dan siapa saja yang mau jadi peserta. Tujuannya jika besok pagi ada yang tidak berkumpul maka akan di susul ke rumah masing masing.

Hingga hari H tiba. Setelah salat semua keluar rumah, diabsen. Jika tidak ada di susul. “dek nong, dek nong, dek nong, sport yok!”, tidak ada telpon, bbm, line, we chat saat itu, hanya ada terikan alam. Yang di panggil langsung bangun. “bentar”, menjerit dari dalam lalu keluar seadanya. Kerenkah kami pagi itu? Dengan pakaian olah raga dan lengkap dengan sepatu nya? Ah tidak. Masa kecil kami terlalu sederhana. Dengan baju kaos dan celana pendek bangun tidur seadanya dan sendal jepit biasa kami siap sport kemana mana pagi itu.

Jaraknya lumayan jauh. Mencapai 2 buah menasah alias kampung tetangga. Meunasah ara keumudi dan meunasa ara. Di sepanjang jalan yang lengang itu kami asik berkejaran, tertawa dan bercerita. Entah mengapa setiap sudut gelap dan rumah bersemak menjadi lahan subur untuk dirubah jadi cerita horor.

Belum lagi kalau melewati kuburan, ada saja tradisi seperti tidak boleh menunjuk, kalau menunjuk akan gembong tangannya jadi agar tangan tidak gembong jemari itu harus di isap. Beramai ramailah kami ditengah jalan di depan kuburan jika tidak sengaja menunjuk harus mengisap jari masing mqsing. ahahaha. Terakhir mamak bilang itu cerita desat, lebih baik ucapkan salam saja pada penghuni kuburan. Baiklah “assalamualaikum ya ahlil kubur”.

Bagian favorit kami adalah di meunasah terakhir karena ada penjual pisang goreng tepung kuning disana. Sejam berjalan dan kami kelaparan. Makanya sebelum pergi kami sudah sepakat akan membawa sejumlah uang yang sama. Maka riuhlah warung kecil yang disebelah kiri dan kanannya dipenuhi pohon rambutan itu ketika kami datang.

Dan bagian favoritku adalah hamparan sawah berhektar hektar di ara keumudi. Luas membentang dan hanya berbatas langit di ujung sana. Wilayah ini berubah menurut musim dan aku turut menyaksikannya. Mulai dari hanya bibit padi yang di tanam di salah satu sudut petakan sawah, berubah menjadi padi yang di tanam berjajar rapi diseluruh petakan, tumbuh dan menghijau, menguning bagai hamparan padang dan persawahan ini marak dengan orang orangan sawah hingga panen tiba. Bertumpuk tumpuk padi ditengah sawah lalu di angkut satu persatu ikatannya, lalu semak semaknya di bakar sebagai abu dapur dan akhirnya petakan sawah kembali jadi rawa kembali. Kemudian di bajak lagi oleh mesin traktor dan di tanami lagi. Terus berputar hingga aku sudah dewasa sekarang dan alhamdulillah persawahan yang kata mamak membentang hingga berpuluh km ke loksemawe itu masih ada hingga sekarang.

Ketika pulang matahari mulai meninggi, dinggin pagi di gantikan dengan hangatnya mentari yang muncul dari cela cela pohon yang berserakan. Bunyi deru angin di gantikan dengan suara cit cit burung dari tengah hutan. Wik,,,,, wikkk,,,,,,wikkk, aku hapal betul bunyi itu. Dan seiring naiknya matahari mulai bermunculan satu persatu kendaraan, sepeda, sepeda motor dan sesekali yang amat sesekali itu akan muncul mobil. Maka kami mulai berhati hati. Harus selamat sampai kerumah. Itu janji kami dan untuk itu kami ber 9 harus saling menjaga.

Pagi beranjak sempurna dengan kilauan sinar matahari saat kami sampai kerumah, pukul setengah 9. Bersalaman dan ini saatnya menonton doraemon tersayang. Film kesukaan semua anak anak kampung.

Inilah arti pagi bagi kami dulu, belajar, bermain, tertawa, bercerita, dan “sport”. tanpa kasur dan tanpa tidur setelah subuh datang. Kami bersahabat dengan dingin dan kelamnya pagi, toh pada akhirnya semua akan digantikan juga dengan hangat dan gagahnya mentari bukan?

Hahahahaha. Itulah masa kecil ku, masa dimana hidup tidak lebih rumit daripada menyelesaikan pr bahasa inggris. Beranjak dewasa semua mulai beranjak berubah, jam setengah 6 bangun saja sudah merasa hebat. Ah, terkadang aku malu mengingatnya. Saat tulisan ini siap, matahari juga sudah mulai menyingsing. Selamat pagi semua, selamat berakhir pekan. Semoga hari hari yang terus beranjak penuh dengan berkah dan penuh dengan kenangan baik. Sesuatu yang esok lusa ketika kita mengingatnya, ada begitu banyak cerita baik di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s