masuk asrama

Aku masuk asrama mawar dan tinggal di kamar 8. Kamar paling ujung. Masing-masing asramanya kami sebut barak. Ada beberapa barak disini 4 untuk wanita dan 3 untuk laki-laki. Nama barak wanita adalah mawar, melati, anggrek dan garuda sedang barak laki-laki adalah balam, merpati, bangau,  Setiap barak  terdiri dari 10 kamar dan di setiap kamar ada 2 tempat tidur 2 tingkat, 4 lemari dan 4 meja belajar. Kamarnya tidak teralu sempit tapi juga tidak terlalu besar. Untuk ukuran anak sekolah kamar itu pas. Ada satu jendela di antara dua tempat tidur yang tampak tembus ke ruang makan jika kita memandangnya dengan seksama.

Begitu masuk ke kamar aku langsung melakukan apa yang aku bisa karena waktu itu aku sendiri hanya di antar abang yang bisanya beli ini beli itu. aku mulai mengelap meja belajar, menyusun baju, menaruh seprai dan merapikan kamar. Lalu seorang ibu datang.
“assalamualaikum, eh udah ada orang”. Katanya. Si ibu datang dengan seorang anak gadis manis dengan tatapan mata dalam dia sepertinya penghuni kamar ini.

Aku menjawab salamnya dan menyalaminya, “iya buk, saya mutia”. Kenal ku.

“oh mutia, ini maya anak ibu kami dari sigli. Dia sekamar sama kamu ya, baik-baik berdua”. Jawab di ibu.

Tepat dugaan ku. Anak dengan tatapan mata ramah itu adalah teman sekamar ku. Maya zammaira orang sigli. Sudah ku katakan selain diantar hanya dengan abang aku nyaris sendiri di SMA ini. Tidak ada teman yang aku kenal kecuali seorang abang leting yang sudah kelas dua pastinya. Anak guru bahas inggris SMP ku dulu. Dari  beliaulah aku tau sekolah ini. Tapi sayang dia laki-laki. Hasilnya sempurna aku sendiri di tempat orang. Dan ini dia teman pertama ku. Teman yang nyaris aku ikuti kemana pun dia pergi. Matanya yang ramah terus memanggil manggil ku untuk ikut kemanapun kakinya melangkah.

Setelah berberes kami semua di panggil ke musalla. Ada perkenalan dengan senior katanya. Aku dan maya beranjak ke musala. Dimusala ternyata sudah ramai. Semua anak kelas satu sudah datang ada sekitar 100 orang. Dan di depan kami sudah berjejer kakak-kakak dan abang-abang kelas. Wah, gagah sekali mereka. Aku serius amat serius. Apalagi seorang abang yang duduk di pojok sana, gagah sekali. Terkahir aku tau namanya bang arif habibal umam. Mereka duduk tegap dengan simbol baju tegak dan dasi serta jelbab yang rapi. Inilah anggota osis sekarang. Mereka memperkenalkan diri, mengucapkan selamat datang, memberikan wejangan dan memberitahukan bahwa akan ada masa orientasi selama 3 hari kedepan.

Aku duduk agak jauh dibelakang. Dikiri kanan ku selain maya yang sempat aku lihat adalah dua orang anak cantik nan jelita, putih bagai kapas dengan relief muka yang pas.cantik sekali pokoknya dan begitu mirip sampai aku berani bertanya. “kalian kembar ya?”, kedua anak itu tersenyum dan menggeleng. “gk kok, kami beda, nama aku ica”, kenalnya. Dan “aku uja”, kata yang satu lagi. Tak tau nya uja ini adalah teman sekamar ku yang ke dua. Huzra gani sundari dari lhoksemawe.

Setelah perkenalan dan seolah serah terima selesai aku kembali ke kamar. Di kamar ternyata lagi-lagi ada seorang ibu cantik yang sedang memasang seprai untuk anak gadisnya. Oh sungguh beruntung mereka.

“udah pulang nak? Si fikri mana ya?” tanya si ibu padaku.

“iya buk”. Dan aku diam. Si fikri? Siapa lagi itu, mana aku tau. Tapi sesaat kemudian kegaduhan datang. Seorang wanita muncul dari balik pintu dan diikuti 3 wanita lainya. Mereka bagai bos geng, mukanya ceria tiada duka. Langsung masuk kekamar dan satu persatu bersalaman dengan ibu tadi.

“gemana nak perkenalannya?” tanya si ibu.

“besok kami mulai MOS mak”, jawab si anak. Aku yakin inilah yang namanya fikri.

“hay, aku fikri”, kenalnya pada ku

“aku mutia”. Dan fikri inilah teman kamar ku yang ke 3, nurul fikriani. Lengkap sudah kamar 8 barak mawar, mutia, maya, fikri dan uja.

tiga wanita tadi juga  memperkenalkan diri.

“aku nona”

“aku trisna”

“dan aku momo”.

“aku mutia”, aku cuit saat itu melihat mereka. Wajah mereka yang tangguh dan senyum mereka yang sungguh. Mereka pasti anak banda aceh asli, anak kota dengan IQ diatas rata-rata. Lihat saja raut mukanya, seolah siap menghadapi dunia. Sedang aku. Aku hanya anak kampung yang pergi ke sekolah ini dengan marah dan takut. Ah entahlah, aku menangis dalam hati dalam sekali.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s