aku lega akhirnya

“huft, liburan berakhir”, kata ku dalam hati. saatnya kembali pada rutinitas lagi yaitu menyusun skripsi, bolak balik kampus untuk ketemu dosen pembimbing, keluar masuk perpustakaan, dll. Banda Aceh i’m come back

Seperti perjalanan pulang biasa, aku selalu setia naik L-300 “wak talib” . hampir 3 tahun menjadi langganannya membuat ku sangat yakin kalau perjalanan hari ini akan baik baik saja. perjalanan dari kampung ku di Lhoksukon, aceh utara ke Banda Aceh membutuhkan waktu sekitar 7 jam. perjalanan yang  jika dibayangkan memang jauh, tapi karena sudah biasa semua terasa sama saja.

Melajulah mobil L-300 andalan  tepat pada pukul 9.30 WIB. dimobil ini hanya ada 5 penumpang, aku, dua orang kakek dan 1 orang wanita serta wak talib sebagai supir. pembicaraan pembukan masih tentang topik yang sedang hot di Aceh yaitu tentang deklarasi salah satu calon gubernur . aku hanya mendengar alur pembicaraan, sesekali tersenyum mendengar komentar mereka, intinya percakapannya sangat terarah dan sambung menyambung. lelah bercerita semuanya senyap, dan seperti biasa dalam perjalanan yang membuat kedua bokong  ku nyaris rata, aku selalu tertidur panjang mulai dari loksemawe hingga tempat tujuan. aku bisa tidur nyaris 5 jam.hehehehe

4 jam mobil berlalu, aku terjaga dari tidur. seperti nya ada yang mengganggu dan ternyata “perut ku sakit, dan aku hendak BAB”…aku tahan perasaan yang amat sangat tidak menyenangkan ini. Mendeklarasikan keinginan sakit boker pada wak talib bukan lah hal yang bijak karena memalukan dan pastinya sulit untuk di kabulkan. aku tahan rasa ini hingga 1 jam.. menyiksa dan menyakitkan.

setelah 1 jam perjalanan, mobil berhenti untuk makan disebuah rumah makan di Grong-grong, kabupaten Pidie. Selama ini kalau berpergian aku jarang sekali makan di warung, biasanya aku akan membawa bekal dari rumah. Repot harus turun dan sendirian ditengah keramaian adalah alasan yang kuat membuat ku tetap bertahan  makan di mobil dengan bekal dari pada harus turun dan makan disana. Tapi hari ini berbeda, aku tidak membawa bekal dan kali ini kondisi aku dalam keadaan “emergency” untuk BAB , maka dengan langkah pasti aku turun

Dengan sedikit berlari  aku masuk kamar mandi “alhmadulillah”.

tapi, ternyata! setelah kuputar putar badan mengitari kamar mandi yang tak seberapa besar itu, aku tidak menemukan apapun kecuali timba, sumur, dan ember. “dimana klosetnya???”

sedetik aku gusar, akhirnya aku menghubungi sang pemilik warung

“pak, ada kloset gk dikamar mandinya??”

“ada. tapi,,,,,”

“tapi apa pak?”

pembicaraan terputus, karena si bapak sibuk dengan gelas, teh, gula dan air panas untuk pemesan

Ah. Tidak tau kah kau, penjelasan “tapi”mu itu amat penting untuk ku. aku sudah menunggu selama satu jam dengan perasaan amat sangan menyakitkan ini?

setelah selesai dengan 1 cangkir kopi dan 1 teh, beliau kembali melanjutkan “tapinya tadi”.

“tapi kan, di belakang ada mesjid”, jelasnya.
“tidak pak, saya ingin disini, dan saat ini!”

“yasudah masuk saja, angkat papan itu”. kata di bapak sambil menunujuk ke pojok kamar mandi

Aku pun masuk, dengan perasaan senang. Aku angkat papan sesuai aba-aba. Ternyata, masyalllah, klosetnya ada tapi????,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,mungkin tapi inilah yang ragu dijelaskan bapak tadi.

intinya aku tak jadi BAB disana. setelah makan seadaanya aku naik mobil lagi, berangkat dengan penyesalan dan mendongkol setengah mampus.

semakin semakin dan semakin menyikasa,,

Tuhan, akankah aku BAB di celana lagi? sebentar lagi kami akan melintasi hutan raya, hutan raksasa yang dikiri kanannya hanya ada tumbuhan, “selawah”, dimanakah akan ku dapati toilet?

berlari, pikiran ku tumpah ruah, melaju mobil sambil  melaju pula rasa sakit ini. “dikit lagi mau keluar,  tapi gak tau keluar dimana!! “. Banda Aceh masih 1 jam lagi ditambah mengantar penumpang, maka dengan hitungan kasar aku harus menahan sakit ini selama 2 jam lagi. Dan aku?”di pastikan akan Boker di celana!

“karam, mahasiswa tingkat akhir boker dicelana!” memalukan.

beruntunglah, setelah menahan rasa sakit dengan memegang erat bangku, aku menemukan titik temu. 5 km di depan tertulis mutiara indah. tempat pemberhentian orang -orang yang mau beli oleh oleh seperti keripik ubi segala warna, jagung, kacang, dll hasil pertanian orang saree. Kota kebun!

aku mengumpulkan segenap keberanian, peduli apa orang tau aku sakit boker, yang penting semua keluar

“wak talib, berhenti di saree ya”

“oke”

begitu mobil berhenti, ak berlariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, menuju kamar mandi

“plukkkkkkkkkkkkkkk”

huft,,lega,,,

“Kaleuh”,kata pak supir

“ka (sudah)”, jawab ku

sekarang mau perjalanan 5 jam lagi pun aku sanggup. oh sungguh!

alhmdulillah, ternyata memendam sesuatu itu yang “itu” amat menyakitkan. Ah aku lega!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s