kebun kami part 1

KEBUN AYAH

                Rumah kami tidak besar. Tapi cukup lah untuk ditempati tanpa berdeak desak. Punya sedikit halaman dikiri kanannya sedikit. Cukup untuk ayah dan mamak bercocok tanam. Bercocok tanam apa yang cocok dengan selera mereka.

Awalnya halaman ini kosong melompong. Hanya Ditumbuhi rumput dan ditimbuni batu asal. Kalau ada tanaman pun hanya beberapa yaitu tanaman yang cocok dengan mamak misal ubi, pohon jeruk, kelapa, jambu dan pisang. Diantara semua tanaman itu pisang lah idola mamak. Walaupun jika musim buah tiba, buah yang paling sering jadi lahan sedekah mamak adalah jambu tapi tetap saja pisang idolanya. jadi tidak ada yang boleh mengusik keberadaan pohon pisang mamak disudut rumah kami.

Tapi suatu hari semua berubah. Entah dari mana ayah dapat ilham. Maka halaman rumah kami dirubah jadi taman bunga. Berbagai macam bunga mulai tumbuh dihalaman ini, mawar, pentol, dan bunga yang aku tidak tau namanya. Perubahan besar terjadi. Pisang kesayangan mamak di babat, jambu tercinta mamak di potong habis. Tapi mamak tidak ingin semua sirna maka ubi tetap dipertahankan untuk tetap ada. Jadilah diantara bunga bungaan itu muncuul beberapa batang ubi. Hahaha.

Kecintaan ayah, kini tidak hanya pada bebungaan saja, tapi memang dari dulu ada beberapa pohon menjadi idola ayah. Misalnya mangga dan sawo. Hmm, alhasil hampir disetiap sudut halaman kita akan menjumpai mangga. Di sudut kanan satu, disudut kiri satu, dan dibelakang dua. Terakhir aku dengar dari mamak alasan utama kenapa pohon jambu itu di potong adalah agar semua mangga di belakang dapat tumbuh leluasa tanpa terhalang jambu. Memang sih 3 pohon itu (jambu dan 2 pohon mangga) hidup berdampingan sambil saing saingan dapatin makanan dan cahaya matahari. Tapi karena pohon jambu yang paling besar dari ketiganya alhasil dialah juaranya dan dialah yang akhirnya dijadikan tumbal dengan ditebang paksa. Sekarang rumah kami plong tanpa pohon jambu raksasa itu. rasanya ada yang beda. Tapi apa hendak di kata.

Mangga memang pohon promadona bagi ayah. Kemanapun pergi dan apapun kendalanya jika ayah melihat pohon mangga dijual, pasti dibeli. Ditanam ditengah-tengah kericuhan taman dengan pohon lain. Ayah tidak peduli, yang penting “bak mamplam lon jitiomoh”.  Karena alasan mangga itupulalah muncul peraturan baru dirumah “harus kunci pintu pagar setelah masuk atau keluar rumah agar ngak ada kambing masuk menerobos dan memakan semua pohon mangga ayah”. Hahahaha. Peraturan itu harus berjalan karena jika tidak maka bersiap mendapat serangan fajar dari ayah.

Hmmmm, tanaman idola ayah selanjutanya adalah sawo. Dan tepat di samping pohon kelapa ada pohon sawo yang mulai tumbuh rindang. Pohonnya tidak terlalu tinggi tapi sudah berbuah. Ngak jauh dari situ ada pohon jeruk bali, nangka, jambu biji, dan kedongong. Dulu aku sempat ingin memberikan kontribusi terhadap kebun ini dengan menanam sersak. Sersak buah kesukaan ku. Maka walau terik panas membahana membakar badan aku tetap menyemai anak sersak disekeliling rumah. Tapi apa hendak di kata, hingga bulan berganti dan era warna kebun kami juga berubah tak sebatang sersak pun tumbuh menjulang ke atas permukaan bumi. Yah, aku gagal memberi warna pada kebun ini.

Bisa dibanyangkan, lima sampai sepuluh tahun lagi jika Allah mengizinkan umur panjang dan semua tanaman itu tumbuh subur dengan baik dan benar. Maka rumah kami tak ubah kebun dengan berbagai macam macam tanaman kesuakaan ayah. Makanya kebun ini Aku sebut  “kebun ayah”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s