jalan jalan berhadiah

Jalan berhadiah.

Minggu pertama kelas 3. Pagi ini, di minggu pagi yang cerah, tanpa sekolah, setiap udara dingin di mosa lebih berasa. Anak kelas ipa 3 latihan untuk upacara besok. Yang jadi mc itu fikri, pp jadi dirgen, reza nuriman pembaca undang undang dan dian janji siswa. Sejak aku sd hingga smp aku tidak pernah tau ada yang namanya janji siswa. Tapi disini ada, Janji yang dilapazkan setiap senin. Ada 5 point tapi aku lupa.

Selesai upacara, aku dan fikri iseng saja jalan jalan ke depan kantor satpam. Dan tanpa di duga kami berjumpa kakak cuci masing masing. Seperti yang diketahui bahwa kami punya kakak cuci sendiri yang berasal dari sekitaran mosa.

biasanya kakak cuci datang setiap hari kamis dan minggu. Jadi di setiap kamis sore dan minggu pagi sudah ada yang menunggu kami di lapangan untuk tukaran baju bersih dengan baju kotor. Pahlawan hidup kami. Makasih kakak cuci.

Dari pertemuan itu, kami mendapat undangan maulid kerumah mereka minggu depan. Tapi apa hendak di kata walau sudah 2 tahun bercengkrama, kami tidak tau rumah kakak cuci dimana, akhirnya pagi itu dengan baju olah raga kami ikut kakak cuci pulang kerumah mereka.

Melewati persawahan bekas panen yang panjang, jalan jalan sempit, hutan belantara yang rimbun hingga akhirnya sekitar 30 menit kami baru sampai di desa lain di cot geundret. Sejauh ini kakak kakak itu berjalan ternyata. Dan sama seperti kampung ku, daerah ini masih perawan dengan rumah panggung yang mendominasi dengan tangga menjulang dan sebuah kulah kecil di bawahnya. Ditambah lagi bau asap yang bercampur dengan kotoran sapi kering. Ahhh, harum. berasa pulang kampung

XXXXX

Seminggu kemudian, undangan itu kami sambut. Tengah siang saat matahari sedang mengganas, aku, maya, nanda , nita dan uja pergi maulid ketempat kakak cuci. Aku, maya dan nanda satu kakak cuci, dan ternyata uja dan nita yang satu kakak cuci juga diundang. Akhirnya sebagai satu satunya yang tau jalan maka akulah penunjuk arah siang itu. Kami pergi murni dengan kaki berjalan seperti jemuran sawah disiang hari dengan masing masing memegang sebuah kantung palstik berisi gula dan roti. Tepat 30 menit kami sampai disana.

Tujuan pertama adalah rumah kakak cuci aku karena rumahnya paling dekat. Kami masuk berlahan kesana, “assalamalaikum”, kata kami. Seseorang menjawab salam dari atas rumah, sesaat muncul kakak cuci aku.

“Jeh, adek goe, boeh tameung ile”, kata kakak cuci ku. Kami pun berlahan masuk. Tersenyum ramah dan ditawarkan langsung makan tanpa malu. Maulid adalah tradisi disini, semacam kenduri memperingati hari kelahiran nabi. Kami yang sudah jauh jauh ini pun makan hidangan yang ada. Mulai dari pulot dengan aso kaya, serabi, meusekat, timun kerok dan nasi beserta teman temannya. Kenyang? Lalu kami minta izin. “Jak jak lom beuh dek”, kata kakak cuci. “Jeut kak”, jawab kami. Dan next trip ke tempat kakak cuci uja dan nita. Jaraknya tidak begitu jauh dari sana. Dan kali ini kami sudah terlampau kenyang, jadi hanya minum lalu minta izin pulang.

” peu bagah that woe, preh ile siat”, kata kakak cuci nita.

“Ka jula nyoe kak”, jawab kami serentak.

“preh siat, nak jeut na honda saboh treuk jadi jeut kakak jak intat awak dreun”, kata kakak cuci.

Wah, kami terharu sampai ke tulang. Udah datang, dikasih makan , di antar pulang lagi. Dan kami 4 orang honda cuma 2, alamat kakak ini bakalan 2 kali bolak balik. Tapi, kami sudah berdeal menunggu sejenak hingga 1 honda lagi datang. Tak lama, tereng tereng, honda yang ditunggu datang. Kami pun diantar pulang. Sepanjang jalan jadi bahan tontonan anak anak. Dan sesuai tebakan, kakaknya 2 kali bolak balik. Dan ternyata tidak hanya di antar kami juga di beri sebuah kantung plastik hitam berisi makanan. “bekal keu eunteuk malam” kata kakak cuci.

Ihhhhh, kakak cucinya gak habis habis bikin terharu kami kami ini. Makasih ya kakak cuci. Makasih untuk sambutan hangatnya untuk kami dan makananya. Benar benar jalan jalan berhadiah

Advertisements

email

Perpisahan

Ngak nyangka udah 2 tahun disini. Setelah nangis nangis manja minta pulang setahun lalu. Bagi ku 2 tahun, tapi bagi kak mola dan anak leting 11 lain, ini sudah 3 tahun dan artinya sudah saatnya mereka berpisah dari mosa. Mandiri. Dan melanjutkan hidup sebagai manusia. Acara perpisahan mereka di beri tema email (ending miracle of eleventh).

Seperti semua perpisahan. Awalnya ada iringan drumband. Dan aku salah satunya. Lalu dilanjutkan kata sambutan dari kepala sekolah, ketua pelaksana, orang tua siswa dan siswa kelas tiga sendiri. Satu hal yang berkesan hari itu adalah pidato singkat dari bang iboy, mewakili kelas 3. Setelah panjang bermukatdimah dan bercerita, sampailah pada satu kata yang menurut ku kena!, masuk menusuk hingga ketulang dada. Kata katanya sederhana “jangan tanyakan apa yang diberikan dunia pada kita, tapi tanyakan apa yang kita berikan pada dunia, ayo berpacu! Satu piala buat mosa dari masing masing kita”, itu katanya. Kata yang mengakhiri semua pidato panjang tadi. Dan aku justru tertendang di kata terakhir. Bergidik tepatnya. Apa yang sudah aku berikan pada mosa?

Satu hal lain yang berkesan adalah video dokumenter dari anak leting 11 di putar. Berkisah tentang rutinitas kami. Rutinitas yang membesarkan kami. Mulai dari pagi, salat, makan, sekolah, salat lagi, makan lagi, sekolah lagi, main main, salat, makan, belajar dan tidur lagi, lengkap dengam variasi lucu diantaranya. Seperti kebiasaan kami berdoa sebelum makan, lobi kakak dapur untuk mendapat sebutir telur, foto kakak cantik yang tidak sengaja di temukan ditumpukan buku abang kelas, cerita di mading setiap malam senin dengan sebungkus kfc simpang lima, dll. Penuh kenangan. Cerita yang bahkan tidak pernah lelah kami ceritakan ulang nantinya.

Acara ditutup dengan bersalaman dengan para guru. Guru yang amat baik menurutku. Dan aku menutup hari itu dengan salam perpisahan dengan kak mola. Kakak kelas yang 2 tahun menjadi kakak kelas ku. Kakak yang mengayomi dan memberi banyak inspirasi untuk ku, terima kasih untuk waktu waktu itu dan maaf jika aku banyak merepotkan mu. Selesai acara, sorenya mereka semua pulang kembali kepangkuan ibu masing masing. Dan kami ditinggal dengan sepi dan akan menjadi kelas 3. Strata tertinggi di mosa.

Ah, tidak terasa, 365 hari setelah ini kami akan menjalani hal yang sama seperti mereka. Pergi meninggalkan pencara suci ini.

 

 

hidup kami

Tinggal disini. Tugas kami cuma 3. Makan, belajar dan tidur. Dengan variasi yang beragam diantaranya. Dan salah satu musim yang paling mengenaskan dalam proses belajar di mosa adalah saat ulangan. Kami ulangan harian setiap 1 bulan sekali. Setelah ulangan 6 kali kami menghadapi ujian semester. Seketika suasana mosa berubah saat musim musim ini tiba. Semua sibuk dengan buku yang di bawa kemana mana, ke kantin, lapangan bola, langan basket, ke musala, yang tidak dibawa ke ruang makan saja. Sisanya di kelas, di ruang tamu barak, di kamar masing masing, semua sibuk belajar. Membahas soal, tanya jawab, dan saling tukar pikiran.

Anak barak mawar punya cara unik menghadapi musim ini. Yaitu belajar bersama si ruang tamu. Semua yang berminat boleh berkumpul di sana. Membahas soal. Dan ini untungnya punya banyak teman yang pintar, jika ada yang tersendat ada sailormoon berbaik hati yang akan menjelaskan. Ada trisna yang genius luar biasa, atau nona, siti maisarah, ana, uja, putri soraya, putri irmayani dll sebagai pencerah di dalam kebuntuan belajar. Mereka pahlawan saat malam malam menjelang ulangan harian.

Namun, bagi menyukai ketenangan akan lebih memilih belajar di kamar sendiri. Setiap orang punya gayanya sendiri bukan? Namun, semua akan tetap keluar kamar jika esok ulangan dan lampu tiba tiba padam. Suatu malam dan besok ulangan fisika berjamaah di aula, tiba tiba lampu barak mati, gemuruh. Semua gaduh dan cemas. Belum belajar! Padahal menurut ku belum puas belajar tepatnya. Ahirnya kami mendapat lampu sederhana dari gensset sekolah. Sayangnya hanya 1. Terpaksa lampu yang semata wayang itu di letakkan di ruang tamu. Bak gula dan kami semua semut, kami pun di panggil olehnya. Penuh mengelilinya. Semua belajar dengan lampu seadanya. Hingga akhir malam. Yang penting belajar dengan sesakali intermezo.

Suasana belajar juga semakin memanas jika musim remedial berlangsung. Belajar lebih extra dan biasanya sasaran kami adalah mereka yang berada di strata atas pendidikan alias yang tidak remedial. Kamar mereka penuh kami sesaki. Seperti kamar trisna dan nona. Atau membentuk kelompok belajar sendiri, tidak usah susah jika tidak mengerti, tempat bertanya tersedia dimana mana. Inilah indahnya tinggal berasrama dengan semua anggotanya adalah keluarga.

Jika musim ujian semester datang. Kondisi belajarnya lebih memanas lagi. Kegiatan ekstrakulikuler dihentikan, rapat rapat di tutup, pagelaran sendi di tunda dan belajar malam dihentikan sementara dan prosus di stop dulu. Jadi biasanya sepulang salat zuhur,magrib atau isya ada yang menunda makan dan lebih memilih belajar di musala untuk sementara waktu hingga pukul 11 malam. Penuh, tak bersisa tempat bagi yang telat datang. Ah, seru sekali. Apalagi jika belajar setelah subuh di musala, berasa semua yang di baca masuk ke girus otak berlahan tanpa hambatan. Tersimpan disana hingga ujian selesai.

Selesai ujian, proses belajar berhenti? Tidak saudara saudara. Masih ada remedial jamaah menanti. Dan again, proses belajar kembali lagi. Pengumuman remedial adalah hal yang paling di tunggu. Biasanya di umumkan di mading sekolah. Semua berbondong kembali kesekolah, melihat hasil ujian. Jika tidak sampai skbm, maka siap siap mengulang. Waktunya seminggu. Belajar lagi untuk hari hari lebih baik setelahnya. Karena setelahnya pembagian rapor tiba. Jika semster genap kami pulang tapi di semester ganjil akan ada class meeting, inilah saatnya melepas lelah dengan produktif pastinya. Pagelaran olah raga dan tawa dimulai.

Keadaan ini terus berulang, terus seperti roda di jalan raya selama 3 tahun lamanya, selama kami menjadi anak modal bangsa.dan tidak ada cara lain untuk menjalaninya selain menikmati prosesnya. Terkadang bosan, terkadang jenuh, marah, tapi di lain waktu jalani saja. Bertahun setelahnya suasa seperti ini amat langka. Dan aku merindukannya. Merindukan suasa ketika kau membawa buku kemanapun kau tidak akan pernah dikatakan sok rajin atau sok pintar, rindu suasana bisa membaca buku di bawah naungan matahari sore di bawah pohon pinus sambil menyaksikan permainan bola, rindu belajar di musala, ditengah gelap malam tanpa ada yang protes tentangnya, rindu, rindu, rindu semuanya. Dan rindu tertawa setelahnya.

 

 

nakal di jam pelajaran

Nakal di jam pelajaran.

Bagi mosa anak kelas ipa 3 leting 12 terkenal sebagai kelas yang serius. Anak cowok kami terkenal pintar dan kami yang cewek terkenal kalem dan pendiam. Yang kalau senyum cuma nampak deretan gigi saja. Lebih dari itu, bagi anak kelas ipa 3 sendiri anak cewek melihat para laki laki kelasnya adalah tipe laki laki penjahat dan bagi anak cowok, kami adalah pembaca mantra. Mereka mengatakannya karena nyaris setiap pagi begitu masuk kelas yang mereka lihat hanya senyap dan beberapa wanita sedang berkumpul dengan buku mereka sambil menghapal dengan mulut morat marit mirip penyihir sedang membaca mantra. Padahal kami hanya belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. Karena keseriusan inilah. Kelas kami terkenal kelas pintar dan tidak banyak ulah. Tapi apa hendak di kata, kami hanya anak remaja. Terkadang nakal juga.

Waktu itu jam pelajaran pak suryadi, fisika. Semua mulai mengantuk apa lagi setelah pelajaran olah raga. Keliling mosa 5 putaran. Jelas kami lelah. Selanjutnya harus belajar fisika? Kamipun lemah. Di tengah pelajaran, anak cowok pojokan sana mulai berulah. Yap, mereka sedang berbagi tango saat pak sur sedang mejelaskan. Kami? Mana pernah kebagian. Beberapa tango sudah bergilir masuk ke mulut masing masing mereka. Namun pada satu gigitan, ilham terkena azab, langsung saat itu juga.

Karena ketika pak sur berbalik, mata beliau tepat membidik ke arah ilham, “ilham, kayaknya ada sesuatu di mulut kamu”, katanya.

“ngak pak, memang seperti itu gaya mulut dia”, deny andrea membela.

Padahal sebenarnya tanggo yang baru mendapat gigitan pertama langsung di telan bulat bulat oleh ilham, sesaat ketika dia sadar, dia tertangkap basah pak suryadi.

“Iya pak, ngak ada apa apa di mulut saya”, katanya.

Pak sur antara percaya dan tidak tapi apa hendak di kata. 1 lawan 30. Beliau telak kalah. Hehehehe. Maafkan kami pak.

“sakit kali tenggorokan aku”, kata ilham ketika pulang.

Hahahahaha. Kami hanya tertawaa

“teguran tu ham”, jawab ku.

Aku juga pernah menjadi bagian dari mereka. Hahaha. Siang itu pelajaran kimia dan entah mengapa, aku tiba tiba malas masuk kelas. Akhirnya untuk pertama kali dalam hidup aku bolos masuk pelajaran kimia. Dan bersembunyi di perpustakaan. Tepatnya aku hanya mencari suasana lain untuk belajar. Di perpustakaan adalah tempat yang tepat. 2 jam berlalu dan bel berganti pelajaran berbunyi. Aku menutup buku biologi yang aku baca tadi. Sesaat ketika hendak keluar perpustakaan, tiba tiba guru kimia ku datang menerjang dan masuk berlahan ke perpustakaan. “saya dengan ada anak kelas ipa 3 disini dan bolos masuk pelajaran saya ya?”, tanya pak guru pada petugas perpustakaan.

Aku maju dan mengancungkan tangan, “saya pak”, jawab ku takut. Telak aku kena timah panas dan ceramah panas dari beliau saat itu. Tanpa di beritahu aku tau siapa yang berlalat merah mengadukan keberadaan ku disini. Kali ini aku tidak membela diri, ini salah ku. Sempurna. Setelah meminta maaf aku kembali ke kelas dengan segudang malu yang menggunung seolah hendak menerkam.

“teguran dari Allah tu mut”, kata ilham.

Hahahahahaha, “iya ham, dan sangat cepat ya”, Jawab ku. Ini pengalaman pertama dan aku langsung mendapat pelajaran berharga dengannya. Kapok!

tugas biologi

Tugas biologi.

Walau satu kelas terdapat anak laki laki dan wanita namun asrama kami berbeda. Jadi biasanya kalau ada tugas agar gampang kami membaginya laki laki dan perempuan. Sehingga urusan mudah tidak perlu lintas barak. Namun kali ini kami mendapat tugas biologi berkelompok. Dan kelompoknya di acak. Ada laki laki dan perempuan dalam satu grup. Tugasnya adalah membuat preparat tentang tumbuhan di sebuah transparan lalu dipresentasikan melalui OHP. LCD masih jarang saat itu. yang membagi kelompok adalah buk lia, guru biologi baru. Dan muncullah dilema itu. Tolak menolak membuat tugas.

Malam sebelum tugas dikumpul, semua berkumpul di kamar sembilan. Kamarnya nita, ana, siti dan emia. Ini base campnya cewek ipa tiga. Semua keluh kesah tumpah disini. “Fik, gemana tugas biologi kita?”, tanya uci, uci sekelompok dengan fikri dan ilham. “yaudah ci, kita sms si ilham aja”, kata fikri. Proses negosiasi via sms berlangsung namun sayang hasilnya nihil. Ilham dengan lembut menolak. Akhirnya malam itu, fikri dan uci begadang untuk menyelesaikan tugas biologi.

Lain lagi maya. Dengan santai masuk berlahan. “Ada apa e?”, kata maya. “Tugas biologi buk lia may, udah siap?”.”oh, aku udah siap, si imam yang buat”, kata maya. Urusan selesai.

Aku dan nita yang kebetulan sekelompok, mulai gundah. “kita gemana ta?”, “yaudah, nita sms si arya”, kata nita. Sesaat kemudian “Mut, katanya kita disuruh keluar, orang ne mau bicara”, kata nita setelah mendapat jawaban sms dari arya.

Kami bergegas dengan mukena menuju mading. Di mosa itu bagaimana pun ceritanya, aurat harus tertutup. Tapi kalau perlunya sebentar, dan untuk yang sebentar itu harus memakai pakaian rapi dan lengkap akan sangat memberatkan, alternatifnya adalah sebuah rok dan mukena sudah memadai. Kami menuju mading. Yang letakknya pas didepan barak mawar. Mading ini saksi bisu semua kisah asmara santun disini. Sesampainya disana ternyata tidak hanya arya tapi juga ada yusra. Kami juga satu kelompok. Awalnya kami pikir akan terjadi negosiasi alot 8 mata saat itu, ternyata.

“Kalian buat aja, lagi malas kali kami”, kata arya, sambil menyodorkan dua buah okky jelly drink, dan sebungkus tango.

Hahahahaha. Mereka hendak menyogok kami ternyata. Awalnya kami menolak mentah mentah. Tapi dari pada saling menolak tanpa akhir, kami pun menyerah dan “Hmmmmm, baiklah, kita deal”. Sepakat, gambar yang tidak seberapanya itu diganti dengan kudapan malam sederhana. Kami berpisah dengan kesepakatan damai. Sesampai di barak kami langsung mengerjakan tugas. Ternyata gambarnya sederhana , hanya spora dan bagiannya. Sederhana namun tetap kami begadaang malam itu. Bersama uci dan fikri.

Pagi tiba. Aku, fikri, nita dan uci santai saja masuk kelas. Tugas kami sudah selesai. Tiba tiba maya menyapa imam, dia gundah. “mana tugas kita mam?”, tanya maya. Dengan senyumnya imam maju dan menyodorkan sebuah kertas transparan bersih dan masih mengkilap. “tenang may, kita buat sekarang”. Kata imam. Sesaat muka maya pucat pasi. Imam telak menipunya, tidak ada setitik pun gambar di transparan mereka. Dan hanya kelompok mereka yang belum selesai. Jadi ketika si maya pucat, maka dia manusia. Namun si mata ramah, memilih mengambil spidol dan mulai menggambar dari pada membuncahkan amarah pada imam.

Dan pelajaran biologi yang ditunggu tunggu datang. Semua cemas. Tapi hingga bel tanda pelajaran berganti buk lia tak kunjung datang. Siang itu kami gagal presentasi karena buk lia tidak masuk. ada rapat mendadak katanya. Hahahahaha. Rugi bergadang dan pasti maya merasa rugi sesaat pucat.

“lihat kan may, feeling imam jarang salah”, kata imam.

Kami terdiam.diam yang panjang.

 

 

sure dini hari

Sure bakar, dini hari

Hari ini ada acara makan besar. Aku gk tau dari mana dan dalam rangka apa. Tapi tiba tiba udah ada aja berkilo kilo ikan tongkol alias sure di dapur. “anouncement, for all of girls in modal bangsa please go to kitchen room”, bunyi suara pengumuman dari musala. Beramai ramailah kami kesana. Buat apa? Untuk menyiangi ikan yang jumlahnya 200 buah pukul 9 malam.

Dengan segala gaya yang kami punya akhirnya ikan ikan itu bersih tanpa kepala. Sekarang giliran pemanggangan. Yang memanggang adalah anak laki laki. Tak jelas siapa dan dimana yang penting anak laki laki. Kami menunggu sambil bercanda di barak masing masing. Hingga pukul 11 teng. Satu persatu dari anak barak menyerah.

“Aku tidur aja”, “aku juga”, kata sebagian dari kami. Dan aku? Juga pergi tidur. Lelah dengan sekolah dan prosus hari ini. Hingga pukul 00.45 dini hari. Nita mengetuk kamar kami, “kamar 8, ikannya udah siap. Ambik yok”. Katanya. Setengah ngantuk dan mukena seadanya kami ke mading. Lalu makan ikan sure bakar dini hari tanpa rasa. Timingnya benar benar tidak pas untuk kami yang wanita wanita ini teman.apa rasanya sure bakar tengah malam begini. Ah.

Memperbaiki kesalahan. Akhirnya di kesempatan berikutnya kami pergi ke laut dengan penuh persiapan. Jika kemarin ikan, kali ini satu leting kami berencana akan bakar ayam. Sejak sore puluhan ayam sudah nagkring di dapur. Lagi dan lagi kami membersihkan ayam berjamaah disana. Hahahahaha. Ada yang bisa dan mahir. Nita irawati, tapi ada yang pegang pisau pun tidak bisa. Setelah siap, ayam di ungkep sama kakak dapur. Kerja sama yang baik.

Besoknya, tereng tereng. Kami naik kendaraan pribadi alias labi labi. Setidaknya ada 4 labi labi disewa. Bawaannya banyak, ada ayam ungkep, 4 galon air, buah, agar agar, dll. Semua sudah dipersiapkan. Masing masing kelas menyumbangkan satu makanan tambahan.koordinasi yang baik. Asikkkk makan enak kita hari ini.

Tujuan kami lampuuk. Laut tujuan semua orang aceh. Laut yang indah dengan pasir bening dan air biru mudanya. Ah anak muda. Sampai di sana, kami membagi tugas, yang bakar bakar tugas cowok. Tugas kami,potong buah dan kue. Tiba tiba “buat rujak yok”, seorang memberi ide. Terbuatlah air rujak dengan buk dar sebagai chief utama. Hahahahahahaha.

Tengah hari, semua baru siap. Dan kami akhirnya bisa makan enak. Tidak ditengah malam lagi. Ini baru moment nya mantap. Sama sama senang kita jadinya. Selesai makan, semua sampah di bersihkan kami salat berjamaah di laut Tuhan. Ah,,, lega rasanya. Salat dengan latar belakang ombak, angin yang menderu kencang membuat aku hanyut sekaligus terbang. Ini salah satu momen yang paling aku suka ketika kelaut. Salat disana.

Usai kewajiban. Its time to main main. Ketika berjumpa laut dan pasir apa yang terpikir selain main main. Kami guling guling, main main, ketawa ketawa, sampek bosan dan puas. Hahahaha. Ada juga adegan, make a wise. Beberapa dari kami berkumpul di tengah pasir, membentuk lingkaran. Lalu membuat pernyataan. Berisi pernyataan atau doa agar yang tidak baik pergi jauh. Semua di gabung jadi satu dan seolah di letakkan ke dalam aqua beserta sedikit pasir. Setelah terkumpul. Botolnya kami buang. Filosofinya agar semua hal buruk pergi jauh. Dan biarlah kami hanya tinggal dengan cita cita baik saat ini.

Kami beramai ramai membuangnya. Hal buruk yang ingin aku buang sederhana. Hanya tidak ingin marah marah dan terus berdamai dengan keadaan. Hahahaha.

Matahari turun, menyingsing, dan sebentar lagi sore akan datang. Puas bermain, puas melakukan hal aneh dan gila di laut kami pulang, di antar abang labi labi ke cot geundret. Semua tepar. 2 jam perjalan habis dihabiskan untuk tidur dengan berbagai posisi di dalam mobil pribadi sehari kami. Labi labi. Tapi aku senang dan aku puas hari ini. Kapan kapan kita jalan jalan lagi ya.

 

 

masuk T-gusi

Kelas dua. Saat nya membuka diri dengan organisasi. Benarkah? Hahahahahahaha. Aku tidak tau pasti. Walaupun memang dari semua strata di SMA menurut ku kelas 2 lah rajanya. Kelas 1 masih masa adaptasi dan kelas 3 mempersiapkan diri untuk UN dan SPMB. Jadi waktu untuk berleha leha, menjadi adik sekaligus kakak, sudah mengerti medan namun tidak dikejar kejar ujian, ya cuma di kelas 2. Inilah penghuni sekolah sesungguhnya. Hilang masa kelas 2 mu, hilang lah masa SMA mu. Mungkin begitu.

Saat naik kelas 2, semua mulai berubah berlahan. Tampuk kepemimpinan berpindah ke leting kami, mulai dari ketua osis terpilihlah aulia hidayat sebagai ketua. Lalu ketua RIMIP yaitu semacam rohis ditempat lain di di pimpin oleh aan. Intinya semua berubah kepemimpinan dari kelas 3 menjadi kelas 2. Jika ada acara pun seperti maulid, israk mikraj, perpisahan, dll yang menjadi panitia utama adalah kelas 2. Dan saat ini aku mulai bangkit. Aku berlahan berdamai dan menerima kenyataan. Aku tidak pandai berorganisasi, jadi dari semua organisasi yang ada, salah satu yang menjadi pilihan adalah T-gusi.

Ini eskul yang paling bonafit menurutku. Hahaha. Karena berhubungan dengan unsur seni. Ada beberapa cabang dari T-gusi ini, seperti cabang tari, puisi, vokal, dan drama. Jadi siang itu aku ikut seleksinya. Hampir semua anak seleting ku ikut termasuk aku, maya dan fikri. Kami dikumpulkan di aula. Dan tes dilakukan disana dengan beberapa pos disekitaran aula. Seperti bagiannya maka pos di bagi 4. Pos pertama, T-gusi puisi. Yang berdiri di pos itu adalah bang zuhri habibullah. Aku di sodorkan sebuah buku fisika lengkap dengan bab gerakan lurus berubah beraturan.

“coba baca dek, seperti orang baca puisi ya”, kata bang zuhri. Ya allah, mana bisa aku. Dijadikan puisi pula. Tidak. Akhirnya aku selesai dengan membaca buku pelajaran dengan intonasi suara terbodoh yang aku punya.

Post selanjutnya post drama. Disana ada bang fitra fahmi yang sekarang jadi abang none. Aku disuruh apa? Aku disuruh untuk menembak abang kelas yang aku lupa namanya siapa. Hahahahah, tertawa bulan mendengarnya. Melihat laki laki saja aku takut. Apalagi menembaknya. Ah mati saja.

“Abang, adek suka sama abang, abang mau jadi pacar adek?”

Hening dan semakin hening.

“Gak mau dek”,jawab di abang. Sungguh aku lupa siapa orang nya.

“Yaudah kalo gitu, bang”,kata ķu.

“hahahaha, itu bukan main drama dek, tapi melafalkan text drama”, kata bang fitra.

Oalah, terus salah aku?hahahahahaha.

Next post selanjutnya. T-gusi vokal. Hahahaha. Meledaklah semua. Kami mendapat instruksi bernyanyi apa saja dan mengubah semua vokal menjadi o. Dan aku sempurna tertawa ketika bernyanyi. Jika ada meja juri x factor pasti sudah tet duluan sebelum aku selesai. Hahahaha.

Dan yang terakhir pos tari. Kami disuruh menari gaya bebas sesuka hati. Begini begini aku pernah jadi penari kelas 6 SD dulu. Nari ranup lampuan. Tarian khas aceh yang di pelajari anak TK hingga perguruan tinggi. Jadi hanya di sini aku sedikit merasa berarti. Aku terus menari seperti yang aku bisa. Test pun berakhir menjelang sore. Akhirnya kami pun pulang dengan beragam cerita. Setengah di kerjai? Hahahahaha, aku rasa iya. Tapi yasudahlah setidaknya aku banyak tertawa hari ini.

Dan pemgumuman tiba. aku lulus t-gusi tari bersama si cantik ica, teman sekamar ku uja, fani alvianti (fani), meutia, nona suci rahayu, rini foelyati, emmia. Fikri di puisi. Si mata ramah tidak masuk kali ini. Dan aku resmi menjadi bagian dari peradaban mosa walau hanya sedikit saja.

Senang menjadi bagian anak tari. Kami pernah beberapa kali tampil. Misal pada perpisahan kelas 3, acara kebesaran mosa alias flash, dan saat study tur ke bandung dulu. Walau tidak seeksis anak drama tapi boleh lah. Dan sungguh aku menikmatinya.

Suatu malam, setelah salat isya dan makan.  semua bagian dari serangkain acara flash di panggil ke aula untuk latihan. Jadi yang perform pertama kali anak drama, kami menunggu sambil menyaksikan mereka. Selanjutnya musikalisasi yang perform. Dan aku terpana, mereka keren! Terakhir baru kami maju untuk latihan.

Aku santai saja, menari seperti biasa, tidak ada yang aneh, walau sesekali teman sekelas ku abdul hafidh (bedol), meneriaki, “mut, jangan seperti robot lah”. aku tetap santai. Hingga setelah selesai latihan kami pulang dan aula ditutup. Masih tidak terjadi apapun.

Sesampai di barak saat hendak berganti pakaian, aku melihat dengan seksama celana ku robek tepat di daerah selangkangan. Aaaaaaaaaaaaa. Aku malu malu malu. Tidak tau pasti apakah ada yang melihat atau tidak robekan ini. Mengingatnya membuatku ingin menari dengan memakai rok saja. Hahahahaha. Selanjutnya, 700 hari setelahnya hanya t-gusi, rimip dan mapala yang menjadi bagian organisasi yang pernah aku ikuti selama di mosa. Setidaknya masa kelas 2 ku tidak melayang begitu saja. Walaupun tidak ada hal specta disana. Hahahaha.

 

 

art night

Latihan malam seni di kelas setelah makan malam
Latihan malam seni di kelas setelah makan malam

Malam seni kami.

Disini setiap 3 bulan biasanya pengurus osis bagian kesenian menyelenggarakan malam seni atau art night. Setiap kali digelar, acara ini punya tema tersendiri. Misalnya around the world, tokoh, dll. Panitianya biasa ditunjuk. Mulai dari kelas X1, 3 bulan ke depan XI 2 dan selanjutnya, atau panitianya bisa anak t gusi atau malah anak osis. Intinya ada tema dan setiap kelas harus menampilkan parodi mereka masing masing.

Setiap peserta punya waktu sekitar 1 bulan untuk mempersiapkannya. Acara biasanya dimulai setelah makan malam. Makanya di sebut malam seni. Inilah salah satu malam yang sangat aku tunggu di mosa. Malam yang akan sangat seru andai saja aku hanya menjadi penonton. Hahahahaha.

Kelas kami mulai dari X3, X1 ipa 3 hingga kami menjadi XII ipa 3 tetap tidak pernah berbakat bermain drama. Tidak hanya satu dua orang tapi nyaris semua. Jangankan main, ide saja kami tidak punya. Miskin ide ternyata sangat menyiksa.

Malam seni pertama temanya around the world. Kami punya ide sederhana saja. Hanya menggambarkan beberapa daerah di dunia dengan latar belakang berbeda dan musik yang sesuai. Misalnya ketika sedang di mesir, kami menampilkan bapak bapak dengan surban dan wanita bercadar, dengan latar lagu padang pasir. Itu mesir versi kami. Aku kebagian peran menjadi wanita bercadar itu. Hahahahaha. No dabbing no efek menakjubkan. Menangkah kami? Jauh panggang dari api.

Penampilan kakak kelas kami, memukau. Mereka memadukan musik dari banyak negara. Plus dengan tariannya. Jadi seperti memotong motong musik dan menyambungnya dengan bagian lain dan diikuti dengan tarian khas sesuai lagu. Efek suaranya bagus. Mereka kakak kelas XI ipa 1. Keren. Terang saja, ada bang heru junaidi disana.

Selanjutnya malam seni kami tidak pernah jauh berbeda dari kisah pertama. Untuk tema kesekian kalinya. Kalau tidak salah tentang karton. Setelah berhari hari mencari inspirasi, naskah selesai dan kami memilih kisah doraemon sebagai judul. Pemain? Semua acuh, ide cerita? Comot comot. Entahlah dan bismillah. Kami pergi dabbing, dan dabbing kami di tolak di semua radio. Waktu itu, aku, ana dan amar yang mencari tempat dabbing.

Kami keluar pukul 5 sore setelah prosus selesai. Awalnya sasaran kami jati fm, kami di tolak. Lalu kami terbang ke ketapang dengan becak menuju flamboyan kami gagal, mereka sibuk. Selanjutnya setelah berpuluh kali bertanya kami sampai pada prima fm dan kali ini kami juga tidak berhasil. Lanjut cerita kami ke ketapang menuju nikoya fm, kali ini radionya sedang ada talk show. Kami gagal, akhirnya kami hanya membeli beberapa kaset lagu sesuai dan berencana dabbing sendiri seadanya. Oke fix. Kami pulang, dan ternyata hari sudah malam tanpa labi labi lewat. Apa hendak di kata, abang becaklah penyelamat. Malam itu setelah lelah menelusuri radio sebanda aceh, kami pulang tanpa hasil diantar abang becak hingga selamat sampai ke mosa.

Dan pintu gerbang di tutup saudara saudara. Untung tak lama kemudian bapak satpamnya datang, jika tidak alamat manjat pagar malam ini anak mudanya. Hahahahaha.

Kami tetap latihan, latihan dengan dabbing seadanya dan ide cerita minim. Tetap semangat hingga akhir walau sesekali sempat kesal, ngambek dan batal latihan.

Semakin dekat malam seni semakin seru. Setiap tempat selesai isya penuh dengan mereka yang latihan. Bisa di aula, ruang makan, kelas masing masing, bahkan lapangan tenis. Penuh, asik melihatnya. Dan akan lebih asik jika ide ceritanya juga asik.

Walau ide cerita jelek, Namun ipa 3 tetap tidak pernah hilang semangat.

Malam yang ditunggu datang. Semua tampil hebat ada yang tiba tiba muncul dari kursi penonton, ada yang muncul dengan sepeda unta, ada yang menjadi nenek tua. Dan drama terbaik jatuh pada teman seleting kami, X1 ipa 1. Ide cerita mereka asik. Putri soraya, fani, chaha dan siti maisarahlah pahlawannya. Saat mereka tampil semua terbahak tertawa, panggung ditutup, sontak tepuk tangan bergemuruh.

Sesaat kemudian kelas kami dipanggil. Banting, bak langit dan bumi. Kami maju tanpa sorak sorai apalagi tepuk tangan. Reputasi kami sudah menjalar kemana mana. Dan sesuai dugaan. Semua hancur. Pemain saja tiba tiba tidak mengerti mana yang jadi doraemon, mana sinchan, mana nene, bo , nobita. Apalagi penonton. Hahahahaha. Sampai selesai pementasan, tetap tidak ada tepuk tangan. Hahahahahahahaha.

Inlah kami. Tapi aku berterima kasih sekali kepada ana, uja, irma yang menjadi sizuka, sidiq yang dengan baju birunya menjadi doraemon, owen yang membuat rambutnya lepek menjadi nobita dan ismi menjadi bo. Kalian pahlawan kami walau tanpa sorak malam ini teman. Kami juara terakhir malam ini. Hahahahaha. dan ipa 1 tetap menjadi juara.

Tapi di lain kesempatan, malam seni selanjutnya, belajar dari kesalahan yang menyakitkan. Kami bangkit dan mendapat juara 2 dari 5 peserta. Anak muda sering kalah dulu sebelum menang bukan. Dan malam itu kami pulang dengan foto bersama terlebih dahulu malam seni pertama yang berakhir damai.

Ah malam seni. Aku selalu merindukannya. Suasanya nya. Acara biasanya selesai pukul 12.00 malam. Tak ada sana sini, teng semua harus kembali ke barak. Disinilah saat saat aku bisa melihat langit yang gelap, di penuhi bintang cemerlang seperti berlian. Berkilau. Apalagi ditambah dengan angin malam sepoi sepoi. Sempurna. Bertahun kemudian setelah aku keluar dari mosa, parodi ini adalah hal yang amat sangat jarang aku saksikan. Apalagi langit malam dari kaki gunung di tengah malam. Ah, aku rindu.

Foto bersama di aula setelah dapat juara 2 dari 5 peserta
Foto bersama di aula setelah dapat juara 2 dari 5 peserta

CYMERA_20150505_142555

artis dadakan

Artis.

Tinggal bersama dengan anak daerah dari seluruh aceh itu menyenangkan. Selain membawa kebiasaan masing masing, sebagian dari mereka juga membawa kekhasan wajah masing masing. Jadinya, muka kami sering bervariasi, walaupun jika minggu tiba gaya kami tidak akan jauh berbeda. Dengan ransel dan kaos kaki warna warni. Dan beruntungnya karena keberagaman itu banyak di antara teman kami yang dianugerahkan Allah wajah yang cantik. Cantiknya sekali lagi juga berbeda beda, banyak jenisnya. Apalagi kakak kelas kami penghuni anggrek. Dari ke 40 orang mereka nyaris semuanya cantik, walau ada yang hitam pun tetap manis. Dulu sebelum masuk mosa tinggi badan adalah salah satu kriteria. Jadi sebagian besar anak mosa zaman dulu punya tinggi ideal. Cantik dan tinggi itu anugerah menurutku. Dan cantik itu pula membawa 3 teman kami menjadi artis dadakan.

Ada nona suci rahayu, dara cantik asal banda aceh. Sudah cantik juara kelas lagi. Selanjutnya umi erlina. Kulitnya putih mengkilat dengan senyum menawan, dara ini berasal dari kuta cane. Dan terakhir si arab yang amat sangat terlampau terkenal diseluruh modal bangsa, faraisha hizra alias ica, si cantik yang pertama kali aku temui dulu di musala. Dia dari loksemawe. Mereka bertiga di undang untuk menjadi pemeran utama untuk iklan coca cola. Selain itu ada beberapa anak cowok yang akhirnya terpilih, yang aku ingat hanya teuku azranysah alias popon. Selain ganteng dia juga jago debat. Aku tidak tau apa yang terjadi. Yang aku tau mereka tidak masuk prosus hari itu dan mendapat izin khusus menjadi artis dadakan.

Sore menjelang, icha and friends pulang ke barak. Semua sontak berseru ramah, “cie, artis”, “ngapain cha?”. Begitulah kami bertanya penasaran. Dan pertanyaan penasaran lainnya.

Icha tertawa kencang, “hahaha, gak ada, cuma minum coca cola dan fanta aja, sampek kekenyangan icha”, jawab ica. Puas mendengar cerita icha sore itu kami semua bubar. Azan magrib juga sudah berkumandang. Ada ada saja. Andai mereka tidak sekolah disini, mungkin mereka akan menjadi next top super model asia. Hehehehehe

 

 

punya cita cita

Menyusun cita cita. Inilah yang biasanya dilakukan anak anak modal bangsa saat mereka duduk di kelas 2. Kebiasaan ini aku tidak tau darimana asalnya. Tapi memang dibeberapa tempat seperti di lemari buku, lemari baju, kaca, tempat tidur, meja kelas, ada saja tercoret sedikit mengenai cita cita ini.  Cita citanya beragam. Mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang. Biasanya ada beberapa diantara mereka yang secara langsung menulisnya besar besar pada sebuah kertas dan menempelnya di dinding kamar. Ada yang bertulis “semangat, masuk ugm”, “belajar yang rajin dan tembus ITB”, “jangan bermalas malasan, harus masuk UI”, ” SEMANGAT BELAJAR UNTUK UN DAN SPMB”. Itu hanya beberapa, masih banyak yang lain. Menulis adalah menyugesti dan melihatnya setiap hari sebelum tidur adalah motivasi. Gantunglah cita cita setinggi langit karena kita masih muda.

Dan aku termasuk satu dari mereka. Namun, cita cita itu tidak aku tulis besar2 di karton lalu aku tempel. Aku hanya menuliskannya di buku diaryku. Disana tertulis 1 februari 2007. Aku hanya punya 2 rencana saat itu. Rencana satu adalah rencana jangka pendek dan yang kedua adalah rencana jangka panjang.

Rencana jangka pendek aku sederhana. Aku hanya ingin hidup lebih berarti. Berarti di dunia, akhirat dan orang lain. Sederhana, aku ingin bisa selalu salat di musala, khatam alquran dalam 3 bulan, tahajud minimal 2 x dalam seminggu. Selanjutnya untuk dunia aku ingin terus rajin belajar. Dan untuk orang lain aku ingin berhenti bergosip tentang mereka dan menjaga emosi. Sederhana bukan? Sederhana dalam tulisan tapi berat dalam tatalaksana.

Rencana jangka panjang ku sangat bombastis. Spektakuler. Sehingga saat membaca ulang, aku tidak tau keyakinan besar darimana yang muncul saat itu. Di masa muda yang masih sangat belia itu aku pernah bermimpi setelah tamat SMA aku harus belajar rajin agar bisa masuk tehnik perencanaan kota dan wilayah di ITB atau masuk tehnik industri IPB atau managemen agribisnis di IPB. Inilah tujuan aku sekolah saat itu. Untuk masuk 2 universitas hebat di indonesia. Tidak ada yang salah dengan punya mimpi bukan? Inilah mimpi ku di usia 17 tahun.

Impian yang aku tulis rapi di sebuah buku dan ku beri tinta merah untuknya. Sungguh bersemangat masa muda ku.