dismenore

Dengan berbekal sebuah kursi, sebuah bantal dan sebuah sarung serta di dukung dengan lampu jalan yang mati aku duduk di antara pepohonan ayah yang mulai rindang, sambil menatap langit malam yang pekat. Pekat, kelam dan hanya di terangi dengan kerlap kerlip bintang. Diatas sana ada ribuan jumlahnya yang tidak sanggup ku hitung. Tersusun acak dan berterbaran. Seperti melihat mutiara yang berkilau. Semakin dipandang dan dirasakan semakin kita masuk kedalamnnya. seolah untuk sesaat aku tidak ada lagi di bumi tapi berasa berada diluar angkasa. Membaur dengan alam sehingga Hanya ada aku, bintang dan langit yang gelap.  Sungguh begitu indah Allah menciptakan alam ini.

Aku galau malam ini? Tidak. Jika aku sedang galau maka aku akan termakan dengan pekatnya malam dan kilauan bintang. Tapi saat ini aku sedang sakit perut karena mestruasi (dismenore bahasa kedokterannya) dan aku sedih mengingat ayah yang sedang sakit. Jadi, menatap bebintang di langit dapat sedikit membuat ku lupa bagaimana rasanya sakit dan membuat aku sedikit lega dengan bercerita tentang ayah kepada bintang malam ini.

Umur ku sudah 22 tahun. Dan aku sudah menstruasi sejak umur 13 tahun. Jadi sudah 9 tahun di setiap bulannya aku merasakan nyeri yang menyayat hingga ketulang. Nyeri yang datang di setiap bulan. Dismenore. Walau hampir setiap bulan aku bertemu dan merasakan sensasi nyerinya, tetap saja aku belum terbiasa sehingga  tidak merasa lupa kalau dia ada. Yap, aku selalu kesakitan yang amat sangat jika dia datang.

Ketika SMP kalau dia datang aku pasti pulang, di SMA pun tidak jauh berbeda. Aku selalu pulang. Tapi sekarang? Saat aku sedang dalam kepanitraan klinik. Aku tidak punya alasan untuk pulang saat dia datang menyerang. Aku hanya punya cara untuk “terus bergerak”. Inilah teori baru yang aku temukan.

Berawal dari suatu kejadian. Ketika dia datang disuatu bulan sungguh aku tidak merasakan sakit sama sekali saat itu. Sedikit pun tidak. Setelah aku cerna dengan seksama. Ternyata bulan ini aku bergerak dengan sangat aktif. Maka jika ingin bulan depan aku sehat dan seperti ini lagi, aku harus olah raga. Itu pikirku. Tapi itu tinggal rencana. Karena aku tidak punya waktu untuk itu. ujung ujungnya jika sakit melanda aku berpergian. “terus bergerak” seperti yang aku bisa.

Waktu itu sakit ini datang malam hari. Sakitnya membahana. Dan aku tidak tau harus mengadu pada siapa. Akhirnya Aku hanya bercerita pada Sang Maha Kuasa sambil menunggu pagi tiba. Hingga ayam mulai berkokok pagi itu. aku  bergegas keluar rumah. Memakai pakaian olah raga. SUBUH buta. Seorang diri dijalan raya. Tapi aku tidak peduli. Nyeri ini amat sakit untuk didiamkan di rumah. Aku bergegas.

Apa yang kulakukan? Berjalan, menelusuri jalan sepanjang yang aku bisa, menghirup udara pagi sebanyak yang aku mampu, memandang langit yang masih bertambur bintang dan bulan,dan terus berjalan. Melupakan sakit ini. Sakit yang mengaduk perut. Hingga subuh berakhir dan matahari mulai tampak. Aku beranjak pulang dengan membawa nyeri yang mulai menghilang. Oh nyeri ku.

Dan malam ini, dimalam pekat ini, nyeri itu datang lagi. Mengusik kebersamaan ku dengan ayah dan mamak. Tapi apa daya aku tidak kuasa menahannya. Hendak berjalan jalan? Ini bukan pagi buta yang biasa kalau orang jalan jalan pagi, ini malam. Aneh rasanya anak dara jalan jalan malam. Hahaha. Akhirnya di  tengah ke kalutan melawan nyeri aku duduk di gelap malam dengan bermodal sebuah kursi, bantal, dan sarung dengan mendekap kaki ke tubuh, berusaha menjepit perut untuk menghilangkan nyeri dan menatap langit. Menatap tatanan Allah di angkasa raya. Dan untuk kesekian kalinya aku terposa dan aku terhipnotis karenanya. Nyeri ini menguap pelan walau tidak sempurna hilang.

Esok paginya. Mamak memberi saran untuk minum jamu. Mungkin beliau sudah amat sayang melihat anak gadisnya membekuk ditengah malam menatap langit sambil meringis kesakitan. Akhirnya di pagi buta bahkan sebelum anak anak SD berangkat sekolah aku sudah berhasil minum segelas jamu yang aku bahkan tidak tau rasanya apa. Penawar sisa nyeri ini. Tapi dari seluruh rangkaian cerita dan upaya yang sudah aku usahakan ala kadarnya, sungguh aku ingin sekali lepas dari nyeri ini. Nyeri yang menyiksa hingga ketulang ini. Karena jika sekarang aku mulai berjalan jalan pagi, menatap langit, minum jamu? Apa lagi langkah selanjutnya? Sungguh aku tidak tau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s