OSPEK part 1

Mos atau bahasa kerennya ospek. Pagi, pukul setengah delapan kami sudah masuk kelas masing-masing. Aku masuk kelas X3. Teman sebangku tetap teman favorit, si mata ramah itu. maya. Dikelas ini ada 31 orang, 12 wanita dan 19  pria. Semuanya asing bagiku. Terakhir setelah kenalan kecil aku tau bahwasanya 4 wanita lainnya tinggal di kamar 9 tepat di depan kamar ku dan sisanya di kamar 3. Salah satu dari mereka yang aku kenal kemarin yaitu ica, wanita cantik itu.

Beberapa saat kemudian dua orang kakak kelas datang, seorang memperkenalkan diri bernama bang dayat dan seorang lagi bernama kak asa. Mereka adalah tentor kami dalam 3 hari ini. Selanjutnya kami  memilih ketua kelas dan terpilihlah seorang pria yang namanya rahmat fitra mukti. Dialah ketua kelas kami hingga setahun kedepan.

Urusan ketua selesai dan kami masuk masa orientasi hari pertama. Kami diajak saling memperkenalkan diri masing masing dan asal daerah. Baiklah yang pertama sekali memperkenalkan diri adalah rahmat fitra sendiri, lalu ada imam adi nugraha, yusra abu bakar, abdul hafiz, rezki herlianda, dhian saputra, riski ananda, hizriawan. Kurben, reski herlianda, riski aryadi, ismi radiallah, 3 teman kamarku dan aku, wanita cantik kemarin yaitu ica, dilanjutkan putri pouna, nita irawati, irama novita, cyntia sari, sitisafiatun, ana fitria, emia tambarta, M. Ilham isna, T. Muamar, reza nuriman, irvan juliadi, deny andrean, M. Sidiq, mukti ali.

Yang paling berkesan saat perkenalan adalah saat seorang anak bernama mukti ali, asal bebesen memperkenalkan diri. Suaranya dalam sekali, amat dalam dan kasar sehingga angker mendengarnya. Satu lagi yang unik adalah ismi radiallah. Fasih sekali dia mengucapkan mtsn 1 banda aceh. Ha nya menggema dalam sekali “Cehhhhhh”.Hahahaha

Inilah teman-teman ku, suka duka kami dan semangat kami sampai 3 tahun ke depan.

Selanjutnya pagi itu Kak asa dan bang dayat memperkenalkan MOSA kepada kami, mulai dari cara belajar  disini gimana, pinjam buku, jual beli bukuk masa masa ujian, olah ragam malam senin, hingga celah-celahnya, asrama, pergaulan, guru, olah raga. Semua!! Sekalian tanya jawab.

Acara siang itu berakhir dengan kuis tanya jawab teka teki. Aku dapat gantungan kunci bergambar mosa yang masih ku simpan hingga sekarang karena bisa menjawab satu pertanyaannya. Bel berbunyi dan setelah itu Kami  pulang, salat, makan dan berkumpul lagi jam 3 di lapangan sekolah.

Dalam bayangan ku MOS itu seperti aku smp dulu, atau yang sering aku lihat di jalan-jalan. Muka di cat dengan bedak dingin, memakai topi aneh bergantungan sampah atau permen, tas yang dari bekas karung beras, pokoknya seaneh anehnya tampang. Lalu dimarah-marahi, di jemur, dan di bentak-bentak. Ternyata tidak. Disini berbeda, kami diberlakukan layaknya manusia dan diberlakukan semestinya sebagai adik. Kami datang kesekolah dengan baju biasa dan menjalani rutinitas seperti tadi. MOS dalam sudut pandang yang berbeda tapi disini indahanya.

Siangnya kami berkumpul. Apa kami dimarahi? Tidak sama sekali. Kami hanya diajak main permainan alam. Kami dikumpulkan di lapang dan di bagi kelompok kecil. Disinilah aku melihat sekali lagi semua teman leting ku. Leting 12 yang jumlahnya ada 90 orang.

Peraturannya dalam pertemuan ini adalah kami harus melewati beberapa pos. Ada pos yang suruh merangkak di bawah ranjau, siapa yang cepat dia yang menang, lalu pos yang menyuruh buat yel-yel, pos naik perahu yaitu dengan satu kain yang dilipat sekecil mungkin tapi kami masih bisa menampung semuanya, pos nyanyi dengan huruf O semua lagu. Begitulah. Intinya kami saling mengenal dan saling bekerja sama dengan sesama teman baru. Sesaat aku lupa dengan sedihku, lupa dengan lara ku, dan sedikit terbiasa dengan semua.

Hari kedua acaranya sama. Bermain, berdebat, kuis, belajar, dan siangnya kami diajarkan PBB di lapangan. Intinya kami diajak kompak, kompak dan kompak dengan sesama anak kelas. Pesan abang dan kakak kelas adalah “disini harus kompak dek, satu sakit semua sakit”, oke!okeee.

Disela sela itu, kami diharuskan mengumpulkan tanda tangan kakak kelas, kelas 2 dan 3 punya poin berbeda. Dan jika pengurus osis, poinnya jauh lebih berbeda. Aku sih santai saja, karena ngak ada punishment apapun. Temanya “agar kenal senior”. Oke sip! Teman terbaik adalah umi erlina, tanda tangan senior di bukunya terbanyak seleting! Luar biasa.

Hingga hari ketiga masuk. Tiba-tiba muncul seorang abang  yang datang mengecek.

“dek coba hitung berapa kalian?”

Kami mulai menghitung, ternyata ada satu yang kurang.

“siapa yang gk ada?”, tanya abang itu. suaranya mulai meninggi.

Kami diam. “ketua kelas mana?”,

Rahmat mengancungkan tangannya.

“siapa yang ngak ada”

dengan kaku rahmat menjawab “karben bang?”

“kalian lihat kawan kalian, yang lain lagi sibuk mos dia kemana, siapa yang satu barak sama dia?” tanya si abang lagi.

Semua diam karena nada suara abang tadi semakin meninggi. Suara dan sorotan matanya mengatakan kemarahannya sudah diatas rata rata. Dia seolah hendak menerkam kami semua.

“kalian bela kawan kalian dengan diam ya, tau kalian tadi malam dia gak salat di musalla, pergi makan suka hati”.

Hening.

Tiba-tiba masuk satu orang abang lagi, mukanya lebih marah dari abang yang pertama tadi. “mana, mana anaknya, aku dengar dia merokok lagi, betol?” tanya si abang.

Lagi lagi kami diam. Takut amat sangat takut. Ini baru hari ke 4 teman. Belum apa-apa.

“kayak gitu kalian, diam terus. Bela kawan kalian. Sekarang aja udah kayak gini, gemana lagi nanti”

“siapa tau dimana kawan kalian?”

Semua diam. Kami bisu.

“kalian ya, setiap ditanya diam, ini aku laporin sama kepala sekolah, baru masuk udah bolos, mau jadi apa dia”. Kata si abang yang lain. Suasana antara gaduh, seram dan menakutkan. Padahal baru sesaat yang lalu kami berbagi cerita tentang pengalaman mos dengan kak asa dan bang dayat, tiba-tiba suasa berubah menjadi kelam. Oh tidak.

“boleh aku lapor? Kamu yang diujung, boleh?”

sontak teman kami menjawab “boleh”

“apa juga setia, kawan mau dikeluarin boleh jawabanya”

Mereka tertawa, menyindir dan mengasihani kami. Oh tidak.

Beberapa teman ku sudah menangis, air mata mereka buncah. Entah karena takut entah karena sedih kurben akan dilaporkan ke kepala sekolah tapi yang pasti semua mulai berkaca-kaca.

Tiba-tiba kurben datang. Semua abang-abang semangat melihatnya. Seolah hendak menerkam dan menelannya hidup-hidup.

“maaf bang, saya salah”, katanya jujur.

“kau, aku laporin ke kepala sekolah, banyak kali udah salah”. Kata abang itu,

“jangan bang”, jawan kurben.

Kami semakin senyap. Hanya sesegukan yang terdengar.

“lihat muka dia baik-baik, mungkin ini kesempatan terkahir kalian lihat dia”.
“lihat dek”, kata kak asa,

“ayo, jangan contohkan sikap dia. Ini contoh kalau melanggar peraturan di mosa dek. Kami gk pernah marah sama kalian. Pernah kalian kami maki? Kami bentak? Kami pukul atau kami aniaya?  tapi kalau kalian buat salah kami gk bisa tinggal diam”, kata bang dayat.

Senyap lama sekali senyap. Senyap yang penuh air mata. Semua bukan lagi kaca tapi sudah air yang mengalir deras. Yap, semua menangis termasuk aku.

“ini terakhir kalian lihat dia sebagai kawan kalian”. Lagi-lagi senyap yang panjang hanya denting jarum jam, suara ingus yang ditarik turun, yang menangis tidak hanya kami tapi juga abang-abang yang lain.

Lalu bang dayat dengan berlahan melanjutkan kalimatnya “ karena dia kelas 3, abang leting kalian”.

Sontak semua terkejut. Terkejut. Terkejut. Terkejut.

“iya, dia abang leting yang nyamar jadi adek leting, namanya wahyu ardiansyah”. Kata bang dayat.

Aaaaaaaaaaaaaaaahkkkkk#@$$&*=%*(@£@*@(@)!!!!!!!!!.

Akhirnya semua tertawa, semua tangis hilang. Seekejap. Ah, lega. Menyesal telah menangis. Tapi asli kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen, aku suka bagian ini. Ternyata anggota kelas kami tidak 31, tidak ganjil tapi 30, 1 dari mereka adalah penipu ulung alias penyamar. Setelah pembongkaran semuanya bersalaman. Abang-abang meminta maaf pada kami karena telah marah-marah dan berakting seolah hendak menelan kami hidup hidupnya. Siang itu berakhir indah. Akhirnya kami pulang dan pukul 3 berjumpa di musalla. Detik-detik mos yang mendebarkan bukan? Itulah yang akan terus diingat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s