OSPEK part II

Siang harinya kami dikumpulkan di musalla. Semua. Semua abang dan kakak juga hadir. Acara selanjutnya adalah muhasabah. Kami didudukan sesuai aturan laki-laki di depan dan perempuan di belakang. Setelah pembukaan dari ketua osis dilanjutkan dengan ceramah dari ustad. Seorang ustad maju kedepan dan memberikan ceramah kepada kami tentang “bagaimana seharusnya masa sekolah itu dihabiskan yaitu dengan bersungguh-sungguh”. Diakhir ceramah ustad menyuruh kami sujud.

Kami patuh dan bersujud.

Beliau memulai “ Coba bayangkan sekarang, kalian baru 4 hari disini. Ingat kembali saat ibu kalian melepaskan kalian dengan berat di penghujung pintu beberapa hari lalu. Membiarkan anaknya pergi Merantau ke negeri orang dengan harapan ketika anaknya pulang nanti, si anak bisa membahagiakan orang tua. Sebenarnya tidak ada orang tua yang dengan senang hati melepaskan anaknya pergi. Yakinlah tidak ada satupun orang tua yang begitu. Kalian cendera matanya, peneyejuk hatinya maka melepaskan kalian seperti melepaskan sebagian nyawanya. Setiap malam mungkin ibu kalian menangis, bermunajat panjang kepada ALLAH demi keselamatan anak-anaknya. Duduk tidak tenang tidur tidak nyaman. Pasti berfikir bagaimana anak mereka disana. Aman kah dia, sehat kah dia, bisa kah dia, sakit kah dia, sudah makan? Makan apa? Begitulah orang tua kita. Tidak lekang pikirannya selain memikirkan kita”.

Pikirkan ku melayang jauh sekali. Kejadian beberapa hari lalu, ketika mamak tetap tegas bilang, ” adek harus sekolah disana”. Walau berkali kali aku membujuk, berusaha melunakan hatinya agar aku dijinkan tetap sekolah di kampung halaman, jawabannya tetap “tidak”. Aku marah!

“coba banyangkan ketika kalian disini, siapa yang tahu mungkin kalian tidak punya waktu lagi bersama mereka. Mereka lebih dahulu di panggil Allah, bagaimana? Bayangkan. Coba bayangkan bagaimana. Sedangkan kalian disini sedang bercanda, bermain dengan teman-teman acuh semua perintahnya. Padahal ibu kalian menaruh banyak harap kepada kalian”.

Aku semakin khusuk dalam tangis. Tidak sanggup membayangkan ibu pergi sebelum aku sempat meminta maaf padanya. Maaf karena pernah begitu marah padanya.

“Kalian harus bersyukur bisa bersekolah disini. Banyak di luar sana yang berjuang tapi tidak bisa mencapai titik seperti kalian. Jangan sia-siakan kesempatan itu. terus belajar terus bersungguh sungguh. Ini saat nya ini waktunya”.

Aku akan berusah yang terbaik mamak, aku akan membahagiakan mu.

Tausiyah selesai. Aku terjaga dari sujud panjang ku. Ahh… hati ku lega. Amarah ku hilang. Aku berdamai dengan keadaan. Pasti ini yang terbaik dan mamak tidak akan salah dengan itu. (Bertahun setelah nya aku tau, “nasehat ibu tidak pernah salah, walau sekuno apapun).

Selesai tausiayah kami semua berkumpul di lapangan bola. Saling berpengangan tangan dengan teman dalam lingkaran yang besar. Ada api unggun ditengah kami. Dan lagi-lagi kakak –kakak mneginstruksikan kami untuk menutup mata. Saat Mata kami tertutup. Lagi dan lagi tausiyah. Mengenang perjalanan hidup kami yang baru dengan tantangan yang baru.

“Jadikanlah teman kalian sebagai saudara. Bersama dalam suka dan duka. Jangan pernah mengkhianati yang satu dan mendustakan yang lainnya. Karena kita satu”.

Aku berkata dalam hati, aku akan berusaha berdamai, berdamai, berdamai, dan menerima. Sulit memang tapi aku akan bisa.

Matahari sore menjadi saksi, kami anak-anak yang baru tumbuh dan baru keluar dari sangkar emas akan siap menghadapi semua tantangan demi masa depan yang lebih baik kelak. Dengan kerja sama dan bersungguh-sungguh. Disini di rumah baru ke dua kami yaitu SMA MODAl BANGSA.

“Boleh buka mata” kata kakak senior kami

Ternyata ditengah api unggun sudah ada 2 teman kami. Yang digiring berlahan ke tengah. Si gadis cantik ica dan owen. Mereka berulang tahun hari ini, maka sontak kami menyanyikan selamat ulang tahun untuknya. Api unggun habis dan langit sore sudah menguning. Sebentar lagi azan magrib datang. Maka setelah maaf-maafan dengan sesama dan senior kami pulang ke barak masing-masing. Dengan janji yang terpantri dai hati masing masing untuk masa depan yang lebih baik.

Ah, indahnya masa MOS, tanpa gaduh, tanpa marah, tanpa saling memukul, tanpa emosi hanya keinginan saling berbagi dan bekerja sama. Inti ospek yang aku jalani adalah kompak, kerja sama tim, kerja sama dengan senior, karena kita satu!

Aku beruntung pernah sekolah disini. Dan terima kasih kakak-kakak dan abang-abang semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s