punya cita cita

Menyusun cita cita. Inilah yang biasanya dilakukan anak anak modal bangsa saat mereka duduk di kelas 2. Kebiasaan ini aku tidak tau darimana asalnya. Tapi memang dibeberapa tempat seperti di lemari buku, lemari baju, kaca, tempat tidur, meja kelas, ada saja tercoret sedikit mengenai cita cita ini.  Cita citanya beragam. Mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang. Biasanya ada beberapa diantara mereka yang secara langsung menulisnya besar besar pada sebuah kertas dan menempelnya di dinding kamar. Ada yang bertulis “semangat, masuk ugm”, “belajar yang rajin dan tembus ITB”, “jangan bermalas malasan, harus masuk UI”, ” SEMANGAT BELAJAR UNTUK UN DAN SPMB”. Itu hanya beberapa, masih banyak yang lain. Menulis adalah menyugesti dan melihatnya setiap hari sebelum tidur adalah motivasi. Gantunglah cita cita setinggi langit karena kita masih muda.

Dan aku termasuk satu dari mereka. Namun, cita cita itu tidak aku tulis besar2 di karton lalu aku tempel. Aku hanya menuliskannya di buku diaryku. Disana tertulis 1 februari 2007. Aku hanya punya 2 rencana saat itu. Rencana satu adalah rencana jangka pendek dan yang kedua adalah rencana jangka panjang.

Rencana jangka pendek aku sederhana. Aku hanya ingin hidup lebih berarti. Berarti di dunia, akhirat dan orang lain. Sederhana, aku ingin bisa selalu salat di musala, khatam alquran dalam 3 bulan, tahajud minimal 2 x dalam seminggu. Selanjutnya untuk dunia aku ingin terus rajin belajar. Dan untuk orang lain aku ingin berhenti bergosip tentang mereka dan menjaga emosi. Sederhana bukan? Sederhana dalam tulisan tapi berat dalam tatalaksana.

Rencana jangka panjang ku sangat bombastis. Spektakuler. Sehingga saat membaca ulang, aku tidak tau keyakinan besar darimana yang muncul saat itu. Di masa muda yang masih sangat belia itu aku pernah bermimpi setelah tamat SMA aku harus belajar rajin agar bisa masuk tehnik perencanaan kota dan wilayah di ITB atau masuk tehnik industri IPB atau managemen agribisnis di IPB. Inilah tujuan aku sekolah saat itu. Untuk masuk 2 universitas hebat di indonesia. Tidak ada yang salah dengan punya mimpi bukan? Inilah mimpi ku di usia 17 tahun.

Impian yang aku tulis rapi di sebuah buku dan ku beri tinta merah untuknya. Sungguh bersemangat masa muda ku.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s