OSPEK part II

Siang harinya kami dikumpulkan di musalla. Semua. Semua abang dan kakak juga hadir. Acara selanjutnya adalah muhasabah. Kami didudukan sesuai aturan laki-laki di depan dan perempuan di belakang. Setelah pembukaan dari ketua osis dilanjutkan dengan ceramah dari ustad. Seorang ustad maju kedepan dan memberikan ceramah kepada kami tentang “bagaimana seharusnya masa sekolah itu dihabiskan yaitu dengan bersungguh-sungguh”. Diakhir ceramah ustad menyuruh kami sujud.

Kami patuh dan bersujud.

Beliau memulai “ Coba bayangkan sekarang, kalian baru 4 hari disini. Ingat kembali saat ibu kalian melepaskan kalian dengan berat di penghujung pintu beberapa hari lalu. Membiarkan anaknya pergi Merantau ke negeri orang dengan harapan ketika anaknya pulang nanti, si anak bisa membahagiakan orang tua. Sebenarnya tidak ada orang tua yang dengan senang hati melepaskan anaknya pergi. Yakinlah tidak ada satupun orang tua yang begitu. Kalian cendera matanya, peneyejuk hatinya maka melepaskan kalian seperti melepaskan sebagian nyawanya. Setiap malam mungkin ibu kalian menangis, bermunajat panjang kepada ALLAH demi keselamatan anak-anaknya. Duduk tidak tenang tidur tidak nyaman. Pasti berfikir bagaimana anak mereka disana. Aman kah dia, sehat kah dia, bisa kah dia, sakit kah dia, sudah makan? Makan apa? Begitulah orang tua kita. Tidak lekang pikirannya selain memikirkan kita”.

Pikirkan ku melayang jauh sekali. Kejadian beberapa hari lalu, ketika mamak tetap tegas bilang, ” adek harus sekolah disana”. Walau berkali kali aku membujuk, berusaha melunakan hatinya agar aku dijinkan tetap sekolah di kampung halaman, jawabannya tetap “tidak”. Aku marah!

“coba banyangkan ketika kalian disini, siapa yang tahu mungkin kalian tidak punya waktu lagi bersama mereka. Mereka lebih dahulu di panggil Allah, bagaimana? Bayangkan. Coba bayangkan bagaimana. Sedangkan kalian disini sedang bercanda, bermain dengan teman-teman acuh semua perintahnya. Padahal ibu kalian menaruh banyak harap kepada kalian”.

Aku semakin khusuk dalam tangis. Tidak sanggup membayangkan ibu pergi sebelum aku sempat meminta maaf padanya. Maaf karena pernah begitu marah padanya.

“Kalian harus bersyukur bisa bersekolah disini. Banyak di luar sana yang berjuang tapi tidak bisa mencapai titik seperti kalian. Jangan sia-siakan kesempatan itu. terus belajar terus bersungguh sungguh. Ini saat nya ini waktunya”.

Aku akan berusah yang terbaik mamak, aku akan membahagiakan mu.

Tausiyah selesai. Aku terjaga dari sujud panjang ku. Ahh… hati ku lega. Amarah ku hilang. Aku berdamai dengan keadaan. Pasti ini yang terbaik dan mamak tidak akan salah dengan itu. (Bertahun setelah nya aku tau, “nasehat ibu tidak pernah salah, walau sekuno apapun).

Selesai tausiayah kami semua berkumpul di lapangan bola. Saling berpengangan tangan dengan teman dalam lingkaran yang besar. Ada api unggun ditengah kami. Dan lagi-lagi kakak –kakak mneginstruksikan kami untuk menutup mata. Saat Mata kami tertutup. Lagi dan lagi tausiyah. Mengenang perjalanan hidup kami yang baru dengan tantangan yang baru.

“Jadikanlah teman kalian sebagai saudara. Bersama dalam suka dan duka. Jangan pernah mengkhianati yang satu dan mendustakan yang lainnya. Karena kita satu”.

Aku berkata dalam hati, aku akan berusaha berdamai, berdamai, berdamai, dan menerima. Sulit memang tapi aku akan bisa.

Matahari sore menjadi saksi, kami anak-anak yang baru tumbuh dan baru keluar dari sangkar emas akan siap menghadapi semua tantangan demi masa depan yang lebih baik kelak. Dengan kerja sama dan bersungguh-sungguh. Disini di rumah baru ke dua kami yaitu SMA MODAl BANGSA.

“Boleh buka mata” kata kakak senior kami

Ternyata ditengah api unggun sudah ada 2 teman kami. Yang digiring berlahan ke tengah. Si gadis cantik ica dan owen. Mereka berulang tahun hari ini, maka sontak kami menyanyikan selamat ulang tahun untuknya. Api unggun habis dan langit sore sudah menguning. Sebentar lagi azan magrib datang. Maka setelah maaf-maafan dengan sesama dan senior kami pulang ke barak masing-masing. Dengan janji yang terpantri dai hati masing masing untuk masa depan yang lebih baik.

Ah, indahnya masa MOS, tanpa gaduh, tanpa marah, tanpa saling memukul, tanpa emosi hanya keinginan saling berbagi dan bekerja sama. Inti ospek yang aku jalani adalah kompak, kerja sama tim, kerja sama dengan senior, karena kita satu!

Aku beruntung pernah sekolah disini. Dan terima kasih kakak-kakak dan abang-abang semua.

Advertisements

OSPEK part 1

Mos atau bahasa kerennya ospek. Pagi, pukul setengah delapan kami sudah masuk kelas masing-masing. Aku masuk kelas X3. Teman sebangku tetap teman favorit, si mata ramah itu. maya. Dikelas ini ada 31 orang, 12 wanita dan 19  pria. Semuanya asing bagiku. Terakhir setelah kenalan kecil aku tau bahwasanya 4 wanita lainnya tinggal di kamar 9 tepat di depan kamar ku dan sisanya di kamar 3. Salah satu dari mereka yang aku kenal kemarin yaitu ica, wanita cantik itu.

Beberapa saat kemudian dua orang kakak kelas datang, seorang memperkenalkan diri bernama bang dayat dan seorang lagi bernama kak asa. Mereka adalah tentor kami dalam 3 hari ini. Selanjutnya kami  memilih ketua kelas dan terpilihlah seorang pria yang namanya rahmat fitra mukti. Dialah ketua kelas kami hingga setahun kedepan.

Urusan ketua selesai dan kami masuk masa orientasi hari pertama. Kami diajak saling memperkenalkan diri masing masing dan asal daerah. Baiklah yang pertama sekali memperkenalkan diri adalah rahmat fitra sendiri, lalu ada imam adi nugraha, yusra abu bakar, abdul hafiz, rezki herlianda, dhian saputra, riski ananda, hizriawan. Kurben, reski herlianda, riski aryadi, ismi radiallah, 3 teman kamarku dan aku, wanita cantik kemarin yaitu ica, dilanjutkan putri pouna, nita irawati, irama novita, cyntia sari, sitisafiatun, ana fitria, emia tambarta, M. Ilham isna, T. Muamar, reza nuriman, irvan juliadi, deny andrean, M. Sidiq, mukti ali.

Yang paling berkesan saat perkenalan adalah saat seorang anak bernama mukti ali, asal bebesen memperkenalkan diri. Suaranya dalam sekali, amat dalam dan kasar sehingga angker mendengarnya. Satu lagi yang unik adalah ismi radiallah. Fasih sekali dia mengucapkan mtsn 1 banda aceh. Ha nya menggema dalam sekali “Cehhhhhh”.Hahahaha

Inilah teman-teman ku, suka duka kami dan semangat kami sampai 3 tahun ke depan.

Selanjutnya pagi itu Kak asa dan bang dayat memperkenalkan MOSA kepada kami, mulai dari cara belajar  disini gimana, pinjam buku, jual beli bukuk masa masa ujian, olah ragam malam senin, hingga celah-celahnya, asrama, pergaulan, guru, olah raga. Semua!! Sekalian tanya jawab.

Acara siang itu berakhir dengan kuis tanya jawab teka teki. Aku dapat gantungan kunci bergambar mosa yang masih ku simpan hingga sekarang karena bisa menjawab satu pertanyaannya. Bel berbunyi dan setelah itu Kami  pulang, salat, makan dan berkumpul lagi jam 3 di lapangan sekolah.

Dalam bayangan ku MOS itu seperti aku smp dulu, atau yang sering aku lihat di jalan-jalan. Muka di cat dengan bedak dingin, memakai topi aneh bergantungan sampah atau permen, tas yang dari bekas karung beras, pokoknya seaneh anehnya tampang. Lalu dimarah-marahi, di jemur, dan di bentak-bentak. Ternyata tidak. Disini berbeda, kami diberlakukan layaknya manusia dan diberlakukan semestinya sebagai adik. Kami datang kesekolah dengan baju biasa dan menjalani rutinitas seperti tadi. MOS dalam sudut pandang yang berbeda tapi disini indahanya.

Siangnya kami berkumpul. Apa kami dimarahi? Tidak sama sekali. Kami hanya diajak main permainan alam. Kami dikumpulkan di lapang dan di bagi kelompok kecil. Disinilah aku melihat sekali lagi semua teman leting ku. Leting 12 yang jumlahnya ada 90 orang.

Peraturannya dalam pertemuan ini adalah kami harus melewati beberapa pos. Ada pos yang suruh merangkak di bawah ranjau, siapa yang cepat dia yang menang, lalu pos yang menyuruh buat yel-yel, pos naik perahu yaitu dengan satu kain yang dilipat sekecil mungkin tapi kami masih bisa menampung semuanya, pos nyanyi dengan huruf O semua lagu. Begitulah. Intinya kami saling mengenal dan saling bekerja sama dengan sesama teman baru. Sesaat aku lupa dengan sedihku, lupa dengan lara ku, dan sedikit terbiasa dengan semua.

Hari kedua acaranya sama. Bermain, berdebat, kuis, belajar, dan siangnya kami diajarkan PBB di lapangan. Intinya kami diajak kompak, kompak dan kompak dengan sesama anak kelas. Pesan abang dan kakak kelas adalah “disini harus kompak dek, satu sakit semua sakit”, oke!okeee.

Disela sela itu, kami diharuskan mengumpulkan tanda tangan kakak kelas, kelas 2 dan 3 punya poin berbeda. Dan jika pengurus osis, poinnya jauh lebih berbeda. Aku sih santai saja, karena ngak ada punishment apapun. Temanya “agar kenal senior”. Oke sip! Teman terbaik adalah umi erlina, tanda tangan senior di bukunya terbanyak seleting! Luar biasa.

Hingga hari ketiga masuk. Tiba-tiba muncul seorang abang  yang datang mengecek.

“dek coba hitung berapa kalian?”

Kami mulai menghitung, ternyata ada satu yang kurang.

“siapa yang gk ada?”, tanya abang itu. suaranya mulai meninggi.

Kami diam. “ketua kelas mana?”,

Rahmat mengancungkan tangannya.

“siapa yang ngak ada”

dengan kaku rahmat menjawab “karben bang?”

“kalian lihat kawan kalian, yang lain lagi sibuk mos dia kemana, siapa yang satu barak sama dia?” tanya si abang lagi.

Semua diam karena nada suara abang tadi semakin meninggi. Suara dan sorotan matanya mengatakan kemarahannya sudah diatas rata rata. Dia seolah hendak menerkam kami semua.

“kalian bela kawan kalian dengan diam ya, tau kalian tadi malam dia gak salat di musalla, pergi makan suka hati”.

Hening.

Tiba-tiba masuk satu orang abang lagi, mukanya lebih marah dari abang yang pertama tadi. “mana, mana anaknya, aku dengar dia merokok lagi, betol?” tanya si abang.

Lagi lagi kami diam. Takut amat sangat takut. Ini baru hari ke 4 teman. Belum apa-apa.

“kayak gitu kalian, diam terus. Bela kawan kalian. Sekarang aja udah kayak gini, gemana lagi nanti”

“siapa tau dimana kawan kalian?”

Semua diam. Kami bisu.

“kalian ya, setiap ditanya diam, ini aku laporin sama kepala sekolah, baru masuk udah bolos, mau jadi apa dia”. Kata si abang yang lain. Suasana antara gaduh, seram dan menakutkan. Padahal baru sesaat yang lalu kami berbagi cerita tentang pengalaman mos dengan kak asa dan bang dayat, tiba-tiba suasa berubah menjadi kelam. Oh tidak.

“boleh aku lapor? Kamu yang diujung, boleh?”

sontak teman kami menjawab “boleh”

“apa juga setia, kawan mau dikeluarin boleh jawabanya”

Mereka tertawa, menyindir dan mengasihani kami. Oh tidak.

Beberapa teman ku sudah menangis, air mata mereka buncah. Entah karena takut entah karena sedih kurben akan dilaporkan ke kepala sekolah tapi yang pasti semua mulai berkaca-kaca.

Tiba-tiba kurben datang. Semua abang-abang semangat melihatnya. Seolah hendak menerkam dan menelannya hidup-hidup.

“maaf bang, saya salah”, katanya jujur.

“kau, aku laporin ke kepala sekolah, banyak kali udah salah”. Kata abang itu,

“jangan bang”, jawan kurben.

Kami semakin senyap. Hanya sesegukan yang terdengar.

“lihat muka dia baik-baik, mungkin ini kesempatan terkahir kalian lihat dia”.
“lihat dek”, kata kak asa,

“ayo, jangan contohkan sikap dia. Ini contoh kalau melanggar peraturan di mosa dek. Kami gk pernah marah sama kalian. Pernah kalian kami maki? Kami bentak? Kami pukul atau kami aniaya?  tapi kalau kalian buat salah kami gk bisa tinggal diam”, kata bang dayat.

Senyap lama sekali senyap. Senyap yang penuh air mata. Semua bukan lagi kaca tapi sudah air yang mengalir deras. Yap, semua menangis termasuk aku.

“ini terakhir kalian lihat dia sebagai kawan kalian”. Lagi-lagi senyap yang panjang hanya denting jarum jam, suara ingus yang ditarik turun, yang menangis tidak hanya kami tapi juga abang-abang yang lain.

Lalu bang dayat dengan berlahan melanjutkan kalimatnya “ karena dia kelas 3, abang leting kalian”.

Sontak semua terkejut. Terkejut. Terkejut. Terkejut.

“iya, dia abang leting yang nyamar jadi adek leting, namanya wahyu ardiansyah”. Kata bang dayat.

Aaaaaaaaaaaaaaaahkkkkk#@$$&*=%*(@£@*@(@)!!!!!!!!!.

Akhirnya semua tertawa, semua tangis hilang. Seekejap. Ah, lega. Menyesal telah menangis. Tapi asli kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen, aku suka bagian ini. Ternyata anggota kelas kami tidak 31, tidak ganjil tapi 30, 1 dari mereka adalah penipu ulung alias penyamar. Setelah pembongkaran semuanya bersalaman. Abang-abang meminta maaf pada kami karena telah marah-marah dan berakting seolah hendak menelan kami hidup hidupnya. Siang itu berakhir indah. Akhirnya kami pulang dan pukul 3 berjumpa di musalla. Detik-detik mos yang mendebarkan bukan? Itulah yang akan terus diingat.

ruang makan

Taraaa. Ini hidup baru bagiku. Setelah perkenalan itu yang aku tau aku akan punya 3 orang teman seiiya sekata sepenanggungan. Walau tetap maya lah panutan ku. Si mata ramah itu. kemana pun dia pergi aku ikut.

Seperti pergi makan. Peraturan makan disini sesuai dengan jam makan bagi orang Indonesia pada umumnya yaitu 3 kali sehari. Pagi pukul 7.00, siang setelah salat zuhur bersama di musala dan malam setelah salat isya di musalla. Sebelum makan pasti bunyi lonceng. “ceng…ceng…ceng”, suara surga yang selalu dinanti bunyinya. Karena sebelum lonceng berbunyi haram hukumnya ke ruang makan.

Jarak ruang makan dengan asrama tidak begitu jauh. Jadi begitu lonceng berbunyi semua bersiap keruang makan. Cukup dengan satu buah sendok makan dan kau akan kenyang. Yap, semua peralatan lain ada disana seperti piring dan gelas. Pergi dengan semua anggota barak dan berbaris rapi sebelum masuk ruang makan. Ada 9 meja disana, yang masing-masing meja ada 9 kursi. Dimasing masing meja sudah ada satu buah mangkuk nasi, 12 piring nasi, 3 piring lauk, 3 piring sayur, dan 3 piring buah, serta 12 gelas air. Asik sekali. Karena masih baru kami bebas memilih meja makan yang kosong.

Aku ikut maya, seperti yang sudah aku katakan. Dan maya ikut teman-temannya. Alhasil inilah teman makan ku di meja makan terpilih untuk tiga tahun kedepan, tempat yang sama dengan teman makan yang sama. Mulai dari yuni, ika, rini, tania, dewi dengan 5 kursi lagi kosong. 3 dari mereka adalah teman se SMP maya dulu. Sebelum makan kami berdoa. Biasanya ada chiefnya.

“assalamualaikum wr.wb. sebelum makan mari berdoa, berdoa dimulai”, begitulah kira-kira jika di english day maka preambulnya dengan bahasa inggris “pray begin”. Dan semua makan dengan lahapnya tanpa boleh ada suara sendok yang tik,,tik,,tikk,, itu. Aku tidak bermasalah dengan makan memakan. Aku omnivora yang tidak mudah jijik dengan semua sehingga dengan menu yang terus berbeda waktu makan adalah waktu yang paling membahagiakan untuk ku.

Ketika makan ada seorang anak yang amat sangat mencuri perhatian. Terkahir aku tau namanya umi. Dia duduk tepat di depan ku. Apa yang membuatnya menarik adalah cara makannya. Dia makan dengan kecepatan tinggi tapi bersih sebersih bersihnya dengan mulut yang tertutup dan tidak bersuara. Dia nyaris tidak berkata sepatah kata pun sampai semua makanan di piringnya habis. Jika kau tidak berselera makan cukup kau lihat dia makan maka semua selera itu pasti akan datang. Semangat sekali dia mengolah makanan itu. terakhir aku tau semua kebiasaan itu sudah ada sejak 3 tahun yang lalu sejak dia di pasatren.

Diruang makan selalu penuh, terutama hari selasa, jumat dan sabtu karena taraaaaa. Di hari itu ada ayam goreng, sambal goreng, dan semangka, atau sabtu pagi karena ada nasi goreng dengan sebutir telur dan segelas teh hangat. Ah, indahnya. Makanya jangan heran 3 tahun disini banyak yang keluar mirip ayam potong.

Setelah makan kami harus mengantri. Mengantri ke tempat cuci, meletakkan sampah makanan kekeranjang sampah lalu menyerahkan piring ke kakak cuci dan mencuci sendok kecil sendiri. Makan selesai dan kami boleh kembali ke kamar masing-masing. Begini selalu dalam tiga tahun kedepan. Aku tersenyum. Ini bagian yang bisa aku terima dengan nyaman.

Sekolah ku dekat dengan pegunungan, langitnya masih indah. Jadi setiap pulang makan aku selalu menyempatkan diri memandang langit, melihat bintang sambil bercerita. Bintang aku sungguh belum terbiasa disini semua baru tapi aku suka saat-saat makan dan saat aku bisa melihat mu. Ah, doakan aku disini ya.

masuk asrama

Aku masuk asrama mawar dan tinggal di kamar 8. Kamar paling ujung. Masing-masing asramanya kami sebut barak. Ada beberapa barak disini 4 untuk wanita dan 3 untuk laki-laki. Nama barak wanita adalah mawar, melati, anggrek dan garuda sedang barak laki-laki adalah balam, merpati, bangau,  Setiap barak  terdiri dari 10 kamar dan di setiap kamar ada 2 tempat tidur 2 tingkat, 4 lemari dan 4 meja belajar. Kamarnya tidak teralu sempit tapi juga tidak terlalu besar. Untuk ukuran anak sekolah kamar itu pas. Ada satu jendela di antara dua tempat tidur yang tampak tembus ke ruang makan jika kita memandangnya dengan seksama.

Begitu masuk ke kamar aku langsung melakukan apa yang aku bisa karena waktu itu aku sendiri hanya di antar abang yang bisanya beli ini beli itu. aku mulai mengelap meja belajar, menyusun baju, menaruh seprai dan merapikan kamar. Lalu seorang ibu datang.
“assalamualaikum, eh udah ada orang”. Katanya. Si ibu datang dengan seorang anak gadis manis dengan tatapan mata dalam dia sepertinya penghuni kamar ini.

Aku menjawab salamnya dan menyalaminya, “iya buk, saya mutia”. Kenal ku.

“oh mutia, ini maya anak ibu kami dari sigli. Dia sekamar sama kamu ya, baik-baik berdua”. Jawab di ibu.

Tepat dugaan ku. Anak dengan tatapan mata ramah itu adalah teman sekamar ku. Maya zammaira orang sigli. Sudah ku katakan selain diantar hanya dengan abang aku nyaris sendiri di SMA ini. Tidak ada teman yang aku kenal kecuali seorang abang leting yang sudah kelas dua pastinya. Anak guru bahas inggris SMP ku dulu. Dari  beliaulah aku tau sekolah ini. Tapi sayang dia laki-laki. Hasilnya sempurna aku sendiri di tempat orang. Dan ini dia teman pertama ku. Teman yang nyaris aku ikuti kemana pun dia pergi. Matanya yang ramah terus memanggil manggil ku untuk ikut kemanapun kakinya melangkah.

Setelah berberes kami semua di panggil ke musalla. Ada perkenalan dengan senior katanya. Aku dan maya beranjak ke musala. Dimusala ternyata sudah ramai. Semua anak kelas satu sudah datang ada sekitar 100 orang. Dan di depan kami sudah berjejer kakak-kakak dan abang-abang kelas. Wah, gagah sekali mereka. Aku serius amat serius. Apalagi seorang abang yang duduk di pojok sana, gagah sekali. Terkahir aku tau namanya bang arif habibal umam. Mereka duduk tegap dengan simbol baju tegak dan dasi serta jelbab yang rapi. Inilah anggota osis sekarang. Mereka memperkenalkan diri, mengucapkan selamat datang, memberikan wejangan dan memberitahukan bahwa akan ada masa orientasi selama 3 hari kedepan.

Aku duduk agak jauh dibelakang. Dikiri kanan ku selain maya yang sempat aku lihat adalah dua orang anak cantik nan jelita, putih bagai kapas dengan relief muka yang pas.cantik sekali pokoknya dan begitu mirip sampai aku berani bertanya. “kalian kembar ya?”, kedua anak itu tersenyum dan menggeleng. “gk kok, kami beda, nama aku ica”, kenalnya. Dan “aku uja”, kata yang satu lagi. Tak tau nya uja ini adalah teman sekamar ku yang ke dua. Huzra gani sundari dari lhoksemawe.

Setelah perkenalan dan seolah serah terima selesai aku kembali ke kamar. Di kamar ternyata lagi-lagi ada seorang ibu cantik yang sedang memasang seprai untuk anak gadisnya. Oh sungguh beruntung mereka.

“udah pulang nak? Si fikri mana ya?” tanya si ibu padaku.

“iya buk”. Dan aku diam. Si fikri? Siapa lagi itu, mana aku tau. Tapi sesaat kemudian kegaduhan datang. Seorang wanita muncul dari balik pintu dan diikuti 3 wanita lainya. Mereka bagai bos geng, mukanya ceria tiada duka. Langsung masuk kekamar dan satu persatu bersalaman dengan ibu tadi.

“gemana nak perkenalannya?” tanya si ibu.

“besok kami mulai MOS mak”, jawab si anak. Aku yakin inilah yang namanya fikri.

“hay, aku fikri”, kenalnya pada ku

“aku mutia”. Dan fikri inilah teman kamar ku yang ke 3, nurul fikriani. Lengkap sudah kamar 8 barak mawar, mutia, maya, fikri dan uja.

tiga wanita tadi juga  memperkenalkan diri.

“aku nona”

“aku trisna”

“dan aku momo”.

“aku mutia”, aku cuit saat itu melihat mereka. Wajah mereka yang tangguh dan senyum mereka yang sungguh. Mereka pasti anak banda aceh asli, anak kota dengan IQ diatas rata-rata. Lihat saja raut mukanya, seolah siap menghadapi dunia. Sedang aku. Aku hanya anak kampung yang pergi ke sekolah ini dengan marah dan takut. Ah entahlah, aku menangis dalam hati dalam sekali.

 

17 juli 2005

Saat itu pagi, pagi sekali. Tapi seisi rumah sudah gaduh mencari penjual koran. Mulai dari ayah, mamak hingga abang. Dan akhirnya koran itu ditemukan.

Ayah langsung membuka halaman belakang koran dan mencari pengumuman kelulusan anaknya masuk SMA. Anak gadis satu-satunya di keluarga yaitu AKU, Mutia Rahmah yang cantik jelita di rumah. SMA yang aku masuki adalah SMA bagus. Itu katanya. Pengumumannya via koran karena calon siswa dan siswinya berasal dari semua kabupaten di Aceh. pagi itu ayah tidak kecewa dengan semua perjuangannya. Karena nomor ujian ku masuk dalam barisan siswa yang lulus, bukan siswa cadangan. Yap, 17 juli 2005 hari sabtu pagi aku dinyatakan lulus masuk SMA Modal Bangsa setelah mengikuti 3 kali seleksi ujian. Ayah bahagia, ibu senang, abang apalagi. Dulu dia juga ingin masuk kesana tapi karena tinggi badannya kurang memadai jalannya berhenti.

Dan aku? Si pemiliki keberuntungan itu? aku hendak lari ke dunia lain dengan membawa seluruh barang yang aku punya. Sungguh aku tidak mau kesekolah itu. sungguh. Ukuran anak ingusan seperti ku dari kampung yang entah berantah ini, mana bisa beradaptasi dengan anak-anak pintar seoantero Aceh. aku ini apalah. Oh tidak, mimpi buruk. Aku mulai memikirkan teman-teman yang jago B. Inggris, mereka yang cepat matematiknya, bisa dengan sekejap mata fisik,  biologi, cakap bicaranya, santun perilakunya dan aku akan tenggelam disana, menyaksikan semua tanpa bisa ikut serta. “tidak, adek tidak mau sekolah disana”, itu kata ku.

Awal mula aku ikut tes hanya coba-coba. Waktu itu pagi. Aku diantar ayah untuk ikut seleksi pertama. Begitu selesai aku langsung yakin aku tidak lulus. Ternyata Allah berkata lain. Nomor ujian ku muncul di koran pagi itu. selanjutnya dengan dorongan kuat dari mamak aku ikut tes tahap dua yaitu tes wawancara dan kesehatan. Setelah ujian dengan girang aku katakan pada ayah “ ayah, adek tidak lulus”, Ayah diam saat itu, “yasudah yang penting sudah usaha”. Itu katanya. Dengan alasan itulah dua hari kemudian aku mendaftarkan diri di SMA di tempat tinggal ku. Ini sekolah yang akan aku tempati 3 tahun kedepan. Itu kata ku.

Tapi sayang sekali lagi Allah mengatakan lain. Karena kejadian pagi ini terjadi, dan sekali lagi angka keberuntungan itu muncul di koran pagi ini. Aku resmi menjadi siswa MODAL BANGSA menjadi anak mosa dan aku menolaknya. “tidak, tidak boleh tidak. Kamu harus sekolah disana”, itu kata mamak.” Dan tidak ada yang bisa membantah kata-kata mamak, ingat itu”, katanya lagi. Oh dunia ku. “tapi adek gak bisa mamak”,aku memelas khusyuk sekali. “dek, lebih baik bodoh diantara orang pintar daripada pintar diantara orang bodoh”, abang menjawab. Jawaban telak yang membuat semua argumen ku runtuh dan mamak semakin mantap dengan keputusannya.

Anak gadisnya harus masuk ke sekolah itu tanpa pengecualian. Seharian aku menangis. Menangis tulus agar semua keputusan itu berubah. Tapi waktu ku untuk berkompromi dengan mamak hanya sebentar karena keesokan harinya, tepat 24 jam kemudian aku harus berangkat ke Banda Aceh karena hari senin sekolah sudah dimulai. Aku gagal memperjuangkan aspirasiku. Ibu tetap pada pendiriannya, abang antusias dengan ku, ayah bungkam dan adik kecil ku belum tau apa-apa.

Yap, keesokan harinya dengan L-300 langganan mamak aku diantar abang ke banda aceh. Aku pergi dengan selaksa perasaan takut bercampur aduk.  Disatu sisi aku marah dan disisi lain aku pasrah amat sangat pasrah. Enam hingga tujuh tahun kemudian aku baru menyadari bahwa sanya, orang tua terutama ibu tidak akan pernah mendurhakai anaknya. Kata-kata mereka yang mungkin awalnya aneh, kejam, menyakitkan pada akhirnya itulah pilihan terbaik bagi anak-anaknya.

aku lega akhirnya

“huft, liburan berakhir”, kata ku dalam hati. saatnya kembali pada rutinitas lagi yaitu menyusun skripsi, bolak balik kampus untuk ketemu dosen pembimbing, keluar masuk perpustakaan, dll. Banda Aceh i’m come back

Seperti perjalanan pulang biasa, aku selalu setia naik L-300 “wak talib” . hampir 3 tahun menjadi langganannya membuat ku sangat yakin kalau perjalanan hari ini akan baik baik saja. perjalanan dari kampung ku di Lhoksukon, aceh utara ke Banda Aceh membutuhkan waktu sekitar 7 jam. perjalanan yang  jika dibayangkan memang jauh, tapi karena sudah biasa semua terasa sama saja.

Melajulah mobil L-300 andalan  tepat pada pukul 9.30 WIB. dimobil ini hanya ada 5 penumpang, aku, dua orang kakek dan 1 orang wanita serta wak talib sebagai supir. pembicaraan pembukan masih tentang topik yang sedang hot di Aceh yaitu tentang deklarasi salah satu calon gubernur . aku hanya mendengar alur pembicaraan, sesekali tersenyum mendengar komentar mereka, intinya percakapannya sangat terarah dan sambung menyambung. lelah bercerita semuanya senyap, dan seperti biasa dalam perjalanan yang membuat kedua bokong  ku nyaris rata, aku selalu tertidur panjang mulai dari loksemawe hingga tempat tujuan. aku bisa tidur nyaris 5 jam.hehehehe

4 jam mobil berlalu, aku terjaga dari tidur. seperti nya ada yang mengganggu dan ternyata “perut ku sakit, dan aku hendak BAB”…aku tahan perasaan yang amat sangat tidak menyenangkan ini. Mendeklarasikan keinginan sakit boker pada wak talib bukan lah hal yang bijak karena memalukan dan pastinya sulit untuk di kabulkan. aku tahan rasa ini hingga 1 jam.. menyiksa dan menyakitkan.

setelah 1 jam perjalanan, mobil berhenti untuk makan disebuah rumah makan di Grong-grong, kabupaten Pidie. Selama ini kalau berpergian aku jarang sekali makan di warung, biasanya aku akan membawa bekal dari rumah. Repot harus turun dan sendirian ditengah keramaian adalah alasan yang kuat membuat ku tetap bertahan  makan di mobil dengan bekal dari pada harus turun dan makan disana. Tapi hari ini berbeda, aku tidak membawa bekal dan kali ini kondisi aku dalam keadaan “emergency” untuk BAB , maka dengan langkah pasti aku turun

Dengan sedikit berlari  aku masuk kamar mandi “alhmadulillah”.

tapi, ternyata! setelah kuputar putar badan mengitari kamar mandi yang tak seberapa besar itu, aku tidak menemukan apapun kecuali timba, sumur, dan ember. “dimana klosetnya???”

sedetik aku gusar, akhirnya aku menghubungi sang pemilik warung

“pak, ada kloset gk dikamar mandinya??”

“ada. tapi,,,,,”

“tapi apa pak?”

pembicaraan terputus, karena si bapak sibuk dengan gelas, teh, gula dan air panas untuk pemesan

Ah. Tidak tau kah kau, penjelasan “tapi”mu itu amat penting untuk ku. aku sudah menunggu selama satu jam dengan perasaan amat sangan menyakitkan ini?

setelah selesai dengan 1 cangkir kopi dan 1 teh, beliau kembali melanjutkan “tapinya tadi”.

“tapi kan, di belakang ada mesjid”, jelasnya.
“tidak pak, saya ingin disini, dan saat ini!”

“yasudah masuk saja, angkat papan itu”. kata di bapak sambil menunujuk ke pojok kamar mandi

Aku pun masuk, dengan perasaan senang. Aku angkat papan sesuai aba-aba. Ternyata, masyalllah, klosetnya ada tapi????,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,mungkin tapi inilah yang ragu dijelaskan bapak tadi.

intinya aku tak jadi BAB disana. setelah makan seadaanya aku naik mobil lagi, berangkat dengan penyesalan dan mendongkol setengah mampus.

semakin semakin dan semakin menyikasa,,

Tuhan, akankah aku BAB di celana lagi? sebentar lagi kami akan melintasi hutan raya, hutan raksasa yang dikiri kanannya hanya ada tumbuhan, “selawah”, dimanakah akan ku dapati toilet?

berlari, pikiran ku tumpah ruah, melaju mobil sambil  melaju pula rasa sakit ini. “dikit lagi mau keluar,  tapi gak tau keluar dimana!! “. Banda Aceh masih 1 jam lagi ditambah mengantar penumpang, maka dengan hitungan kasar aku harus menahan sakit ini selama 2 jam lagi. Dan aku?”di pastikan akan Boker di celana!

“karam, mahasiswa tingkat akhir boker dicelana!” memalukan.

beruntunglah, setelah menahan rasa sakit dengan memegang erat bangku, aku menemukan titik temu. 5 km di depan tertulis mutiara indah. tempat pemberhentian orang -orang yang mau beli oleh oleh seperti keripik ubi segala warna, jagung, kacang, dll hasil pertanian orang saree. Kota kebun!

aku mengumpulkan segenap keberanian, peduli apa orang tau aku sakit boker, yang penting semua keluar

“wak talib, berhenti di saree ya”

“oke”

begitu mobil berhenti, ak berlariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, menuju kamar mandi

“plukkkkkkkkkkkkkkk”

huft,,lega,,, Continue reading “aku lega akhirnya”

hujan

Sudah 15 ramadhan ya?? Subhanallah. Waktu? Sekarang kau sudah pintar ya, tak lagi berjalan tapi sudah berlari kencang, aku bahkan tidak sadar ramadhan sudah mencapai setengahnya. Di ramadhan yang ke 15 ini, hujan turun setelah sekian lama dia malas membasahi Banda Aceh. Hujan hari ini awalnya sangat mengejek seolah mempermainkan, sekali datang dan di lain waktu dia pergi. Persis seperti saat kau menggertak seseorang. Tapi, di penghujung ternyata hujan ini benar- benar serius. Turun dengan lebat membabat setiap jengkal tanah tanpa ampun. Hujan?? Itu anugerah! Setidaknya itu bagi ku.

Waktu aku kecil, hujan benar-benar anugerah bagi aku dan sekumpulan anak kampung lainnya aku, siti, eka, iboy, maya, rina (alm), kak ita, kak yana, nur, jupri, wira, lisa,bg asrol, bg tri, kak lena, kak inong,  dll. Ketika langit mulai hitam dan sedikit demi sedikit tetesan hujan turun, kami semua berlari kerumah masing- masing. Lupa bahwa sesaat yang lalu kami sedang asyik-asyiknya mengaduk- mengaduk  tanah. Berlari sekencang mungkin untuk mencapai rumah hanya demi sebuah izin “izin untuk bisa mandi hujan”. Hahahahaha.

Selesai pamitan kami berkumpul lagi walau tanpa janji. Biasanya di sebuah lapangan atau di depan sebuah rumah “gedong” yang sebagian terbakar karena korban perang aceh. Mandi dibawah naungan langit, berlari di tengah lumpur, lincak, basah, kotor, menyusuri satu talang rumah ke rumah yang lain, dari ujung talang yang satu ke yang lain hanya untuk merasakan derasnya air hujan yang tertampung dari talang. “sakit sih, tapi sensari serunya?? Gk da lawan,,,hahaha

Sesekali jika beruntung, ada “sitoek” yang tak terpakai mulailah kami bermain tarik-tarikan, siapa yang peduli. Dan saat hujan lah kesempatan kami bisa berguling2 di jalan tanpa hambatan dan rasanya ketika menyentuh jalan adalah  “hangat”. Tertawa bagai kami pemegang dunia tidak berhenti sampai kami benar2 lelah, bibir sudah mulai biru, badan bergetar, dan nyaris tak berdaya bahkan jika berbicara tak jelas apa suaranya. Namun jika hujan sedang sombong “turunnya hanya sebentar” kami harus ikhlas mandi sebentar saja dan langsung berlari tanpa janji kerumah masing2, begitu sampai rumah, mamak selalu bilang “nyan jak pu deuk baje di likeut, galak that manoe ujen”.hahahaha.  Saat yang paling menyenangkan setelah kedinginan adalah mandi dengan air hangat “ngerecezzzzzzzzzz” dan di tambah dengan sepotong pisang goreng setelahnya,, “nikmat”.

Disisi lain, karena daerah perkampungan kalau hujan terlalu “baik” sehingga turun setiap saat maka kami tak perlu menunggu hujan datang untuk sekedar bisa mandi dengan air berlimpah karena biasanya banjir akan mengucapkan “assalamualaikum” memenuhi parit-parit, kolong-kolong rumah, kadang2 sampai ke jalan raya. Tapi apa hikmahnya?? Yap, kami dapat kolam renang gratis, mau mandi? Tinggal pilih dimana lahan yang pas dan mantap. Hahaha. Biasanya tempat favorit kami di parit besar di depan rumah rina (alm) penuh, dan kadang ada yang selalu memberikan “ban” gratis untk memfasilitasi aneuk mireuk kurang hiburan seperti kami untuk  mandi atau jika ada anak-anak yang lebih besar dari kami, yah,mau bilang apa kami yang aneuk mireuk, anak bawang, anak bau kencur “harus mengalah” hahahaha.

Tapi sekarang aku sudah besar, dan semua kawan2 ku pun sudah besar seiiring dengan berjalannya waktu, kami mulai mengurangi kegiatan menyenangkan dengan hujan maupun dengan sahabtnya hujan “banjir” sekarang kami juga sudah tidak tinggal bersama lagi, berpencar demi masa depan yang lebih baik. Tapi walau aku tak  bisa bermain dengan hujan lagi, aku masih suka memandangi hujan hujan bagi ku “romantis”.

Butiran hujan turun berlahan. Entah dari mana, entah dengan kecepatan berapa yang pasti begitu sampai ke bumi’ butiran  itu membasuh semuanya. Suara, uap yang ditinggalkan, udara setelah hujan, langit setelah hujan. Itu amat sangat romantis.

Hujan. Hujan.Hujan.

Semoga selalu menjadi anugerah. Dan di 15 ramadhan ini hujan turun, awalnya menggertak tapi akhirnya komit untuk membasahi bumi membawa ku kembali kepada kenangan saat aku masih aneuk mireuk (anak-anak).

Hujan,, salam untuk semua sahabat kecil ku,

15/8/2011

AIR

Air adalah kehidupan setidaknya itu yang aku tahu diumur ku yang sudah dua dasawarsa ini. Pemahaman itupun terus berubah seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman yang aku alami. Dulu ketika aku kecil air bagi ku hanyalah sesuatu yang amat berarti ketika PDAM stop bekerja karena alasan banjir atau tidak ada listrik. Maka saat itu kami akan berbondong-bondong menuju sebuah rumah yang memiliki sumur dan mengangkat air dari sana sampai kerumah kami. Kami disini tentu saja aku, ibu dan abang ku dan semua tetangga yang bernasib sama yaitu terkena wabah PDAM yang mogok kerja. Atau ketika ibu ku kewalahan dengannya maka dia pasti membeli air. Ironis memang air yang tumpah ruah pun terkadang harus dibeli. Tapi itulah adanya.

Selain itu air ketika aku kecil juga berarti hujan lebat yang membuat ku bebas mandi hujan. Asik! Ini poin yang tidak akan pernah aku lupakan sampai aku dewasa. Hujan, air dan mandi. Ketiga hal ini adalah hiburan terindah dimasa kecilku. Bagaimana tidak, ketika hujan datang dengan satu anggukan dari ibu aku bisa bermain dibawah naungan air yang tumpah dari ember raksasa di langit tanpa hambatan. Wow subhanallah. Hanya kau, hujan, dan langit, tanpa orang-orang selain teman mu. Itulah  bermain ditengah hujan. Kalian bisa berlarian ditengah jalan raya, memasuki setiap lorong rumah, berdiri di bawah talang rumah orang, bermain di tanjakan tanah pasir, berlarian sesuka hati. Yah, sebebas itu lah. Hanya kau dan teman-teman saat itu karena semua orang dewasa akan berada di rumah dan semua pengendara kendaraan akan mencari tempat berteduh ketika hujan.

Disisi lain, karena daerah perkampungan kalau hujan terlalu “baik” sehingga turun setiap saat maka kami tak perlu menunggu hujan datang untuk sekedar bisa mandi dengan air berlimpah karena biasanya banjir akan mengucapkan “assalamualaikum”, memenuhi parit-parit, kolong-kolong rumah kadang2 sampai ke jalan raya. Apa hikmahnya?? yap, kami dapat kolam renang gratis, mau mandi? tinggal pilih dimana lahan yang pas dan mantap.hahah. biasanya tempat favorit kami di parit besar di depan rumah teman ku. Penuh dengan anak-anak yang berdesakan dan kadang ada yang selalu memberikan “ban” gratis untk memfasilitasi anak-anak yang kurang hiburan seperti kami.

Ketika aku sedikit bertambah dewasa aku mulai mengetahui bahwa air tidak sesederhana yang aku pikirkan. Saat itu aku sering harus berpergian entah itu ke sekolah, bimbingan belajar, atau sekedar menghadiri acara ulang tahun teman ku. Aku harus tampil bersih dan rapi bukan? Kalau dulu jika tidak ada air aku acuh saja jika pergi tanpa mandi dan hanya foto kopi alias cuci muka dan sikat gigi. Tapi, sekarang aku sudah sedikit besar maka setidaknya saat pergi aku harus dalam keadaan tidak berbau. Maka ketika tidak ada air dan aku harus pergi dengan terlebih dahulu mandi disaat itulah aku menambahkan nilai pentingnya air bersih yang mengalir damai.

Sedikit lagi aku bertambah dewasa ternyata air tidak hanya urusan angkut-angkutan, mandi hujan, kolam berenang gratis, atau mandi pagi dan sore. Ternyata air adalah kehidupan. Saat ini aku sudah hidup menjadi anak kos dan tinggal dengan adik di tanah perantauan. Dia adikku dan aku bertanggung jawab terhadapnya termasuk urusan memasak makanan untuknya. Oh hello, saat air tidak ada aku mulai gundah gulana. Bagaimana tidak, jika air tidak ada maka kegiatan masak-memasak terhenti. Tidak ada air untuk menanak nasi, mencuci ikan, membuat sayur bahkan untuk mencuci piring. Rumah kotor dan perut keroncong. Oh air. Belum lagi masalah cucian yang menumpuk. Tidaaaaak!aku benci kering.

Dan sekarang aku sudah sedikit lebih dewasa. Selama aku menjalani kuliah aku menemukan fakta membuatku lebih tercegang dengan air. Yaitu fakta bahwa hampir 60% dari tubuh kita adalah air. Dengan perincian 40% air itu adalah didalam sel tubuh kita dan 20% di luar sel. Dari 20% ini ada 15% yang berada di antara sel yang satu dengan sel yang lain dan 5% nya lagi berada di dalam pembuluh darah. Hanya 5% darah yang mengalir ditubuh kita dibandingkan dengan 40% lainnya di dalam sel. Tapi , pernah kalian melihat seseorang yang datang ke rumah sakit setelah kecelakaan dan memiliki luka disekujur tubuhnya dengan perdarahan dimana-mana? Jika belum pernah maka datanglah ke rumah sakit.

Tidak lama dari kejadian, korban dengan kondisi demikian pasti akan kehilangan kesadaran mereka. Jika memang tidak ada cedera kepala maka dapat dipastikan mengapa korban kehilangan kesadaran adalah kehilangan banyak darah baik yang terlihat atau tidak terlihat. Dan apa yang pertama sekali dilakukan untuk korban sepeti ini? Sederhana tapi amat sangat membantu. Tindakannya dikenal dengan basic life support. Bantuan hidup dasar! Yaitu meperbaiki jalan nafas, memberi nafas bantuan dan memperbaiki sirkulasi. Itu sederhananya. Nah, dikegiatan memperbaiki sirkulasi ini lah akan dilakukan usaha sekuat tenaga untuk menghentikan perdarahan dan memberikan cairan untuk menggantikan darah yang hilang. Cairan, cairan, dan cairan, baru jika ada darah bisa diberikan darah. Lagi-lagi air bukan? Yap, air yang esensial air bagi kita. Dan mungkin juga karena komposisi itulah kenapa banyak diantara kita yang sanggup menahan lapar tapi tidak untuk menahan haus bukan?

Sekarang aku sedang krisis air bersih bahkan sudah hampir 2 bulan. Airnya hidup pas-papasan bahkan mati sama sekali. Kering! Dan ironisnya ini musim hujan sayang. Kata PDAM ada perbaikan disana-sini. Oh, aku berhenti mengeluh tentang semua dan memikirkan apa arti pentingnya air dalam hidupku dan akan mensyukuri setiap tetesnya. Jadi jika sejak dulu hingga beberapa saat yang lalu air adalah kehidupan bagiku maka sekarang setetes bunyinya pun adalah anugerah teridah yang diberikan Allah untuk kami. Jika aku mendengar bunyi tetesan air, itu seperti mendengar kehidupan yang sedang berjalan. Yap kehidupan. Air yang keluar dari kran dikamar mandi menandakan aku tidak perlu angkat mengangkat, aku bisa mandi, memasak, mencuci piring dan kain, dan yang terpentingg dengan adanya air yang tetap konstan didalam tubuhku maka jantung ini masih tetap berbunyi dan berdetak karena masih ada darah yang harus di pompanya. Dan itu artinya aku hidup dengan sepenuhnya hidup. Yah semoga saja PDAM cepat selesai dan air bersih dapat mengalir dengan deras lagi kerumah kami. Air yang membuat rumah dan penghuni rumah ini lebih hidup lagi.

Aku tidak akan menyia-nyiakan air lagi dan akan mensyukuri setiap tetesnya dan kebersamaan dengannya, akan patuh mematikan keran jika tidak dibutuhkan, tidak sembarang membuang air saat mandi atau memasak, tidak mencemari tanah dengan membuang sampah sembarangan dan akan rajin minum air setiap hari.

dismenore

Dengan berbekal sebuah kursi, sebuah bantal dan sebuah sarung serta di dukung dengan lampu jalan yang mati aku duduk di antara pepohonan ayah yang mulai rindang, sambil menatap langit malam yang pekat. Pekat, kelam dan hanya di terangi dengan kerlap kerlip bintang. Diatas sana ada ribuan jumlahnya yang tidak sanggup ku hitung. Tersusun acak dan berterbaran. Seperti melihat mutiara yang berkilau. Semakin dipandang dan dirasakan semakin kita masuk kedalamnnya. seolah untuk sesaat aku tidak ada lagi di bumi tapi berasa berada diluar angkasa. Membaur dengan alam sehingga Hanya ada aku, bintang dan langit yang gelap.  Sungguh begitu indah Allah menciptakan alam ini.

Aku galau malam ini? Tidak. Jika aku sedang galau maka aku akan termakan dengan pekatnya malam dan kilauan bintang. Tapi saat ini aku sedang sakit perut karena mestruasi (dismenore bahasa kedokterannya) dan aku sedih mengingat ayah yang sedang sakit. Jadi, menatap bebintang di langit dapat sedikit membuat ku lupa bagaimana rasanya sakit dan membuat aku sedikit lega dengan bercerita tentang ayah kepada bintang malam ini.

Umur ku sudah 22 tahun. Dan aku sudah menstruasi sejak umur 13 tahun. Jadi sudah 9 tahun di setiap bulannya aku merasakan nyeri yang menyayat hingga ketulang. Nyeri yang datang di setiap bulan. Dismenore. Walau hampir setiap bulan aku bertemu dan merasakan sensasi nyerinya, tetap saja aku belum terbiasa sehingga  tidak merasa lupa kalau dia ada. Yap, aku selalu kesakitan yang amat sangat jika dia datang.

Ketika SMP kalau dia datang aku pasti pulang, di SMA pun tidak jauh berbeda. Aku selalu pulang. Tapi sekarang? Saat aku sedang dalam kepanitraan klinik. Aku tidak punya alasan untuk pulang saat dia datang menyerang. Aku hanya punya cara untuk “terus bergerak”. Inilah teori baru yang aku temukan.

Berawal dari suatu kejadian. Ketika dia datang disuatu bulan sungguh aku tidak merasakan sakit sama sekali saat itu. Sedikit pun tidak. Setelah aku cerna dengan seksama. Ternyata bulan ini aku bergerak dengan sangat aktif. Maka jika ingin bulan depan aku sehat dan seperti ini lagi, aku harus olah raga. Itu pikirku. Tapi itu tinggal rencana. Karena aku tidak punya waktu untuk itu. ujung ujungnya jika sakit melanda aku berpergian. “terus bergerak” seperti yang aku bisa.

Waktu itu sakit ini datang malam hari. Sakitnya membahana. Dan aku tidak tau harus mengadu pada siapa. Akhirnya Aku hanya bercerita pada Sang Maha Kuasa sambil menunggu pagi tiba. Hingga ayam mulai berkokok pagi itu. aku  bergegas keluar rumah. Memakai pakaian olah raga. SUBUH buta. Seorang diri dijalan raya. Tapi aku tidak peduli. Nyeri ini amat sakit untuk didiamkan di rumah. Aku bergegas.

Apa yang kulakukan? Berjalan, menelusuri jalan sepanjang yang aku bisa, menghirup udara pagi sebanyak yang aku mampu, memandang langit yang masih bertambur bintang dan bulan,dan terus berjalan. Melupakan sakit ini. Sakit yang mengaduk perut. Hingga subuh berakhir dan matahari mulai tampak. Aku beranjak pulang dengan membawa nyeri yang mulai menghilang. Oh nyeri ku.

Dan malam ini, dimalam pekat ini, nyeri itu datang lagi. Mengusik kebersamaan ku dengan ayah dan mamak. Tapi apa daya aku tidak kuasa menahannya. Hendak berjalan jalan? Ini bukan pagi buta yang biasa kalau orang jalan jalan pagi, ini malam. Aneh rasanya anak dara jalan jalan malam. Hahaha. Akhirnya di  tengah ke kalutan melawan nyeri aku duduk di gelap malam dengan bermodal sebuah kursi, bantal, dan sarung dengan mendekap kaki ke tubuh, berusaha menjepit perut untuk menghilangkan nyeri dan menatap langit. Menatap tatanan Allah di angkasa raya. Dan untuk kesekian kalinya aku terposa dan aku terhipnotis karenanya. Nyeri ini menguap pelan walau tidak sempurna hilang.

Esok paginya. Mamak memberi saran untuk minum jamu. Mungkin beliau sudah amat sayang melihat anak gadisnya membekuk ditengah malam menatap langit sambil meringis kesakitan. Akhirnya di pagi buta bahkan sebelum anak anak SD berangkat sekolah aku sudah berhasil minum segelas jamu yang aku bahkan tidak tau rasanya apa. Penawar sisa nyeri ini. Tapi dari seluruh rangkaian cerita dan upaya yang sudah aku usahakan ala kadarnya, sungguh aku ingin sekali lepas dari nyeri ini. Nyeri yang menyiksa hingga ketulang ini. Karena jika sekarang aku mulai berjalan jalan pagi, menatap langit, minum jamu? Apa lagi langkah selanjutnya? Sungguh aku tidak tau.

sare Aceh

“berapa jagung buk”, tanya ku.

“tiga lima ribu dek”, kata ibu penjual jagung.

“kasih 20 ribu ya”,”kalau kacang berapa satu ikat?”

“lima ribu 4 ikat”, kata penjual kacang.

“yaudah, kasih 10 ribu ya”.

“kalau ubi berapa satu kilo?”

“8 ribu”, kata kakak penjual ubi.

“yaudah, kasih satu kilo ya”, kata ku. Inilah transaksi jual beli. Aku selesai dengan belanjaan ku dan membawa sekantung besar berisi berbagai macam jenis buah-buahan.  Jangan mengira aku sedang berwisata ke tempat yang berlimpah buah-buahannya dan sekarang aku sedang membeli oleh-oleh disana. Tidak aku tidak dalam suasana jalan-jalan manis manja. Tapi aku sedang dalam perjalan pulang ke rumah. Menelusuri jalan Banda Aceh-Medan untuk sampai ke Lhoksukon. Dan tepatnya sekarang aku sedang berada di Sare.

Sare itu kota kecil yang terletak di salah satu dari serangkaian Gunung Selawah. Kota nya tidak begitu besar dan penduduknya juga tidak begitu banyak. Dan biasanya pun yang tinggal disana adalah pendatang. Karena letaknya otomatis lebih tinggi dari permukaan laut maka daerah itu termasuk daerah yang punya suhu dingin dan sangat bagus untuk pertanian makanya banyak penduduk disana yang bertani. Produksi mereka juga beraneka ragam mulai dari keripik berbagai macam rupa, olahan ubi berbagai macam aneka, buah-buahan rebus seperti jagung dan kacang rebus sampai semua buah mentah  seperti kacang, jagung, dan ubi. Yap, kota ini “kota kebun” bahasa sederhana ku. Jadi kalau melewati jalan ini pasti banyak yang berhenti untuk membeli buah-buahan atau sekedar oleh oleh. Dan aku termasuk salah satu diantaranya. Air disini juga sejuk. Kalau berkunjung kemari jangan lupa ke kamar mandinya untuk sekedar buang cuci muka ya!

Ibu ku? Tidak jauh berbeda dari ayah. Kalau ayah hobinya menamam di kebun, Ibuku hobinya makan hasil kebun. Jadi, setiap aku pulang kampung bawaan oleh-oleh ku tidak pernah yang aneh-aneh. Selalu dan hampir selalu jagung rebus, kacang rebus, dan ketela putih. Dan itu pesanan ibuku. Ibuku tercinta. Tidak pernah absen! Itulah yang membuat hampir disetiap perjalanan panjang ini aku pasti berhenti di kota ini, kota kebun, Sare. Dan setiap aku turun mobil sampai di rumah, aku tidak jauh beda seperti seseorang yang baru pulang dari kebun besar dengan membawa sekantung hasil perkebunan. Seolah tampak itu hasil Kebun ku sendiri. Hahahahaha.

Dan kali ini. Aku pulang ke loksukon bersama nenek ku. Dia sudah maklum dengan barang bawaan ku. Isi kebun semua. Yah, hanya beberapa hari saja aku bisa dirumah, esok aku akan kembali ke Banda Aceh bersama nenek ku lagi. Dan untuk kesekian  kalinya aku akan kembali menjadi anak kebun. Karena, Oleh-oleh yang akan aku bawa pulang ke Banda Aceh adalah satu kardus rambutan. Hahahaha. Jangan pikir rambutan itu dari hasil kebun sendiri ya. Karena kebun kami baru akan berpanen raya setidaknya 5 tahun lagi. Jadi sekardus rambutan itu adalah hasil beli di pasar.

Pukul 4 sore aku kepasar dan membeli 10 ikat rambutan. Seisi pasar melihat ku aneh. Sampe sampe si kakak jualan  bertanya

“ada maulid dirumah ya dek, rambutannya banyak sekali?”

Aku tersenyum malu ,”iya” jawab ku. Geli rasanya mendengar pertanyaan kakak tadi dan melihat 2 kantung rambutan yang entah bagaimana caranya aku bawa pulang dengan selamat di sore hari ini.

Yah, tapi akhirnya aku berhasil pulang dengan selamat ke rumah, semua rambutan itu sudah aman di dalam kardus. Besok insyallah aku kembali ke banda aceh. Dengan nenek dan sekardus rambutan.

Aku pikir agenda buah ini selesai, cukup dengan 2 kardus rambutan. Tapi ternyata tidak, karena tiba tiba mamak berpesan.

“nanti nong berhenti di Sare ya, beli aja jagung rebus 20 ribu untuk oleh-oleh di kampung nenek”, kata mamak.

“iya”, jawab ku sambil tersenyum simpul.

Aku pulang dengan sekantung jagung rebus, kacang rebus dan ubi dan aku kembali dengan jagung rebus ditambah sekardus rambutan merah. Oh, sungguh aku seperti jurangan kebun besar. Hahahaha. *semoga saja.