kopi

KOPI sangat populer di tanah kelahiran ku. hampir setiap jengkal  kita akan menemukan si bubuk hitam di warung warung kopi, baik dengan gaya konvensional maupun yang sudah modern dengan WiFi nya. yang pasti si bubuk hitam itu masihlah raja dalam pertarungan perdagangan, pertaruhan gaya hidup, bahkan mungkin harga mati untuk sebuah “Kegahulan”. gak gahul kalau gak ke warung kopi. terlepas benar atau salah kalau Warung Kopi adalah tempat penuh manfaat, yang pasti tempat ini selalu menjadi tujuan favorit hamba Allah dari segala usia di Aceh. “hana sah hana jeb kupi siuroe, hana pike walau pih darah tinggi!!!”

mungkin sebagian besar kita juga pernah membaca Buku Padang Bulan karya andrea hirata, di salah satu babnya menceritakan dengan sangat panjang lebar serta nyaris membuat ku muak membacanya tentang ” bagaimana mengetahui karakteristik orang melalu kopi yang dipesan dan cara orang tersebut  memesan”.  sungguh kopi dan warung kopi sepertinya menjadi salah satu kebiasaan yang bergerak menjadi kebudayaan. sangking seringnya segelas kopi dipesan, nyaris dia menjadi karakterisktik pemesan.

terlepas dari apa pandangan orang mengenai kopi, yang pasti aku bukan penggila warung kopi hingga menghabiskan waktu berjam jam disana. aku tidak suka keramaian yang gaduh dan sibuk.

aku juga bukan maniak kopi yang jika tidak menyeduhnya serasa hidup tak sempurna. aku tak punya cukup waktu untuk itu. tapi yang pasti, aku sering mencari “SEKEPING INSPIRASI DARI SECANGKIR KOPI WALAU PADA AKHIRNYA AKU TAK BSIA TIDUR SAMPAI PAGI”

KOPI tetap si bubuk hitam yang penuh inspirasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s