tumbuh remaja

Jangan pernah membiarkan anak remaja tumbuh ditempat yang tidak dia inginkan tanpa di kawal. Ini lah kata yang menurut ku amat tepat bagiku. Kenapa? Karena berhari hari setelahnya, berhari hari setelah aku di paksa masuk kesekolah ini, walau seribu kali aku berusaha untuk menerima dan menikmatinya, seribu kali pula batin ku menolak dengan seksama. Yap, aku tidak seutuhnya betah disini. Di tempat asing ini. Walau beberapa diantara mereka bahkan sudah sempurna aku anggap keluarga sendiri. Dan layaknya remaja yang sedang mencari jati diri, aku terdampar pada situasi yang aku benci dan seolah dunia juga membenciku.  tidak hanya orang tua yang tidak menyukaiku tapi juga teman teman disini. Padahal seolah saja.

Awalnya biasa, aku acuh tak acuh dengan mereka. Kenapa? Karena aku benci disini. Aku sibuk memikirkan bagaimana sedihnya aku disini sendirian dan mengapa aku dibuang. Dari pada berfikir bagaimana harus berteman dan menjadikan mereka keluarga baru. Awalnya hanya biasa hingga menjadi keterbiasaan, aku biasa mengacuh dan berbicara sinis seadanya. Dan dari awal aku punya teman hingga akhirnya aku kehilangan mereka. Setelah kehilangan aku malah mulai berprasangka. Mengapa mereka menjauh? Apa karena aku bodoh? hanya anak kampung?tulalit? Tidak kaya? Dan sejuta pikiran negatif lain. Aku adalah orang dengan seribu pikiran negatif di setiap girus otak yang aku punya saat itu. Padahal jika di rasa rasa mereka menjauh karena aku acuh dan jikalau mereka menjauh mengapa aku tidak mendekat? Inilah salah ku seutuhnya. Aku tumbuh dengan kebencian yang aku tanam sendiri karena dari awal aku benci tempat ini.

Selain itu, aku juga punya masalah dalam hal belajar. Aku tidak begitu pintar. Anak desa yang mencoba peruntungan di kota yang sudah maju 100 langkah di depan. Bisa apa aku? Yap. Aku kalah dalam hal sekolah. Beberapa kali nilai ku jelek, tidak sempurna, dan tidak sama dengan teman lain. Aku down? Awalnya tidak. Aku terus belajar. Nyaris setiap malam. Saat semua orang sibuk dengan rapat dan aktivitas lain, aku dengan si mata ramah dan fikri tetap belajar tekun. Menjawab seriap latihan yang ada di buku fisika yang bersampul peselancar, menjawab soal di buku madaz untuk matematika, jika ulangan biologi teman hanya membaca buku erlangga aku bisa menghabiskan 3 buku berbeda sekaligus. Selang waktu antara menunggu anak barak makan aku belajar, ketika menonton pertandingan bola aku tetap membawa buku, jika tidak ada guru di kelas aku memilih diam dan membaca. Yap, aku terus belajar walau aku terus tertinggal di pelajaran bahasa inggris. Hahahaha.aku menyerah dengannya.

Tapi tetap saja, teman teman masih jauh lebih baik dari ku. Di kelas ku semuanya pintar. Jika tidak pintar matematika, mereka pintar biologi, jika tidak pintar biologi mereka pintar kimia, fisika, bahasa, tehnik informatika, bahkan jika tidak pintar apapun mereka masih jago olah raga. Tapi aku? Awalnya aku pikir aku jauh lebih bodoh dari mereka semua. Ah, aku adalah si pemiliki pikiran negatif paling besar saat itu.  p

adahal, dengan usaha dan doa yang sudah aku tekuni selama ini, setidaknya aku tidak bodoh bodoh amat kok. Yah walau aku tidak bisa bersanding dengan irvan juliadi putra, ismi radiallah, rizki aryadi, huzra fani sundari, nurul fikriani, ana fitria, deny andrea, maya zammaira dan mereka yang jago lainnya, setidaknya aku tidak sebodoh yang aku pikir. Aku bisa.

Namun pikiran negatif itu lebih kuat dari apapun, aku tetap berfikir tidak ada yang mau berteman dengan ku dan aku adalah orang terbodoh seantero modal bangsa. Aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa. Bertahan sekuat yang aku mampu. Namun, di akhir semester 2 aku menyerah dengan keadaan tepatnya aku menyerah dengan fikiran ku sendiri. Aku ingin keluar dari sini.

“nita, mut gak sanggup lagi disini, besok mau bilang sama ayah biar dikeluarin saja siap ambel rapor semester 2”, kata ku pada nita sore itu. Langit cerah tapi tak begitu dengan hati ku.

“Jangan lah mut, dikit lagi. Emank apa alasannya, mutia bodoh?”, nita sudah hapal betul alasan ku.

“minder disini ta”, Jawab ku .

Nita mungkin lelah menjelaskan dan aku juga lelah mendengar jawabannya, tapi sekali lagi sore itu dia mengulang, “siapa bilang mutia bodoh, menurut nita mutia pintar dan masih banyak kok yang lebih bodoh, kan kita sama sama belajar. Kalau udah pintar buat apa sekolah, jadi profesor aja sana”, jawab nya.

Dan seperti biasa, aku diam.

Hingga malamnya aku buncah, galau bahasa anak mudanya. Dan tepat mamak menelpon.

“Gemana ujian adek? Udah siap kan?

“udah mak. Ujiannya ada yang bisa ada yang gak”. Aku diam

“Adek kenapa?”

Bagai air bendungan yang tumpah ketika tanggulnya bocor, begitulah aku bercerita, menjelaskan dan akhirnya meminta pada mamak satu hal. Mohon bawa pulang saja aku dari sini mamak. Anak mu lelah, dia tidak mau lagi disini, dia bodoh, dia tidak punya teman dan dia sudah menyerah.

“baiklah, mak yang terbaik keu aneuk, miseu nilai ujian kali nyoe brok, angkot barang laju, sigoe tacok rapor sigoe ta bahue ta jak woe” , jawab mamak. (baiklah yang terbaik untuk anak, jika nilai ujian kali ini jelek, kita angkat barang terus sekalian mamak sama ayah ambil rapor nanti).

Ah, aku bersorak kegirangan. Senang sekali. Janji pulang amat menggiurkan. Walau sebenarnya aku juga sedih harus meninggalkan semua.

Dan pembagian rapor tiba. Mamak tidak datang, karena satu dan lain hal. Namun janji tetap janji. Tapi betapa terkejutnya aku, nilai ku tidak terjun bebas ke bawah malah melesat kencang ke atas. Keatas langit langit cot gentreut lalu menyapa dunia dengan gagah perkasa disana. Aku masuk sepuluh besar. Dan itu artinya. No go home dan no good by for modal bangsa. Aku tetap disini dan aku tetap akan menjadi alumni SMA ini 2 tahun lagi.

“mak, nilai adek bagus”, kata ku via telpon. Malas.

“ALHAMDULILLAH, kaleuh lon prediksi, pasti ini terjadi. Aneuk mak. Makajih hana mak jempot. Tiep malam mak meudoa bejroh aneuk mak disinan, jadi han mungken aneuk mak bagai”, jawab mamak (alhamdulillah,sudah mamak prediksi, pasti terjadi. Makanya tidak mamak jemput. Setiap malam mamak berdoa agar kamu berkah disana, jadi tidak mungkin kamu bodoh).

Aku diam, diam yang dalam.

“jadi hana jadeh woe kan?” kata mamak.

 

Pertanyaan retorika yang aku tidak senang mendengarnya. “YA”, jawab ku.

Hening dan aku mulai berfikir. sebaiknya aku berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri ku, berdamai dengan teman teman baru, berdamai dengan mosa dan berdamai dengan kenyataan. Bahwa inilah sebenarnya tempat terbaik bagiku. Hmmm, baiklah akan aku coba. ALLAH sudah menjawab doa ku. Menjawab dengan indah bahwasanya mosa adalah tempat pilihan yang paling baik untukku. Dan aku akan berusaha menjadi diri yang baru dan membuang sedikit demi sedikit pikiran negatif yang aku punya. Ayolah langit masih biru bukan?dan kau memang ditakdirkan menjadi bagian dari SMA ini. Setelahnya aku tidak pernah mengeluh dan bangkit berlahan hingga tegak.

Bertahun setelah nya aku sadar, pilihan terbaik adalah pilihan orang tua

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s