hidup kami

Tinggal disini. Tugas kami cuma 3. Makan, belajar dan tidur. Dengan variasi yang beragam diantaranya. Dan salah satu musim yang paling mengenaskan dalam proses belajar di mosa adalah saat ulangan. Kami ulangan harian setiap 1 bulan sekali. Setelah ulangan 6 kali kami menghadapi ujian semester. Seketika suasana mosa berubah saat musim musim ini tiba. Semua sibuk dengan buku yang di bawa kemana mana, ke kantin, lapangan bola, langan basket, ke musala, yang tidak dibawa ke ruang makan saja. Sisanya di kelas, di ruang tamu barak, di kamar masing masing, semua sibuk belajar. Membahas soal, tanya jawab, dan saling tukar pikiran.

Anak barak mawar punya cara unik menghadapi musim ini. Yaitu belajar bersama si ruang tamu. Semua yang berminat boleh berkumpul di sana. Membahas soal. Dan ini untungnya punya banyak teman yang pintar, jika ada yang tersendat ada sailormoon berbaik hati yang akan menjelaskan. Ada trisna yang genius luar biasa, atau nona, siti maisarah, ana, uja, putri soraya, putri irmayani dll sebagai pencerah di dalam kebuntuan belajar. Mereka pahlawan saat malam malam menjelang ulangan harian.

Namun, bagi menyukai ketenangan akan lebih memilih belajar di kamar sendiri. Setiap orang punya gayanya sendiri bukan? Namun, semua akan tetap keluar kamar jika esok ulangan dan lampu tiba tiba padam. Suatu malam dan besok ulangan fisika berjamaah di aula, tiba tiba lampu barak mati, gemuruh. Semua gaduh dan cemas. Belum belajar! Padahal menurut ku belum puas belajar tepatnya. Ahirnya kami mendapat lampu sederhana dari gensset sekolah. Sayangnya hanya 1. Terpaksa lampu yang semata wayang itu di letakkan di ruang tamu. Bak gula dan kami semua semut, kami pun di panggil olehnya. Penuh mengelilinya. Semua belajar dengan lampu seadanya. Hingga akhir malam. Yang penting belajar dengan sesakali intermezo.

Suasana belajar juga semakin memanas jika musim remedial berlangsung. Belajar lebih extra dan biasanya sasaran kami adalah mereka yang berada di strata atas pendidikan alias yang tidak remedial. Kamar mereka penuh kami sesaki. Seperti kamar trisna dan nona. Atau membentuk kelompok belajar sendiri, tidak usah susah jika tidak mengerti, tempat bertanya tersedia dimana mana. Inilah indahnya tinggal berasrama dengan semua anggotanya adalah keluarga.

Jika musim ujian semester datang. Kondisi belajarnya lebih memanas lagi. Kegiatan ekstrakulikuler dihentikan, rapat rapat di tutup, pagelaran sendi di tunda dan belajar malam dihentikan sementara dan prosus di stop dulu. Jadi biasanya sepulang salat zuhur,magrib atau isya ada yang menunda makan dan lebih memilih belajar di musala untuk sementara waktu hingga pukul 11 malam. Penuh, tak bersisa tempat bagi yang telat datang. Ah, seru sekali. Apalagi jika belajar setelah subuh di musala, berasa semua yang di baca masuk ke girus otak berlahan tanpa hambatan. Tersimpan disana hingga ujian selesai.

Selesai ujian, proses belajar berhenti? Tidak saudara saudara. Masih ada remedial jamaah menanti. Dan again, proses belajar kembali lagi. Pengumuman remedial adalah hal yang paling di tunggu. Biasanya di umumkan di mading sekolah. Semua berbondong kembali kesekolah, melihat hasil ujian. Jika tidak sampai skbm, maka siap siap mengulang. Waktunya seminggu. Belajar lagi untuk hari hari lebih baik setelahnya. Karena setelahnya pembagian rapor tiba. Jika semster genap kami pulang tapi di semester ganjil akan ada class meeting, inilah saatnya melepas lelah dengan produktif pastinya. Pagelaran olah raga dan tawa dimulai.

Keadaan ini terus berulang, terus seperti roda di jalan raya selama 3 tahun lamanya, selama kami menjadi anak modal bangsa.dan tidak ada cara lain untuk menjalaninya selain menikmati prosesnya. Terkadang bosan, terkadang jenuh, marah, tapi di lain waktu jalani saja. Bertahun setelahnya suasa seperti ini amat langka. Dan aku merindukannya. Merindukan suasa ketika kau membawa buku kemanapun kau tidak akan pernah dikatakan sok rajin atau sok pintar, rindu suasana bisa membaca buku di bawah naungan matahari sore di bawah pohon pinus sambil menyaksikan permainan bola, rindu belajar di musala, ditengah gelap malam tanpa ada yang protes tentangnya, rindu, rindu, rindu semuanya. Dan rindu tertawa setelahnya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s