mamak pusing

Asiiiik, liburan lagi. Spacing kardio. Spacing terakhir sebelum menjalani 7 bagian tanpa libur. Dan untuk itu liburan kali ini aku kembali kemari, ke rumah ini.

                Hari kedua dirumah. Seperti biasa kalau pulang kerumah pasti harus ke pasar, memasak, bersih bersih, dan semua pekerjaan wanita lainnya. Tapi kali ini orang rumah banyak yang sakit Jadi kerjaan aku bertambah satu lagi kali ini, yaitu mengukur tekanan darah orang rumah. Biasanya sih ayah. Kalau beliau pulang selalu bilang “nong, sini dulu, urus ayah dulu”. “urus ayah” artinya tensi ayah, jawab keluhan yang ayah bilang, kasih informasi dikit tentang gejalannya hari ini dan memberi sedikit saran untuk esok. Kalau mamak jarang minta di tensi. Kalau di tensi pun susah. Lengan beliau itu dua kali lengan orang dewasa normal. Sedangkan manset tensi itu cuma punya lebar 42 cmm pas untuk lengan orang dewasa. Jadi sering gak muat kalau beliau suruh tensi. Alhasil, aku paling jarang tensi beliau.

                Tapi, pagi ini mamak bangun dengan keluhan pusing. Dan bilang pusingnya karena tensi naik. Yaudah deh aku tensi aja dengan segala upaya. Dan benar tekanan darahnya naik sampe 160. Setelah beliau makan aku beri obat anti hipertensi dan beliau tertidur. Berselang beberapa jam setelah minum obat wajah beliau mulai hidup. Yah walau keluhan pusingnya masih ada. Tapi setidaknya beliau tidak tergeletak tak berdaya di tempat tidur dengan dahi berkerut.

                Agak siangan kami semua tertidur di tempat masing masing(mamak juga tertidur lagi). Aku seperti biasa, menghabiskan tidur ku dengan berbagai macam mimpi. Di tengan mimpi itu aku merasakan gempa, teman yang meninggal, banjir, dll. Intinya mimpinya alot. Berat! Itu ukuran mimpi siang bagi ku. Tapi, ditengah tidur siang itu, abang aku pulang. Suaranya menggelegar bak petir di siang bolong.

“nong, nong, nong”. Sontak aku terbangun untuk membukakan pintu.

“duh, abang buat orang terkejut”, kata ku. Mata ini tak sanggup untuk ku buka, mimpi dan tidur tadi masih sangat mengisi sebagian alam bawah sadar ku.

“hammmmm”, nyergir, siabang hanya nyegir. Dia masuk ke rumah dan langsung ke dapur mencari makan. Setelah selsai makan abang pergi lagi. Dan tinggallah aku dengan mamak lagi. Aku terbangun saat itu karena sudah waktunya zuhur dan tiba-tiba mamak keluar dari kamarnya.

“dek, pantesan mamak pusing kali, ternyata mamak banyak kali obatin orang”, kata mamak yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi. Entahlah aku tidak tau pasti apa mata beliau terbuka atau terpejam tapi yang pasti langkah beliau ke kamar mandi amat sangat terlampau pasti.

“oh ya”, aku bangun dari tempat duduk ku dan mendekat. “mamak masih pusing ya?”, tanya ku.

“iya, banyak kali mamak obatin orang, wak jenab lah,mak si cah lah,” jawab mamak sambil langsung kembali tidur.

Aku bergegas mengambil tensimeter dan stetoskop.”yaudah, sini adek tensi lagi mungkin tensinya belum turun”. Kata ku  siap dengan tensi dan stetoskop.

Aku pastikan sekali lagi , “mamak masih pusing kan?”

“gk, mamak gk pusing tapi mamak pening. Mamak pening karena banyak kali yang berobat sama mamak”, jawab mamak.

Aku bingung. Kubuka tensi dan siap ku tensi.

“buat apa tensi dek?” kata mamak,

 “buat tensi mamak lah”, polos

“mamak gk pusing lagi”,datar.

“jadi pusing maksudnya apa?”

“ah, adek tidur aja lagi, gak usah tensi mamak, mamak gak pusing lagi”. Kata mamak. Dan beliau kembali pada bantalnya dan kembali kepada tidurnya. Aku? Mendadak bingung dengan semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s