mengapa harus tertangkap basah

Minggu telah tiba miggu telah tiba , hati ku gembira. Hore hore hore.

Lirik lagu ini tepat menggambarkan hati ku di hari minggu. Karena kami boleh berleha leha di barak tanpa gangguan atau memilih keluar ke kota untuk jalan jalan. Aku tergantung kebutuhan, jika memang ada yang harus aku beli aku akan keluar, jika tidak aku memilih menetap di barak dan menghabiskan waktu dengan tidur atau sekedar membaca novel.

Namun, minggu itu aku memilih keluar, karena ada yang ingin aku beli dan aku keluar dengan yuni. Kami keluar sudah agak siang karena mendung, takutnya hujan, tapi makin di tunggu hujan tak kunjung datang, akhirnya kami memutuskan keluar. Sampai di pos satpam ternyata walau mendung banyak juga penghuni barak yang ke kota.

Aktivitasnya beragam, ada yang pulang kerumah, ada yang sekedar cari buku, baju, atau numpang makan siang di KFC simpang lima dan mungkin ada yang sekedar salat dzuhur di mesjid raya lalu pulang dengan sebelumnya singgah di pante pirak. Ini seperti rute wajib anak mosa. Sesekali ada yang ke neusu, setui, ketapang, dan darussalam tapi itu hanya sesekali.

Maka dulu saban minggu sekelompok remaja dengan tas ransel di punggung dan berkaos kaki warna warni yang memadati KFC, mesjid raya dan pante pirak tak lain dan tak bukan adalah pasti anak modal bangsa. Apalagi ketika mereka yang ketika sekitaran pukul 4 sore menunggu labi labi arah blang bintang sudah jelas perantauan yang akan kembali ke penjara suci alias modal banga lengkap dengan plastik kresek berisi makanan ringan untuk seminggu ke depan. Hahahaha.

Dan kali ini rute aku dan yuni sama. Toko buku efendi lalu salat di mesjid raya, makan, ke pente pirak lalu pulang, mengapa begitu? Itulah jalur yang mudah diakses oleh kami kami anak perantauan ini. Namun di tengah perjalanan selesai dari efendi tepat di samping mesjid raya, ada kerumunan orang. Aku tergerak untuk melihat. Ternyata penjual obat. Tapi kali ini penjual obat itu tidak hanya berorasi tapi juga menyajikan sajian sulap.

“Yun, berhenti bentar yok”, kataku.

Dengan gaya nya yang manis manja, “yang betol aja qe mut”,jawabnya.

“gak apa, sebentar aja”, kataku. Akhirnya kami asik menyaksikan atraksi sulap hilang hilangan booongan itu. Dan tanpa sadar seserang berdehem di belakang.

“Hmmm, udah lama mut?asik kali kayaknya”, katanya. Dialah imam adi nugraha. Teman sekelas aku. Tak jauh darinya berdiri dengan penuh senyum risky aryadi, fuad dan riski ananda. Mereka puas menertawakanku dan yuni.

“iya mam, seru soalnya”, jawab ku malu. Hahahahaha. Ketauan melongo nonton orang jualan obat di tengah kota. Ya Allah sungguh aku malu. Aku tarik berlahan lengan yuni, dan dengan senyum simpul aku meninggalkan mereka lalu masuk ke mesjid raya.

Pucuk di cinta, wulam pun tiba. Kami satu labi labi. Perjalanan dari kota kembali ke cot geudreut sekitar 45 menit dan selama itu pula. Seperti radio berputar imam dan kawan kawan menirukan.

“yak, mari kita saksikan bagaimana seorang pria bisa menghilang dari dalam kotak hitam ini, anda jangan tercengan dengannya, dan satu dua tiga, hilang”, imam menirukan.

“hahahaha”, mereka tertawa. “seru kali ya mut? Sampek melongo lihatnya?”sambung riski ananda.

Hahahaha. Aku hanya mengangguk dalam hati dan tertawa bersama mereka. Ah sudahlah. Yang penting aku menikmatinya. Yang aku sesali Mengapa harus tertangkap basah coba? Dengan mereka pula. Hahahahaha

20151101_085210
Suasana minggu pagi di gerbang depan. Selalu ada labi labi yang stand by disana.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s